Foto: Mehdinews.com

Foto: Mehdinews.com

“Di Iran Ahlussunah dibantai ! Iran adalah sekutu Amerika Serikat dan Israel ! ”Begitulah yang sering dilontarkan oleh kelompok Takfiri berulang-ulang, dan berbagai bentuk propaganda lainnya. Dan dalam sekejap saja, hal tersebut disebarluaskan secara masif melalui media masa, berlanjut dengan penyebaran brosur, spanduk dan baliho besar di titik-titik tertentu. Tidak cukup sampai disitu, propaganda tersbut juga dilakukan di mimbar-mimbar masjid, acara pengajian-pengajian hingga kampus.

Sejatinya, tidak perlu berkunjung ke Iran untuk bisa mendapatkan data valid tentang keberadaan/ situasi hidup bermasyarakat di Iran. Jaman sekarang sudah sangat canggih, yang mana mengakses informasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Hanya saja – ada oknum yang telah menutup hatinya dengan kebencian, sehingga tidak akan bersedia menyaring informasi yang simpang siur dengan akal sehat. Walau begitu, kebenaran tetap harus disampaikan. Kali ini, Liputan Islam akan menghadirkan kesan-kesan dari dr . Atma Gunawan SpPd. KGH (Spesialis Penyakit Ginjal & Hipertensi [Nephrologist), yang melakukan kunjungan ke Iran pada 11-14 Mei, difasilitasi oleh Novartis (salah satu perusahaan farmasi Iran) , dan kunjungan ini dalam rangka menghadiri National Kidney Transplant Meeting di Tehran. Beliau menuturkan sebagai berikut, bagian pertama:

Pertama, embargo negara barat terhadap Iran terjadi sejak revolusi Islam tahun 1979, jadi sudah 35 tahun lamanya. Namun dampak ini membawa berkah. Negara ini menjadi mandiri. Mereka mengalami kemajuan pesat dan tidak tergantung negara luar dalam hal militer (memproduksi pesawat  jet, helikopter , drone atau pesawat tanpa awak, missile jarak sedang dan jauh), tenaga nuklir, manufaktur , pengeboran minyak (oil rig), sandang pangan, dan kesehatan.

Mereka juga punya manufaktur sendiri untuk mobil, lebih 50% mobil dijalan raya adalah produk negara ini. Iran surplus dalam beras dan gandum, dihasilkan oleh daerah bagian utara Iran. Kalau kita terbang dari Isfahan ke Tehran maka terlihat dibawahnya terhampar pertanian hijau yang diairi.

Kedua, dalam hal kesehatan jauh lebih maju dari Indonesia. Kami melihat exhibition alat kesehatan pada saat ada national kidney transplant meeting di Tehran. Mereka memproduksi sendiri peralatan operasi dari hal sederhana seperti handschoen, tubing, catheter (termasuk utk angioplasty ), dialyzer, surgical set Orthopedi dan urologi , laparaskopi , peritoneuscopi , laringioscope. Hormon erythropoetin (di Indonesia jadi obat mahal dan import semua), di Iran ada 3 farmasi yg memproduksi sendiri hormon tersebut. Mereka sudah lama punya asuransi seperti BPJS, sehingga  hemodialisis (HD) adalah free, termasuk dapat erythropoetin. Kebutuhan  mesin HD disini terpenuhi, sehingga pasien semua dapat HD sesuai standar 3 kali seminggu (di demua unit HD kita –Indonesia — hanya bisa 2 x seminggu, itupun kurang dari 60% pasien).

Iran menduduki urutan ketiga dalam hal jumlah pasien transplantasi ginjal setelah AS, Brazil ( data journal Int. Kidney May 2009), dan ke-empat di atas AS dalam hal jumlah dibandingkan popolasi penduduk . Untuk negara-negara midle east, Iran adalah tertinggi dalam hal deceased (non living) donor kidney transplant diatas Turkey dan Arab Saudi. Kami mengunjungi Hashemi Nezhad Hospital , dan juga bertemu urologist transplant surgeon dari Shariati hospital . Rata-rata dari RS tersebut tindakan kidney Transplant sebanyak 120-150 pasien per tahun, 2-3 pasien per minggu, dan 25-50% adalah dari deceased donor.

Ketiga, Iran adalah negara Islam, resmi menyebut Republik Islam Iran.  Dengan  Islam mazhab Syiah dijadikan sebagai agama resmi negara. Konsep Islam diterapkan dalam semua aspek kehidupan, tidak hanya di pribadi. Pemimpin tertinggi adalah Supreme Leader, yang disebut Imam (Ayatullah). Posisinya berada di atas Presiden Iran saat ini, Hassan Rouhani. Di  pagar-pagar dan tembok semua kantor pemerintahan , termasuk bandara dan dalam pesawat, di tempeli tulisan ayat-ayat Al-Quran.

Polisi tak hanya berperan menjaga keamanan, tapi juga polisi shariah, yang menangkap pelanggar agama. Pornografi dan pornoaksi di media cetak, TV, iklan di jalan, mall, jalan , tempat wisata, taman, hampir tak ada. Di taman, di jalan, tak terlihat orang laki wanita bergandengan tangan, berpelukan, berciuman. Internet di sensor ketat, Twitter dan Facebok diblokir. Saya mencoba memasukan kata apapun yang berbau pornografi , coba Twitter dan Facebook , akan berakhir ke web pemerintah yang berisi larangan dan terblokir. Berjabatan tangan laki dan wanita dilarang dan tak pernah saya lihat di depan umum. Di TV, saat shalat shubuh, terlihat siaran langsung Presiden Iran Hassan Rouhani memimpin shalat jamaah di musholla kecil.

Keempat, jilbab di Iran diwajibkan. Semua wanita pegawai pemerintah mengenakan jilbab yg menutup semua bagian rambut, termasuk polisi dan pramugari. Bahkan semua turis asing non muslim wanita, tak terkecuali, harus pakai jilbab. Terlihat pemandangan lucu , karena turis wanita dari Eropa, Jepang, Cina, mengenakan jilbab sekenanya karena canggung. Meskipun pemerintah Iran memasang iklan cara berjilbab yg benar , namun sebagian wanita muda  di kota besar masih memperlihatkan rambut bagian depan. Dan ini dibiarkan saja oleh polisi shariah Iran. Tetapi semuanya mengenakan baju mantel yang menjulur sampai bawah lutut . Sehingga tidak terlihat lekuk tubuh seperti kebanyakan wanita berjilbab di Indonesia.

Bersambung ke bagian kedua

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL