Hizbut Tahrir- Suriah

klik untuk memperbesar

LiputanIslam.comHizbut Tahrir Indonesia (HTI) , menyatakan bahwa peperangan di Suriah melibatkan dua pihak. Pihak pertama adalah Amerika yang diikuti oleh Eropa, Rusia, dan sekutunya. Sedangkan pihak kedua adalah umat Islam, khususnya rakyat Syam (baca: Suriah).

Menurut HTI, Pihak pertama berjuang mati-matian untuk menghalangi tegaknya khilafah di bumi Syam; mendirikan rezim sekular, sebagaimana pendahulunya, yang tunduk dan mengikuti Amerika dan Barat. Lalu pihak kedua berjuang mati-matian untuk mendirikan khilafah, sebagai Uqru Dar al-Islam (lubang kembalinya [ular] di negeri Islam).

Benarkah rakyat Suriah menghendaki berdirinya khilafah? Untuk menjawab pertanyaan ini, Liputan Islam akan kembali memaparkan berbagai fakta yang luput (atau sengaja?) disampaikan oleh HTI.

Kebutuhan dasar manusia seperti yang diungkapkan Abraham Moslow,   meliputi kebutuhan fisiologis, yang merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar seperti makan, minum, dan tidur. Lalu setelahnya, manusia membutuhkan rasa aman, bebas dari rasa takut dan cemas, stabilitas, keteraturan, dan jaminan keamanan. Bagaimana dengan Suriah, sudahkah hak-hak dasar ini terpenuhi?

Pertama, Suriah Baik-baik Saja Sebelum Konflik

Sadeq Khanafer, kolumnis Al-Manar menuliskan dengan detail kondisi Suriah sebelum konflik, dalam artikel yang berjudul “Only in Syria”. Sadeq mengungkapkan, harga-harga kebutuhan pokok di Suriah hanya sepertiga biaya produksi. Sakit dan harus dirawat inap, juga gratis. Pajak penghasilan hanya 5% bagi kalangan berada, dan bagi rakyat berpenghasilan rendah—tidak dikenakan pajak sama sekali.

Di Suriah, terdapat lebih dari 1 juta pengungsi Palestina dengan hak-hak kewarganegaraan yang sama dengan penduduk asli tanpa diskriminasi sedikit pun. Di Suriah, terdapat 2 juta pengungsi Irak saat terjadi serangan Amerika, dan tidak satupun dari mereka yang tinggal di tenda-tenda pengungsian. Semuanya diperlakukan dengan manusiawi.

Presidan Assad, Mufti Suriah dan Pemuka Kristen Orthodox

Presidan Assad, Mufti Suriah dan Pemuka Kristen Orthodox

Dalam wawancara ini, disebutkan bahwa Suriah adalah negara berpaham sekuler. Semua kepercayaan boleh tumbuh.  Bahkan partai komunis juga ada di Suriah. Tetapi pemerintah melarang agama diseret  ke dalam ranah politik, dan karenanya tidak diperkenankan agama atau kesukuan menjdi dasar sebuah partai. Walaupun demikian, fiqh Hanafi menjadi salah satu sumber hukum utama dalam hukum akhwal syakhsiyyah.

Di Damaskus saja bertebaran puluhan Tsanawiyah Syar’iyah (setingkat MTs dan Madrasah Aliyah Keagamaan) dan 5 ma’had syar’i (mirip pondok pesantren) di bawah kementrian Awqaf. Itu smua milik Sunni. Di Damaskus juga terdapat satu hauzah (pendidikan tinggi) milik Syiah.

Di Suriah, yang fokus terhadap  kerukunan adalah tokoh agama masing-masing dan masing-masing individu. Ketika Natal tiba, ada deretan kursi diluar gereja, dan yang menatanya adalah kaum Muslimin. Kursi-kursi itu memang disediakan untuk kaum Muslimin yang ingin mengucapkan selamat kepada umat Kristiani setelah melakukan misa.

Semboyan di Suriah, al din lillah; wal wathan li al jami’ (agama untuk Allah, negara untuk masyarakat). Ketika tokoh besar Islam meninggal, semua gereja-gereja di Damaskus membunyikan lonceng sebagai tanda belasungkawa. Tokoh- tokoh gereja juga datang dan memberikan sambutan di majelis ta’ziyah ulama-ulama. Mereka hadir, tapi tidak ada yang saling mengikuti peribadatan masing-masing.

Di Suriah, mobil sekelas Mercy, Jaguar, Hummer biasa diparkir di pinggir jalan, tidak perlu di tempatkan di garasi tanpa perlu was-was dicuri atau kehilangan spion.

Keluarga dari seorang anak gadis di Suriah tetap bisa tidur nyenyak walau jam 2 malam anak gadisnya belum sampai di rumah karena mereka yakin, si gadis akan berada di rumah ketika mereka bangun pagi. Sehingga, bukanlah hal yang mengherankan jika melihat para gadis masih di luar rumah pada jam 2 malam, Insya Allah tidak ada yang menganggu.

Kriminalitas di semua tempat pasti ada tetapi di Suriah, angkanya bisa ditekan. Untuk masalah keamanan, polisi dan tentara tidak segan-segan menembak di tempat orang orang yang melakukan tindak kriminal. Memang terlihat ekstrim, tetapi hasilnya sangat terasa. Jangan bermimpi bisa menemukan calo atau preman di stasiun kereta. Dan di Suriah, seorang wanita bisa bepergian dengan aman naik bis dari ujung ke ujung (Suriah) tanpa ditemani saudara.

Hal ini juga berlaku untuk warga negara asing, sehingga para pendatang tidak merasa asing ketika berada di Suriah. Bahkan yang sudah punya izin tinggal bisa menikmati fasilitas rumah sakit dan sekolah gratis hingga SMA.

Di sisi lain, Suriah sudah diembargo sejak lama karena tidak mau berdamai dengan Israel. Tetapi, semua masalah bisa diatasi karena Suriah adalah negara yang mandiri. Hampir semua kebutuhan pokok dapat dipenuhi sendiri mulai dari gandum, sayur sayuran, buah buahan, daging, semua produk susu, minyak zaitun dll. Bahkan dieskpor ke negara negara tetangga seperti Yordania, Lebanon, dan negara negara Teluk. Dan untuk persenjataan, Suriah bekerja sama dengan Rusia.

Di tengah embargo seperti itu, hutang Suriah adalah nol, sehingga Suriah tidak bisa ditekan oleh siapapun. Suriah juga melarang adanya import barang-barang yang bisa diproduksi di dalam negeri. (ba)

—-

Bersambung ke bagian kedua

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*