LiputanIslam.com — Pada awal Februari, Liputan Islam menurunkan artikel yang berjudul “Nama Khalifah Umar Dijadikan Nama Jalan di Iran.” Tak disangka, ternyata tulisan tersebut mendapatkan teguran dari Voa –Islam, sebuah situs yang menurut aktivis muda NU dari berbagai kalangan adalah situs penebar kebencian yang mengatasnamakan Islam. Propaganda dan fitnah dari Voa-Islam sudah sangat sering kami kupas secara mendalam, dan bisa di baca kembali di link-link berikut ini:

1. Fitnah Voa Islam atas Grand Mufti Suriah

2. Fitnah Voa Islam atas Ayatullah Khamenei

3. Fitnah Voa Islam atas kematian putra Mufti Suriah

4. Meluruskan makna mulkulturalisme yang ‘dicompang-campingkan’ oleh Voa Islam

5. Voa Islam vs Kabar Islam

Tanggapan LI akan ditulis menjadi beberapa bagian, dan ini adalah bagian keempat.

Voa Islam menulis: “Apakah Liputan Islam tidak mengetahui bahwa makam pembunuh Sayyiduna Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu di Iran diagungkan oleh kaum syiah imamiyah. Di daerah Bagh-e Fein kota Kashan terdapat makam yang dinisbatkan kepada Abu Lu’lu’ah Fairuz. Terlepas ini makam benar atau tidak terbaringnya jasad Abu Lu’lu’ah si pembunuh Khalifah Umar. Di makam itu mereka ditulis Baba Syuja’uddin sebagai gelar yang diberikan oleh syiah kepada pembunuh Umar itu.”

 

Tanggapan Liputan Islam

makam abu lulu

Sumber foto: persianblog.ir

Di kota Kashan yang termasuk ke dalam wilayah Provinsi Isfahan, Iran, terdapat sebuah bangunan makam yang diyakini sebagai tempat dikuburkannya Abu Lu’lu’. Siapakah Abu Lu’lu’? Ada tiga pendapat berbeda mengenai identitas Abu Lu’lu’ ini. Perbedaan pendapat ini berbarengan juga dengan perbedaan sikap atau perlakuan terhadap orang yang dikuburkan di tempat ini.

Pendapat pertama berasal dari orang-orang Syiah garis keras yang menyatakan bahwa Abu Lu’lu’ adalah pembunuh Khalifah Umar bin Khaththab. Menurut pendapat pertama ini. dia adalah orang Iran. Awalnya, dia adalah tawanan perang dalam kasus penaklukan Kerajaan Persia oleh tentara Muslim. Abu Lu’lu yang aslinya bernama Feiruz hampir saja dibunuh oleh Khalifah Umar gara-gara enggan masuk Islam. Akan tetapi, berkat protes keras Imam Ali, Abu Lu’lu’ terbebas dari pembunuhan. Ia ditebus oleh Imam Ali dan menjadi budak beliau. Saat menjadi budak itulah Abu Lu’lu’ masuk Islam dan menjadi pengikut setia Imam Ali.

Masih menurut versi kelompok Syiah garis keras, Abu Lu’lu kemudian mendengar kisah kematian Sayyidah Fathimah, istri Imam Ali, dan keterlibatan Umar dalam proses kematian beliau. Lalu, Abu Lu’lu’ melakukan pembunuhan atas Khalifah Umar sebagai bentuk balas dendam. Seterusnya, atas saran Imam Ali, Abu Lu’lu disuruh melarikan diri ke negeri asalnya, yaitu Iran (sumber:abulolo.persianblog.ir).

Sampai sekitar enam tahun yang lalu, kuburan Abu Lu’lu sering diziarahi oleh orang-orang Syiah garis keras itu. Jumlah mereka bisa dikatakan sangat minoritas. Jika makam-makam orang suci lainnya di Iran bisa dikunjungi sampai ratusan ribu orang per hari, maka makam Abu Lu’lu paling hanya diziarahi belasan orang saja per hari. Di hari-hari peringatan syahadah (hari wafat) dan wiladah (kelahiran) Sayyidah Fathimah, pengunjung kuburan ini menjadi banyak, sampai mencapai ratusan. Di hari-hari tersebut,  mereka melaksanakan acara pelaknatan terhadap Khalifah Umar (dan Abu Bakar), serta mengucapkan terima kasih kepada ruh Abu Lu’lu yang telah melakukan tindakan ‘balas dendam’.

Pendapat bahwa Abu Lu’lu yang dimakamkan di Kashan itu adalah pembunuh Umar juga diterima oleh kelompok takfiri. Inilah pendapat versi kedua.  Menurut kelompok takfiri, motif pembunuhan itu adalah dendam rasial Abu Lu’lu (mereka menyebutnya Abu Lu’lu’ah Majusi) sebagai orang Iran beragama Majusi terhadap Khalifah Umar yang merupakan orang Arab dan pemimpin Islam. Tentu saja, sebagaimana yang bisa kita baca di media-media sosial, kelompok takfiri menyebut perilaku sebagian kecil orang Syiah itu sebagai representasi seluruh orang Syiah. Takfiri menyebut isu Abu Lu’lu ini sebagai salah satu alasan untuk memerangi Syiah secara keseluruhan.

Pendapat dan sikap berbeda dikemukakan oleh mayoritas orang Syiah, termasuk para ulama besarnya. Menurut pendapat ketiga ini, Abu Lu’lu’ yang dimakamkan di Kashan bukanlah pembunuh Khalifah Umar. Sebagaimana yang disampaikan oleh Sekjen Majelis Internasional Taqrib Baynal Madzahib, Ayatullah Muhsin Araki, Abu Lu’lu yang dimakamkan di Kashan adalah seorang wali. Hanya saja, namanya memang secara kebetulan sama dengan nama pembunuh Khalifah Umar (sumber:taqrib.info). Kesamaan ini muncul karena keduanya memiliki anak perempuan bernama Lu’lu’.

Memang, kalau kita merujuk kepada kitab-kitab sejarah, sangatlah aneh mengaitkan makam Abu Lu’lu’ yang ada di Kashan dengan pembunuh Khalifah Umar. Sejarah Sunni mencatat, pembunuh Khalifah Umar adalah seorang yang bernama asli Hormozan. Setelah melakukan pembunuhan, ia ditangkap. Abdullah bin Umar sebagai waliyyud-dam (wali darah) ayahnya melakukan qishash atas Hormozan sebagai pembunuh Khalifah Umar (Tarikh Dimasyq,  Jilid 38 halaman 68, tarikh Thabari, jilid 2 halaman 302, Tariksh Ya’qubi, Jilid 2 halaman 161). Sejarah bahkan mencatat, proses hukuman mati atas Hormozan sangat sadis, yaitu dimutilasi. Imam Ali disebut-sebut melancarkan protes keras atas cara hukuman mati seperti itu. Akan tetapi, Khalifah Utsman yang menggantikan Umar enggan menanggapi protes tersebut (Al-Khara`ij wal-Jara`ih, Jilid 1 halaman 213). Jadi, bagaimana mungkin jenazah pembunuh yang sudah ditangkap, bahkan dimutilasi, bisa sampai dibawa dari Madinah ke Kashan yang jaraknya hampir 4.000 kilometer?

Meskipun pemerintah Iran meyakini bahwa makam yang ada di Kashan itu bukanlah pembunuh Umar, akan tetapi, mengingat kemaslahatan ummat, pihak yang berwenang secara resmi telah menutup komplek pemakaman Abu Lu’lu sejak tahun 2008 yang lalu. Pengertian ditutup di sini adalah: makam tersebut tidak boleh lagi dimasuki orang untuk berziarah, apalagi sampai mengadakan acara-acara yang berisi pelaknatan kepada simbol-simbol yang dihormati Ahlu Sunnah, yaitu Khulafaur-Rasyidin dan para istri Nabi. Kini, kawasan yang tadinya merupakan makam Abu Lu’lu sudah berubah menjadi kawasan Kantor Polisi Wilayah Kashan.

Itulah yang dilakukan oleh pemerintah Iran yang bercorak Syiah. Demi persatuan ummat, mereka mengeluarkan fatwa larangan melaknat figur yang dimuliakan Ahlusunnah sebagaimana telah kami ulas dalam tanggapan ketiga. Kini,  Liputan Islam ingin bertanya kepada Voa-Islam, siapakah big boss Anda yang membayar Anda untuk memecah belah persatuan kaum muslimin? CIA, atau Mossad? 😀

Simak tanggapan selengkapnya di link berikut:

Bagian Pertama: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-pertama/

Bagian Kedua: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-kedua/

Bagian Ketiga: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-ketiga/

Bagian Keempat: http://liputanislam.com/tabayun/menjawab-teguran-voa-islam-bagian-keempat-tamat/

(LiputanIslam.com/ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL