Foto: Mehdinews.com

Foto: Mehdinews.com

“Di Iran Ahlussunah dibantai ! Iran adalah sekutu Amerika Serikat dan Israel ! ”Begitulah yang sering dilontarkan oleh kelompok Takfiri berulang-ulang, dan berbagai bentuk propaganda lainnya. Dan dalam sekejap saja, hal tersebut disebarluaskan secara masif melalui media masa, berlanjut dengan penyebaran brosur, spanduk dan baliho besar di titik-titik tertentu. Tidak cukup sampai disitu, propaganda tersbut juga dilakukan di mimbar-mimbar masjid, acara pengajian-pengajian hingga kampus.

Sejatinya, tidak perlu berkunjung ke Iran untuk bisa mendapatkan data valid tentang keberadaan/ situasi hidup bermasyarakat di Iran. Jaman sekarang sudah sangat canggih, yang mana mengakses informasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Hanya saja – ada oknum yang telah menutup hatinya dengan kebencian, sehingga tidak akan bersedia menyaring informasi yang simpang siur dengan akal sehat. Walau begitu, kebenaran tetap harus disampaikan. Kali ini, Liputan Islam akan menghadirkan kesan-kesan dari dr . Adma Gunawan SpPd. KGH (Spesialis Penyakit Ginjal & Hipertensi [Nephrologist), yang melakukan kunjungan ke Iran pada 11-14 Mei, difasilitasi oleh Novartis (salah satu perusahaan farmasi Iran) , dan kunjungan ini dalam rangka menghadiri National Kidney Transplant Meeting di Tehran. Beliau menuturkan sebagai berikut, bagian kedua:

Baca juga bagian pertama.

Kelima, dalam hal kepemimpinan setelah Rasulullah, mazhab Syiah di Iran berbeda pendapat dengan Sunni .Secara de jure mereka hanya mengakui Sayidina Ali, disebut Imam Ali, sebagai Khalifah. Ada 12 Imam selain Ali yg mereka akui dan hormati. Di sinilah bermulanya perpecahan dan terbentuknya Syiah dan Suni. Namun, sama sekali mereka tidak mengkafirkan Khalifah Abu Bakr, Umar atau Ustman. Sama halnya mereka menganggap penganut Sunni lainnya sebagai sesama saudara Islam. Waktu kami datang ke Iran bertepatan dengan hari kelahiran Ali bin Abi Thalib dan hari tersebut merupakan hari libur. Mereka menyebutnya Father’s Day.

Keenam, orang Iran beranggapan bahwa Imam-imam yang 12 tersebut dan Imam lainnya (termasuk Khomeini ) adalah kekasih Allah dan mendapat karomah, sehingga berdoa saat menziarahi maqam mereka, bisa jadi perantara untuk lebih dikabulkan doa. Namun kepercayaan mereka tetap tauhid, bahwa Allah Esa- lah sang pengabul dan tempat bermohon. Ini mirip muslim di Indonesia , terutama kalangan Nahdliyin, yang berziarah ke makam-makam wali songo , atau ke makam Gus Dur.

Di Iran tradisi ziarah sangat kuat berakar. Kalau kita biasa ziarah saat Idul Fitri, disini hari Kamis dan Jum’at biasa ziarah. Pada hari tertentu, di kota suci Qom, di makam Khomeini , kota Karbala dan Najaf, dipenuhi jutaan warga Syiah utk ziarah dan seremonial doa. Kami mengunjungi kota Qom, masuk ke masjid dimana didalam masjid terdapat maqam Sayidah Maksumah dan Imam-imam besar lainnya. Terlihat banyak peziarah berjubel dan histeria menyentuh pagar maqam, hal yang sama ketika kita melihat jamaah haji memegangi Kabah. Inilah yg oleh kalangan Sunni – Salafi dianggap bisa menjerumuskan kepada hal syirik.

Menarik , dalam masjid tersebut dipenuhi dgn orang-orang yang belajar agama dengan dibimbing para Ayatullah. Qom adalah kota pendidikan  dan jihad. Terdapat 150 pelajar Indonesia yg belajar di Qom. Disinilah lahir Imam Khomeini. Kami juga mengunjungi rumah Khomeini yang di Tehran. Terletak masuk gang sempit di daerah penduduk padat, tersembunyi dibelakang sebuah musholla. Sangat kontras dengan setelah sebelumnya kami mengunjungi istana kerajaan Pahlevi (Syah Iran) yang bergelimang kemewahan.

Ketujuh, bilangan  shalat di Iran sama seperti di tempat lain yaitu 5 kali. Tetapi 5 shalat tersebut dilakukan dalam 3 waktu (meski bukan diwajibkan). Mereka punya dasar ayat dan hadis yang membenarkan hal itu. Dhuhur dengan Ashar di lakukan satu waktu, demikian juga Isya dan Maghrib . Biasanya dilakukan di awal. Kalau kita jamak, selesai satu shalat langsung lanjut shalat berikutnya, maka di Iran setelah shalat pertama dilanjutkan zikir dan shalawat, lalu shalat berikutnya. Rakaat shalat tidak dipendekkan, saat berdiri tidak bersedekap, tiap dua rakaat sebelum ruku membaca doa qunut, dan bacaan saat sujud dikeraskan. Sehingga saat sujud terdengar riuh.
Kedelapan, tentang nikah mut’ah. Menurut Ali, mahasiswa S2 Indonesia yng sudah 8 tahun di Qom, nikah Mut’ah dalam arti sebenarnya jarang ditemukan di Iran, karena pandangan masyarakat yg sudah maju dan berubah. Kalaupun ada tidak dalam arti nikah sebenarnya, yaitu semacam tukar cincin di Indonesia, namun dibuat ijab kabul seperti akad nikah, untuk mengikat. Keduanya belum boleh serumah atau seperti suami istri.

Namun menurut  tour guide saya, Laela, wanita muda dari Shiraz, kejadian nikah mut’ah masih ada walaupun jarang. Biasanya  pada kalangan bawah, non educated , miskin, karena motif ekonomi.
Poligami juga hal yang jarang terjadi di Iran, lebih dianggap sebagai aib. Karena disini peranan wanita yang dominan dan penduduknya modern. Di kabinet sekarang terdapat satu menteri dan 4 wakil menteri [perempuan] . Wanita menempati hampir semua sektor pekerjaan, mulai cleaning service, resepsionis , taxi driver, pramugari, tour guide, dokter, polisi, karyawan dan peg awai negeri.

Sembilan, masyarakat Iran sangat suka bersedekah . Di trotoar setiap lampu merah, penyeberangan jalan, depan toko-toko, didirikan kotak-kotak amal. Dipakai untukk sosial keagamaan. Di Iran dikenal ada religion tax, yaitu 20% dari penghasilan jasa dan barang. Itu masih ditambah pajak negara , tergantung pendapatan , dari 8-20%. Itulah mengapa Iran merupakan donator terbesar untuk Palestina, Rohingya Myanmar, dan negara miskin muslim lainnya. Komitmen mereka dalam membebaskan masjidil Aqsa dari cengkeraman Yahudi sangat kuat. Selain konsisten membantu pejuang Hizbullah dan Paletina, hampir tiap kota ditemui masjid besar bentuknya replika dari masjidil Aqsa. Ini untuk menanamkan kesadaran bangsa Iran bahwa perjuangan mereka belum selesai sampai masjidil Aqsa dibebaskan dari Israel.

Penduduk Iran sangat ramah dan suka membantu. Kalau bicara selalu sambil senyum. Senang memberi info bila kita bertanya. Seorang petugas resto sampai meninggalkan resto untuk mengantarkan team kami menunjukkan ruang hospital yang kami cari. Namun dalam karakter berlalu lintas mereka tidak sabar, sehingga jalanan semrawut , rem mendadak, memotong seenaknya, tanpa memberi isyarat , selalu mepet.

Kesepuluh, jumlah penduduk Iran sekitar 75 juta jiwa. Semua laki-laki , sebelum selesai kuliah, harus masuk wajib militer selama 1.5 tahun. Dengan begitu mereka punya kekuatan cadangan militer yang bisa bertempur dlm jumlah yang sangat besar. Saya amati pemuda2disana berbadan tegap dan percaya diri. Iran juga punya jutaan sukarelawan berani mati yang siap maju bila dibutuhkan. Mereka berhimpun dalam organisasi-organisasi masyarakat.

Seandainya muslim Ahlussunah memang dibantai tentu akan disampaikan, seandainya Iran sekutu Israel — pastinya juga akan disampaikan. Namun ternyata,  hal demikian tidak disebutkan. Pembaca tentu bisa menilai, apakah informasi dari dr . Atma Gunawan layak dipercaya atau tidak. (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL