Hizbut Tahrir- SuriahLiputanIslam.comHizbut Tahrir Indonesia (HTI) , menyatakan bahwa peperangan di Suriah melibatkan dua pihak. Pihak pertama adalah Amerika yang diikuti oleh Eropa, Rusia, dan sekutunya. Sedangkan pihak kedua adalah umat Islam, khususnya rakyat Syam (baca: Suriah).

Menurut HTI, Pihak pertama berjuang mati-matian untuk menghalangi tegaknya khilafah di bumi Syam; mendirikan rezim sekular, sebagaimana pendahulunya, yang tunduk dan mengikuti Amerika dan Barat. Lalu pihak kedua berjuang mati-matian untuk mendirikan khilafah, sebagai Uqru Dar al-Islam (lubang kembalinya [ular] di negeri Islam).

Benarkah rakyat Suriah menghendaki berdirinya khilafah? Untuk menjawab pertanyaan ini, Liputan Islam akan kembali memaparkan berbagai fakta yang luput (atau sengaja?) disampaikan oleh HTI. Artikel ini adalah bagian kedua, dan bagian pertama bisa dibaca di sini.

Kedua, Perjuangan Rakyat

Sebuah pemerintahan akan sulit untuk bertahan tanpa adana dukungan kuat dari rakyatnya. Cendekiawan Muslim Ibnu Khaldun yang memandang proses sejarah dalam kerangka siklus, menyatakan bahwa runtuhnya suatu imperium biasanya diawali dengan kezaliman pemerintah yang tidak lagi mempedulikan hak dan kesejahteraan rakyatnya  serta sikap sewenang-wenang terhadap rakyat. Akibatnya timbul rasa ketidakpuasan, kebencian dan ketidakpedulian rakyat terhadap hukum dan aturan yang ada. Situasi ini akan semakin parah bila kemudian terjadi perpecahan di kalangan elit penguasa yang kerap berbuntut disintegrasi. Lantas, bagaimana dengan Suriah?

Di satu sisi, memang pernah terjadi demonstrasi massa anti-pemerintah Suriah namun jumlah itu tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh rakyat yang pro-pemerintah Suriah. Begitu juga ketika akhirnya perang tak terelakkan, terbukti, yang mengklaim sedang berjihad di Suriah adalah teroris yang berasal dari puluhan negara di dunia.

Rakyat Suriah, memberikan dukungan terhadap pemerintah dengan dua cara. Yaitu melalui jalur militer, dan kedua, melalui jalur politik.

a. Jalur Militer: Sinergi Tentara Reguler dengan Tentara Relawan

Rakyat Suriah mendukung Assad.

Rakyat Suriah mendukung Assad.

Pilar utama perlawanan dari pemerintah terhadap pemberontak/ teroris adalah Syrian Armed Force (Angkatan Bersenjata Suriah). Mereka terdiri dari Angkatan Darat (Syrian Arab Army), Angkatan Laut (Syrian Arab Navy), Angkatan Udara (Syrian Arab Air Force), Pertahanan Udara (Syrian Arab Air Defense Force), dan beberapa pasukan paramiliter. Menurut Konstitusi Suriah, Presiden Suriah adalah Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Suriah.

Personil aktif diperkirakan sebanyak 295.000 personil pada tahun 2011, dengan tambahan 314.000 personil cadangan. Pasukan paramiliter diperkirakan mencapai 108.000 personil pada tahun 2011.

Mayoritas militer Suriah adalah Sunni dan sebagian besar pimpinan militer dari kaum Sunni-Alawi (Alawite).  Divisi Militer paling elit, Garda Republik dan Divisi 4 Mekanik, yang dipimpin oleh saudara Bashar  al-Assad.  Dan sebagian besar dari 300.000 warga Suriah yang mengikuti wajib militer dan pilot angkatan udara adalah penganut Sunni.

Pilar kedua yang tak kalah pentingnya adalah National Defence Force (NDF), barisan rakyat Suriah yang jumlahnya ratusan ribu dan berasal dari berbagai elemen masyarakat. Tukang kayu, tukang batu hingga pegawai negeri merapatkan barisan. Mahasiswa yang modis hingga para ibu rumah tangga tak ketinggalan mengangkat senjata untuk mempertahankan Suriah.

Bagaimana sinergi antara tentara reguler (SAA) dan tentara relawan (NDF) di Suriah?

Jika kita memperhatikan dengan seksama, media-media Suriah biasanya memberitakan operasi militer di suatu wilayah dengan redaksi ‘pembersihan’ dan ‘pemulihan’. Pembersihan adalah operasi perebutan wilayah dan pembasmian teroris yang menguasai wilayah tersebut, yang untuk kemudian wilayah yang telah jatuh tersebut dipulihkan keamanannya. Sarana prasarana yang rusak diperbaiki dan dikawal ketat agar tidak sampai direbut kembali oleh para teroris. Dalam operasi ini, SAA yang melakukan ‘pembersihan’ dan NDF yang melakukan ‘pemulihan’. Jadi sesungguhnya peran vital NDF sangat luar biasa bagi Suriah.

Berkat kehadiran dan kekuatan NDF, SAA dapat melakukan tindakan ofensif. Di lapangan, SAA telah mengatur strategi untuk menuju ke tempat musuh, sementara di belakang, NDF mengawal dan membantu pasukan. Walau jarang diekspos, NDF adalah pasukan terbesar kedua di Suriah dan sangat menentukan bagi kemanangan-kemenangan Suriah di lapangan.

b. Jalur Politik: Kemenangan Assad 88,7%

Masih ingat pemilihan presiden di Suriah yang dilangsungkan pada bulan Juni 2014? Alih-alih turut menggulingkan Assad, rakyat Suriah malah berbondong-bondong laksana air bah mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) kecintaan mereka kepada pemimpinnya. Ini adalah sebuah fenomena politik yang spektakuler, dahsyat, mencengangkan sertai diakui aneh dan di luar dugaan.

Bagaimana tidak, bahkan warga negara Suriah yang berada di Lebanon sebagai pengungsi pun membanjiri lokasi pemungutan suara, untuk turut menentukan masa depan negara Suriah. Hasilnya, Bashar al-Assad menang telak dengan perolehan suara 88,7%. Ia pun kembali memimpin Suriah selama satu periode ke depan.

Seandainya, rakyat Suriah memang benar-benar terjajah dalam pemerintahan Assad, apakah mungkin mereka membentuk barisan rakyat untuk melawan pemberontak? Pastinya tidak. Mereka pasti akan sangat senang jika Bashar al-Assad terguling, dan diganti dengan rezim baru.

Jika rakyat Suriah menghendaki khilafah, sebagaimana yang diklaim HTI, maka mungkinkah mereka akan sukarela mendatangi TPS, dan kemudian mengukuhkan kemenangan Assad? Think again! (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*