Bincang Rumi: Tetap Bersama Meski Berbeda

0
209

Sumber foto: Antaranews

Jakarta,LiputanIslam.com—“sudah seharusnya kita menerima perbedaan, sebab ia adalah keniscayaan dan telah menjadi kodrat kehidupan manusia. Perbedaan itu ada, bahkan pada tingkat yang paling kecil yaitu di dalam keluarga,” begitu penjelasan Direktur Rumi Institute, Muhammad Nur Jabir, saat mengisi kajian mingguan yang berlangsung pada Senin (8/6) malam kemarin, pukul 20.00 melalui siaran langsung di akun instagram alvinadam1.

Penjelasan Ust Jabir tentang niscayanya perbedaan itu sangat tepat, di saat bangsa Indonesia sedang menghadapi perpecahan akibat munculnya kelompok-kelompok yang anti terhadap perbedaan, mengaku sebagai pemilik kebenaran, dan menolak kebenaran yang lahir dari orang-orang di luar kelompok mereka.

Dalam konteks kehidupan antar umat beragama, sebagian kelompok ini menilai para penganut agama lain sebagai orang-orang kafir. Tidak hanya penganut agama lain, orang sesama agamanya pun akan dinilai kafir, jika pemahaman keagamaan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka pahami. Padahal di dalam Al-Qur’an sudah jelas dikatakan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal satu sama lain (Q.S Al-Hujurat:13).

Potret live streaming kajian mingguan Rumi bertajuk “Berbaik Sangka dan Tak Mesti Sama” bersama Direktur Rumi Institute, Muh Nur Jabir (bawah) dan pemilik akun Instagram @alvinadam1 atau yang kerap disapa “Uncle”.

Seperti dikatakan Ust Jabir, seharusnya manusia itu tidak boleh menilai orang lain hanya dari tampilan luar semata. Sebab, hakikat seseorang itu terpancar dari hatinya, bukan dari tampian luarnya. Di saat yang sama, kita tidak memiliki kapasitas untuk masuk ke dalam hati seseorang dan mengetahuinya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, betapa banyak terlihat orang-orang yang menghakimi cara ibadah orang lain karena dianggap telah bertentangan dengan ajaran yang mereka pahami dari Al-Qur’an dan sumber-sumber lainnya. Padahal mereka sesungguhnya tidak tau dan tidak bisa memastikan seberapa dekat hubungan antara orang yang dihakimi itu dengan Allah Swt.
Ust Jabir mengutip perkataan Rumi, “ Jika orang salah memahamimu, tidak usah khawatir. Memang suaramulah yang mereka dengar. Tapi apa yang terlintas dalam batin mereka adalah pikiran mereka sendiri.”

Orang-orang yang dengan mudahnya menghakimi orang lain, pada hakikatnya mereka sedang menghakimi pikiran mereka sendiri. Merekalah yang memunculkan anggapan-anggapan buruk tentang orang lain, dan menggunakan anggapan-anggapan itu sebagai dasar untuk mengecam dan mengutuk perbedaan orang lain.

Ust Jabir menjelaskan bahwa manusia terbiasa memaksa orang lain untuk mengikuti apapun yang menurutnya baik. Seperti seseorang yang menemukan mata air dan menganggap semua orang kehausan dan ingin mereka semua untuk minum. Padahal, bisa jadi orang yang diajak telah menemukan mata air lainnya dan tidak ingin minum karena dahaganya telah hilang.

 

Menjadi Manusia Tertutup

Seperti yang dikatakan Ust Jabir, manusia itu cenderung menginginkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang sama dengan dirinya, tidak hanya melakukan, tapi juga memiliki pola pikir yang sama. Pola pikir seperti ini, akan membuat seseorang menjadi manusia yang tertutup. Tertutup dalam arti pemikiran dan perbuatan.

Ust Jabir mengutip salah satu syair Rumi, “ Kemarin saya pintar, karena itu saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijaksana, karena itu saya mengubah diri saya sendiri.”

Orang yang merasa dirinya pintar, kata Ust Jabir, akan cenderung untuk memperbaiki apapun. Mereka akan berkomentar tentang berbagai hal yang ada dalam aspek kehidupan di luar dirinya. Tetapi orang yang bijaksana akan berpikir untuk memperbaiki diri sendiri, melihat segala kekurangan pribadi, dan berupaya untuk memperbaikinya.

Ust Jabir mengutip uraian bijaksana dari kitab Maulana Rumi yang berjudul Matsnawi, tepatnya di bait 1319, dikatakan, “ Oh fulan, berbagai kezaliman yang engkau saksikan kepada orang lain sesungguhnya adalah sifatmu di dalam diri mereka. Di dalam diri mereka terpancar keberadaanmu, termasuk sifat kemunafikan, kezaliman, dan kemabukan. Itulah dirimu dan kaulah yang melukai dirimu sendiri. Pada saat itu, keu telah mengutuk dirimu sendiri.”

Seseorang yang mengutuk dan mengecam orang lain karena perbedaan tingkah laku dan pemikiran pada hakikatnya mereka tengah mengutuk dan mengecam diri mereka sendiri.

Kajian bincang-bincang tentang pemikiran Rumi ini berlangsung selama lebih kurang satu jam dan berakhir pada pukul 21.00. bincang-bincang ini juga disiarkan ulang melalui IGTV oleh @ alvinadam1 dan sampai tulisan ini dipublikasikan, telah ditonton sebanyak 1038 kali. (ha/LiputanIslam)

DISKUSI:
SHARE THIS: