Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Perihal Bentuk-Bentuk Teror*

Published 01/01/2015 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

Oleh : Khaled Abou el-Fadl

abou el-fadhlTeror melumpuhkan perasaan dan membekukan akal. Kelincahan gerak tubuh beringsut ketakutan dan akal berupaya keras untuk memahaminya. Seperti penyakit, teror adalah keadaan kacau balau. Seperti kesehatan, kedamaian adalah ketentraman yang penuh semangat. Tapi teror jarang menjadi tujuan atau sasarannya sendiri.

Ketakutan-mencekam yang dilihat seorang teroris di mata korbannya bukanlah tujuannya. Tujuannya adalah akibat buruk setelah teror itu, ketika kepanikan mereda dan ketakutan timbul. Terorisme adalah pesan simbolis yang dikomunikasikan melalui kekerasan. Kaum yang lemah berjuang keras mengomunikasikan penolakan mereka untuk menyerah, sedangkan kaum yang kuat berusaha keras mengomunikasikan tuntutan mereka untuk menyerah. Sebenarnya, kaum lemah hanya mengomunikasikan ketidakberdayaan-mereka yang mengenaskan, dan kaum kuat mengomunikasikan dominasi-mereka yang tak terkekang.

Berita-berita beredar masih tentang serangan teroris yang lain. Teror menyerbu ketentraman penuh semangat yang ada dalam musyawarah dan menimbulkan kekacauan yang luar biasa. Menurut sifatnya, teror adalah penghentian penggunaan nalar, dan tanpa keseimbangan nalar, Musyawarah ini terhenti. Menurut esensinya, kemampuan untuk bernalar berarti kemampuan untuk memahami dan membedakan. Teror tidak mencari pemahaman maupun perbedaan; teror berusaha menggeneralisasi dan menstereotipkan korbannya. Teror mengingkari korbannya memiliki nilai yang berasal dari perbedaaan kepribadian dan mengubah individu menjadi suatu sebab.

Para ahli hukum Islam berbicara tentang penjahat yang mengincar kaum tak berdaya dan lemah, yang menyerang secara tiba-tiba dan tanpa pandang bulu, dan yang menggunakan teror sebagai metode utama untuk mencapai tujuannya. Mereka menyebutnya muharib. Penjahat seperti ini dinyatakan sebagai yang paling keji dan tidak patut mendapat ampunan. Fakih Ibnu Rusyd al-Jadd (w.520 H/1126 M), kakek filsuf besar Ibn Rusyd, menetapkan bahwa seorang penjahat yang meneror manusia di rumah mereka adalah seorang muharib, dan Ibn al-Arabi (w.543 H/1148 M), fakih Maliki, menyatakan bahwa seorang pemerkosa adalah seorang muharib juga. Teks-teks dalam musyawarah ini penuh dengan wacana tentang kejahatan fitan (perselisihan sipil) dan doa mohon perlindungan dari keadaan teror, karena dalam keadaan ketakutan dan teror, dan ketika keamanan tidak ada, mereka menyatakan, “Doa maupun pemikiran tidak bisa dilakukan sebagaimana mestinya dan sunnah Tuhan di muka bumi ini tidak berjalan.”

Di zaman sekarang, ada banyak alasan mengapa doa atau pemikiran tidak dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Begitu banyak orang yang hidup dirundung ketakutan yang akhirnya membuat akal sehat membeku. Kebahagiaan lebih merupakan sikap tidak peduli yang diterima ketimbang respons rasional terhadap realitas. Orang hidup dengan penuh ketakutan yang jauh lebih nyata dan jauh lebih menjemukan ketimbang ancaman serangan teroris. Ketakutan menjadi berkurang dalam jumlah atau statistik, masuk dalam persentase kelompok pengangguran, orang bangkrut, dan tunawisma, yang semuanya masih selalu ada. Bagaimanapun juga para ahli hukum Muslim benar. Seorang penjahat yang mengincar penduduk sipil, dan menyerang tiba-tiba dan tanpa pandang bulu, memang benar-benar keji. Mereka yang menggunakan teror sebagai metode utama berkomunikasi adalah orang yang tercela.

Namun demikian, pengguna kekerasan sebagai alat berkomunikasi tidak hanya teroris yang kejam. Teroris intelektual juga sama kejinya. Teroris intelektual adalah pemeras emosi. Teroris-teroris ini, yang kerap kali bersikap diskriminatif terhadap ras, jenis kelamin, kelas, atau fanatik dalam beragama, menggunakan bahasa teror. Mereka menggeneralisasi dan mengesensialkan suatu bangsa, lalu menjadikannya sebagai suatu fenomena. Mereka menciptakan rasa takut dan teror terhadap korbannya dan memaksa mereka terdiam ketakutan.

Saya mendengarkan aliran tanpa henti perbincangan tentang bangsa Arab dan kaum muslim serta ancaman teroris. Banyak sekali para oportunis politik, pencari karir, pemburu gosip, dan teroris intelektual yang menyebarkan bualan kata-kata sambil merasa benar sendiri tentang Islam politik, Islam militan, dan kekuatan jahat fundamentalisme. Seluruh bidang simbolis Islam—panggilan salat, posisi sujud dalam salat, jilbab—secara konsisten digunakan dan dikaitkan dengan sikap tidak ramah dan menakutkan. Dalam demam pangulasan tentang yang-serba-muslim, selalu ada isyarat tentang kelompok yang ganjil, misterius, dan tidak dikenal. Sebagian teroris yang secara intelektual kurang canggih tidak sungkan-sungkan memberikan sebuah kata sifat untuk kata Islam dan langsung berbicara tentang ancaman Islam atau kekerasan muslim. Satu-satunya emosi dan perasaan yang secara berketerusan ditunjuk dan dimunculkan pada pendengar mereka adalah emosi ketakutan dan perasaan teror. Pendengar didorong supaya takut dan membenci kaum muslim, dan kaum muslim didorong untuk hidup dalam ketakutan.

Saya merasakan derita heningnya musyawarah dan lumpuhnya nalar. Kaum muslim telah distereotipkan serta digeneralisasi dan mereka mengalami penderitaan terorisme dalam bentuk yang berbeda, teror dipecat dari pekerjaan, diserang di jalanan, dilecehkan dan diskriminasikan. Mereka takut brutalisasi yang menimpa bangsa Bosnia dan Kashmir—eksekusi, pemerkosaan, dan ketidakacuhan dunia. Saya berdoa semoga musyawarah buku akan berbicara lebih keras daripada sebelumnya. Satu-satunya respons dan penawar untuk teror kebodohan adalah ketentraman nalar. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : Khaled Abou el-Fadl, Musyawarah Buku.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account