Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Kajian Islam

Beginilah Jika Kamu Berdosa! (3)

Published 25/02/2014 7 Min Read
Share
7 Min Read
SHARE

 

tobatSecara umum ada dua jenis dosa yaitu dosa yang bersifat akhlak (dzanb akhlaqi) dan dosa yang bersifat perbuatan (dzanb ‘amali).

Dosa yang bersifat akhlak adalah akhlak yang keji dan sifat yang buruk yang mengotori jiwa manusia, memalingkannya dari jalan yang lurus dan menghalangi dalam upaya mencapai kedekatan dan perjumpaan dengan Allah swt. Keburukan akhlak, apabila mengakar dan melekat pada jiwa, secara perlahan akan menjadi sifatnya dan bahkan akan mengubah hakikat kemanusiaannya. Dosa akhlak ini antara lain adalah riya, kemunafikan (nifaq), amarah, takabur, ghibah, fitnah, hasad, dusta, ingkar janji, bakhil,tabzir, cinta dunia,  dan lainnya. Dosa-dosa ini dibahas dengan panjang dalam kitab-kitab akhlak. Obat bagi dosa-dosa ini adalah tobat dengan jalan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs).

Adapun dosa yang bersifat amali adalah perbuatan melanggar perintah yang diwajibkan atau melakukan yang diharamkan oleh syariat seperti membunuh, mencuri, zina, riba, gashab, minum khamr, memakan yang haram, berjudi, meninggalkan kewajiban seperti salat dan puasa. Semua dosa-dosa ini dibahas umumnya dalam kitab-kitab hadits dan fikih. Jika kita melakukannya maka kita harus tobat dari dosa-dosa tersebut sesuai dengan penjelasan di atas (Ibrahim Amini, Risalah tasawuf, 2002: 195-196).

Bagi para sufi, selain harus menjauh dari kedua jenis dosa di atas, terdapat lagi “jenis dosa” lainnya. Umpamanya meninggalkan perkara-perkara sunnah dan mengerjakan yang makruh, memikirkan perbuatan dosa, bahkan melalaikan Allah (ghuflah). Secara fikih hal-hal tersebut tidak tergolong maksiat yang menyebabkan dosa, tetapi bagi para kekasih Allah, wali Allah, ataupun para sufi, hal-hal tersebut adalah kesalahan atau ketidakpatutan dan dianggap “dosa”. Dzun Nun al-Mishri membedakan antara tobatnya orang awam dengan taubatnya orang khusus. Tobatnya orang awam, kata Dzun Nun, adalah tobat dari dosa-dosa (dzunub), sedangkan tobatnya orang khusus adalah tobat dari kelalaian mengingat Allah (ghuflah). An-Nuri mempertegasnya dengan mengatakan tobat adalah proses pelaksanaan tobat dari segala sesuatu selain Allah. Sedangkan Abdullah at-Tamimi berkata, “sungguh jauh perbedaan di antara orang yang bertobat. Ada orang yang bertobat dari dosa besar dan dosa kecil. Ada yang bertobat dari keteledoran dan kelalaian. Dan ada orang yang bertobat karena memandang kebaikan dan ketaatan yang dilakukannya” (al-Qusayri, Risalah Qusyairiyah, 2007: 123).

Ungkapan para tokoh sufi ini menunjukkan bahwa tobat tidak hanya bagi pelaku dosa tetapi juga pelaku kebaikan dan ketaatan. Mungkin kita heran mengapa orang-orang taat dan berbuat baik juga bertobat,karena bagi kita tobat hanya berlaku bagi para pendosa? Namun jika kita menyadari bahwa perbuatan baik yang kita lakukan bisa jadi jauh dari kesempurnaan dan kurang adab, maka kita sudah selayaknya pula untuk bertobat. Bukankah Allah berfirman, “celakalah orang-orang yang salat, yang mereka lalai dalam salatnya. Dan mereka riya” (Q.S. al-Maun: 4-5). Kecelakaan ternyata bukan hanya pada orang-orang yang meninggalkan salat, tetapi juga pada orang-orang yang salat, karena mereka lalai dalam salatnya. Boleh jadi lalai dalam waktunya, lalai dalam kedisiplinannya, lalai dalam konsentrasi fisik, maupun lalai dalam konsentrasi hatinya (khusu’).

Begitu pula boleh jadi kita salat bukan karena dan untuk Allah, tetapi karena dan untuk yang lainnya, misalnya karena dan untuk mendapat pujian manusia misalnya, karena dan untuk mendapatkan harta, jabatan, status sosial dan lainnya. Pada posisi ini kita telah berbuat riya. Jadi, dalam ketaatan pun masih terdapat kecelakaan. Boleh jadi, kita selamat dari dosa yang bersifat perbuatan (dzanb amali), tetapi terjebak dalam dosa yang bersifat akhlak (dzanb akhlaqi). Jika kita tidak salat, kita terkena dzanb amali. Dengan mengerjakan salat, kita terhindar dari dzanb amali. Akan tetapi bisa jadi kita riya dalam salat, yang berarti kita terkena dzanb akhlaqi. Karenanya, jika kita tidak ingin celaka, maka sebaiknya melakukan tobat juga dalam setiap ketaatan.

Lebih jauh, bagi para sufi, satu-satunya yang layak untuk diingat adalah Allah. Adakah yang lebih layak diingat selain Allah? Apakah harta,jabatan, atau keluarga kita lebih layak diingat dan diperhatikan daripada Allah? Apakah perniagaan dan pekerjaan kita lebih layak diingat dari pada Allah? Jika kita menjawab tidak, maka mengingat sesuatu selain Allah adalah kerugian dan kekotoran pikiran dan hati kita. Untuk itu kita perlu bertobat dari keburukan hati dan pikiran kita.

Dengan demikian, orang-orang bertobat pada dasarnya memiliki tingkatan sesuai dengan keadaan dirinya. Imam Ja’far Shadiq salah seorang gurunya para sufi berkata, “setiap kelompok di antara hamba-hamba Allah memiliki tobat tertentu. Tobat orang-orang khusus adalah bertobat dari perbuatan yang membuat mereka menyibukkan diri kepada selain Allah. Adapun tobat orang awam adalah bertobat dari dosa-dosa.” Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Karena tobat, Allah membentangkan inayah-Nya dan setiap hamba harus senantiasa bertobat dalam segala keadaan. Setiap kelompok dari hamba-hamba Allah memiliki tobat. Tobatnya para nabi ialah keguncangan rahasia. Tobatnya para wali adalah pencemaran resiko-resiko. Tobatnya kaum sufi ialah dari menghibur diri (tanfis). Tobatnya kaum khusus (khas) adalah dari sibuk dengan selain Allah. Dan tobatnya kaum awam adalah dari dosa.”

Merujuk pada perkataan di atas maka tobat pada dasarnya dilakukan oleh seluruh manusia, yang berdosa maupun yang tidak berdosa. Allah berfirman, “Dan tobatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” (Q.S. an-Nur : 31). Begitu pula tobat dapat meningkatkan derajat manusia, menarik limpahan ridha dan kecintaan Allah swt, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang mensucikan dirinya” (Q.S. al-Baqarah : 222).Karena itulah para nabi yang diyakini terbebas dari perbuatan maksiat dan dosa (maksum) juga melakukan tobat. Bahkan Rasulullah saaw yang merupakan puncak kesempurnaan dan pemimpin para Nabi bersabda, “wahai manusia, bertobatlah kamu kepada Allah dan mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya setiap hari sebanyak seratus kali.” (H.R. Muslim). Jika Nabi Muhammad saaw saja setiap harinya bertobat dan memohon ampunan kepada Allah seratus kali, lantas bagaimana dengan kitayang diliputi dosa-dosa? Wallahu a’lam. (CR/liputanislam.com)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Kajian Islam

Hakekat Dzul Qarnain

By Rachel
Kajian Islam

Citra Buruk Yahudi dalam Al-Quran

By Farid
Kajian Islam

Mendekati Tuhan dengan Menjadi Orang yang Berilmu

By Farid
otong sulaiman
Kajian Islam

Falsafah Kematian: Mengenang Gugurnya Soleimani

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account