Indahnya Merajut Persaudaraan dalam Perbedaan

0
842

LiputanIslam.com-–Dalam sebuah acara bincang lintas Mazhab antara tiga kelompok Islam di Indonesia yang berlangsung pada Senin 22 Juni melalui media online, Zuhairi Misrawi mewakiliki kelompok NU mengangkat gagasan yang pernah dipopulerkan oleh K.H Ahmad Siddiq, seorang ulama Nahdhatul Ulama (NU) pernah mengatakan bahwa kita semua terikat dalam tigal lapisan persaudaraan. Tiga lapisan ini membuat kita mustahil untuk bermusuhan satu sama lain.

Tiga lapisan persaudaraan yang dimaksud adalah: Ukhuwwah Islamiyah, Ukhuwwah Wathaniyah, dan Ukhuwwah Insaniyah atau Basyariyah.

Ukhuwwah Islamiyah adalah ikatan persaudaraan yang menjadi perekat antara sesama umat Muslim, apapaun mazhab dan kelompoknya. Di Indonesia, kita mengenal adanya kelompok Ahmadiyah dan Ahlul Bait (Syiah). Kehadiran kelompok-kelompok ini tidak langsung menjadikan kita terpisah, karena pada dasarnya kita masih dalam satu perahu besar persaudaraan yang bernama Islam.

Zuhairi Misrawi (Gus Mis) mengatakan bahwa apapun mazhab dan kelompok kita, pada dasarnya kita semua adalah seorang Muslim. Atas dasar persamaan sebagai sesama Muslim itu, seharusnya tidak ada lagi di antara umat Muslim yang mengkafirkan dan menyegel masjid sesama umat Muslim.

Perbedaan yang terjadi di dalam Islam, kata Gus Mis, akan menjadi indah jika dipandang secara positif.

Gus Miftah, sebagai perwakilan kelompok Ahlul Bait (Syiah), mempertegas indahnya perbedaan ini dengan mengutip kisah toleransi yang ditunjukkan oleh Imam Syafi’i dan Imam Malik.

Suatu ketika, Imam Syafi’i berkunjung ke tempat Imam Malik. Dalan fiqih, kedua imam mazhab ini berbeda. Imam Syafi’i meyakini adanya qunut dalam shalat subuh, sementara Imam Malik tidak. Sebelum berkunjung, Imam Syafi’i berpesan kepada pengikutnya agar sesampainya di tempat Imam Malik dan saat waktu subuh tiba, agar tidak melaksanakan qunut. Imam Malik juga memberikan pesan serupa kepada pengikutnya untuk melaksanakan qunut lantaran akan dikunjungi oleh Imam Syafii. Maka, pada saat waktu subuh tiba, terjadilah peristiwa toleransi yang begitu indah, saat Imam Syafi’i dan para pengikutnya tidak melaksanakan qunut, sementara Imam Malik dan para pengikutnya melaksanakan qunut.

Apabila, Ukhuwwah Islamiyah kurang kuat untuk merajut persaudaraan kita, maka kita semua bisa bersaudara dengan dasar Ukhuwwah Wathaniyah. Ukhuwwah Wathaniyah adalah persaudaraan yang didasarkan atas kesamaan tanah air.

Ruang lingkup persaudaraan pada tingkat ini memiliki cakupan yang lebih luas. Persaudaraan yang seharusnya terbangun tidak saja pada sesama umat Muslim, tapi juga sesama rakyat Indonesia, meliputi suku-suku.

Bahkan Gus Mis mengatakan , “ Cinta tanah air itu adalah bagian dari Iman.” Artinya, kecintaan kita kepada saudara sebangsa dan setanah air akan semakin memperkokoh keimanan kita.

“Umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia harus merangkul berbagai kelompok, suku, dan aliran untuk sama-sama membangun negeri. Karena jika terus berkonflik dan terpecah belah, maka kita tidak akan bisa membangun peradaban yang besar.” Jelas Gus Mis.

Apabila dua fondasi persaudaraan, Ukhuwwah Islamiyah dan Wathaniyah, masih belum cukup untuk membuat kita bersaudara satu sama lain, maka ada Ukhuwwah Insaniyah yang akan mempersatukan kita semua sebagai sesama manusia. Jika kita sulit menerima orang lain karena agama atau tanah airnya, maka setidaknya kita bisa menerima mereka atas dasar kesamaan manusia.

Sebagai perwakilan kelompok Ahmadiyah, Maulana Saifullah, mempertegas pendirian Ahmadiyah yang membangun dasar persaudaraan dalam lingkup yang paling luas, sebagai sesama manusia. Jadi, dalam Ahmadiyah, persaudaraan itu tidak hanya dibatasi oleh aliran agama atau bangsa saja. (HA/LiputanIslam.com)

DISKUSI: