Al-Mustaqbal Membantah ISIS disebut rekayasa Syiah, klik untuk memperbesar

Al-Mustaqbal Membantah ISIS disebut rekayasa Syiah, klik untuk memperbesar

LiputanIslam.com — Tak dapat dipungkiri, beberapa waktu terakhir ini Syiah dan Iran menjadi topik yang sedemikian panas, populer, dan intens dikembangkan di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.

Dan entah mengapa, memberi predikat Syiah kepada pihak lain yang tidak sehaluan, seolah menjadi tradisi baru. Korban atas predikat Syiah ini sudah tak terhitung, dan menyerempet tokoh seperti dr. Joserizal Jurnalis, KH Said Aqil Siradj, Prof Quraish Shihab hingga presiden terpilih Joko Widodo.

Namun, tidak ada yang lebih mencengangkan selain ketika muncul tudingan, bahwa komplotan teroris Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS, juga disebut rekayasa Syiah. Bagaimana tidak, ISIS telah melakukan pembantaian kepada orang-orang Syiah di Irak. Sehingga bagaimana  mungkin, Syiah membentuk ISIS untuk membantai Syiah itu sendiri? (Baca juga: Majelis Mujahidin Sebut ISIS Sebagai Rekayasa Syiah)

Media pro-ISIS pun, tidak terima dengan adanya anggapan bahwa ISIS merupakan rekayasa Syiah, untuk itu, mereka pun membuat bantahan dengan menyebutkan, bahwa telah banyak orang-orang Syiah yang mereka bantai.

Namun,  jika ISIS benar-benar memerangi Syiah, lalu mengapa ISIS tidak menyerang Iran, negara yang penduduknya mayoritas pemeluk mazhab Syiah? Dan inilah, jawaban mereka, seperti dilansir Al-Mustaqbal:

Jawabannya sebagaimana statemen reski Juru Bicara ISIS ketika itu, Syekh Abu Muhammad Al-Adnani Asy-Syami Hafizahullah, yang dikeluarkan pada bulan Rajab 1435 Hijriyyah atau bertepatan dengan bulan Mei 2014.

Beliau mengatakan :

“Dan karena itu, para pemimpin Daulah Islam menyampaikan pernyataan kepada Qo’idatul Jihad sebagaimana prajurit kepada amirnya. Dengan begitu Daulah Islam berpegang pada arahan dan nasehat syuyukh al-Qaidah. Oleh karena itu, Daulah Islam tidak menghantam rafidhah di Iran semenjak didirikan. Dan rafidhah dibiarkan aman di Iran. Dan para tentara Daulah menahan amarah yang meluap-luap, meski mereka mampu untuk mengubah Iran menjadi genangan darah. Ia menahan ini selama bertahun-tahun dan menanggung tuduhan bahwa Daulah merupakan antek Iran, musuhnya paling ia benci. Hal itu menjalankan perintah A-Qaeda dengan menjaga kepentingannya dan pelebarannya ke Iran.

Ya, tentara Daulah menahan diri dan menggigit kemarahannya selama bertahun-tahun untuk menjaga persatuan kalimat mujahidin. Maka hendaklah sejarah mencatat bahwa di leher-leher Iran ada hutang tehadap Al-Qaeda

Amir Al-Qaeda meminta suaka pada Iran, klik untuk memperbesar

Amir Al-Qaeda meminta suaka pada Iran, klik untuk memperbesar

Jadi alasan ISIS tidak menyerang Iran adalah, karena mematuhi perintah Amir Al-Qaeda untuk tidak meluaskan invansi ke Iran. Lalu,  Al-Mustaqbal menyatakan bahwa Iran memilki hutang pada Al-Qaeda. Maka, hutang apakah yang dimaksud?

Sejarah justru mencatat, bahwa Al-Qaeda yang memiliki hutang pada Iran. Pada tahun 2002, saat AS melancarkan serangan masifnya di Afghanistan, dan teroris Al-Qaeda banyak yang tewas, maka Osama bin Laden pun meminta perlindungan kepada Iran. (Nicholas Hagger, The Secret American Dream: The Creation of a New World Order with the Power)

klik untuk memperbesar

klik untuk memperbesar

Lalu pada tahun 2010, jaringan media AS Fox News menyiarkan sebuah film dokumenter yang menggambarkan kehidupan Osama bin Laden, sosok teroris pimpinan jaringan Al-Qaeda yang paling dicari AS saat ini. Dalam dokumenter itu disebutkan bahwa Osama hidup nyaman bersama keluarganya di sebuah tempat di utara Teheran, dibawah penjagaan pasukan Garda Revolusioner Iran. (Eramuslim, 5 Mei 2010)

Dengan kata lain, gembong teroris Al-Qaeda dan pengikutnya, pernah meminta perlindungan kepada Iran, saat mereka dalam kondisi terdesak. Dan kondisi terdesak tidak sama dengan kondisi normal. Catatan kecil dari Islam Times ini, lebih dari cukup untuk menjawab, hutang-piutang apa yang pernah terjadi diantara Iran dan Al-Qaeda.

Iran di Mata Hati Sadam dan Al-Qaeda

Ada satu fakta tentang Iran yang tak mungkin dapat dihapus dari layar sejarah. Sebagaimana diketahui, Iran mempunyai beberapa musuh bebuyutan yang bukan hanya AS  dan Israel, tapi juga Rezim Saddam Husain, dan jaringan Takfiri al-Qaeda bentukan AS.

Yang ganjil dan nyeleneh adalah ketika Irak dibombardir oleh pasukan sekutu pimpinan AS, Saddam malah melarikan puluhan atau bahkan ratusan pesawat tempurnya ke Iran supaya tidak jadi onggokan besi tua.

Dalam Perang Afghanistan pasca rezim barbar Taliban, ketika ratusan militan Al-Qaeda yang katanya diuber-uber serdadu Amerika, militan itu malah dengan “gagah berani” masuk dan mencari perlindungan di Iran.

Mengapa dua adegan konyol itu sampai terjadi? Bukankah rezim Ba’ath Saddam maupun para ksatria Al-Qaeda sudah berbusa-busa menyebut Iran sebagai negara beringas,  yang gemar menggantung dan memenggal kepala  Muslim Sunni?

Jawabannya jelas, mereka atau orang-orang seperti mereka, termasuk oknum dari AS dan Eropa, mulut mereka berbusa-busa melakukan propaganda demikian tak lain karena sedang berusaha memenuhi ambisinya.

Sedangkan ketika mereka sudah sangat terpaksa dan tak ada pilihan lain untuk berharap keadilan, maka hati nuranilah yang bicara. Dan Iran nampaknya pilihan nurani dan itu sangat-sangat realistis dan logis.

Hati mereka akan berkata jujur dan mengetahui dimana tempat berkumpulnya orang-orang bijak dan berlaku proporsional, bahkan terhadap musuh bebuyutannya sekalipun.

Dalam ayat Al-Quran, Allah Swt melukiskan keadaan diatas dengan ayat yang berbunyi; “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL