berdebatPutera Imam Husain, cucu Rasulullah saw, bernama Ali al-Ridha yang terkenal sebagai zainal abidin (hiasan para ahli ibadah) pernah berdebat dengan pemuka Kristen tentang ketuhanan Nabi Isa as. Pemuka Kristen tersebut dengan berbagai alasannya mengklaim ketuhanan Nabi Isa as, seperti Nabi Isa as bisa menyembuhkan penyakit kusta, membuat orang buta melihat, bahkan bisa menghidupkan dan mematikan.

Imam Ali Ridha tidak membantah setiap ucapan pemuka Kristen tersebut. Ia membenarkan semuanya. Namun, setelah itu Imam Ali al-Ridha berkata: “Sebenarnya yang engkau katakan tentang Isa al-Masih itu semuanya benar dan Isa itu, segala sesuatu tentang dirinya adalah kebaikan kecuali satu hal saja, yaitu bahwa Isa itu tidak suka beribadah.”

Mendengar hal itu, Pemuka Kristen itu menampiknya : “Sangat mengherankan engkau menyatakan begitu, padahal ia adalah yang paling abid (taat beribadah) diantara semuanya”.

Mendengar pengakuan itu, Imam Ali Ridha pun segera berkata : Kalau memang begitu, Isa beribadah kepada siapa? Bukankah ia Tuhan sehingga ia tak perlu beribadah? Jika dia beribadah maka itu merupakan dalil bagi kehambaan dirinya? Maka beribadah merupakan alasan bahwa Isa as bukanlah Tuhan?” Pendeta Kristen itu pun terdiam.

Demikianlah Imam Ali Ridha membungkam dan mengalahkan lawannya dengan menggunakan teknik perdebatan yang menggunakan dalil-dalil yang diakui (diyakini) lebih dulu oleh lawannya. Sehingga lawan tidak bisa menghindar dan harus menyetujui pendapatnya.

Belakangan ini, kita disibukkan dengan berita-berita tentang pemilihan presiden (pilpres). Dengan prinsip demokrasi setiap orang bebas menentukan pilihannya secara langsung, umum, bebas, dan rahasia (luber). Namun, tentu saja untuk memilih pemimpin diperlukan pengenalan atas dirinya, baik kompetensinya, maupun kualitas kepribadiannya. Selain itu, penting pula mengenal beragam tawaran visi dan misinya dalam memimpin negara. Untuk pengenalan itulah, beragam kegiatan dilakukan dalam ajang kampanye dan kegiatan, dan salah satunya diselenggrakanlah program debat capres-cawapres untuk menguji kualitas, kompetensi, visi, dan misi para kandidat. Dengan perdebatan itu, masyarakat akan bisa melihat secara jelas setiap kemampuan para kandidat sebelum menentukan pilihannya. Sebab itu, seringkali, hasil dari perdebatan itu menjadi tolok ukur pantas atau tidaknya seseorang menduduki jabatan tertentu.

Dalam Islam dikenal banyak istilah yang erat merujuk pada perdebatan, seperti mira’, munazharah, muzakarah, muhawarah, mughalabah dantentu saja mujadalah. Istilah mujadalah atau jadal mungkin lebih populer sebagai padanan dari perdebatan. Pengertian dari jadal adalah perdebatan atau bertukar pikiran dengan niat untuk mengalahkan lawan dengan menunjukkan kesalahan ucapan atau argumentasinya dan menisbatkan ketidaktahuan kepadanya. Dalam Alquran sendiri kata jadal disebutkan sebanyak 29 kali dengan berbagai derivasinya, diantaranya jaadilu, jaadaltum, jaadaltuna, jaadiluka, yujaadiluna, yujaadilu, tujadiluka, yujaadilunaka, yujaadilukum, jidaalan, dan wajadilhum. Tanpa membahas keseluruhan istilah tersebut, pada kesempatan ini, kita membahas secara umum bagaimana Islam memandang perdebatan.

Secara umum, semua derivasi kata jadal yang terdapat di dalam Alquran mengandung kesan negatif yang mengarah pada perselisihan, perpecahan, dan menghilangkan kebenaran. Jadi, kalau kita menyelidiki Alquran dan hadis-hadis Nabi saw, maka kita dapat menyaksikan penilaian yang berbeda terhadap perdebatan. Adakalanya, Alquran dan hadis menilai positif perdebatan, tetapi juga banyak menilainya secara negatif. Adakalanya, Alquran dan hadis membolehkan perdebatan, tetapi tak jarang melarangnya. Sebagai misal, Allah berfirman, “(Yaitu) orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (Q.S. Ghafir : 35). Begitu pula, Rasulullah saw bersabda, ““Jangan berdebat dengan suadaramu, jangan bergurau dengannya (yang tidak pada tempatnya), dan jangan menjanjikan sesuatu yang akan engkau ingkari.” (H.R. Turmudzi). Beliau juga bersabda, “Suatu kaum tidak akan sesat setelah beroleh petunjuk, kecuali lantaran mereka berdebat.” (H.R. Ahmad)

Al-Kasyani mengatakan bahwa penyebab perdebatanyang buruk adalah karena didasari keinginan untuk mencari keunggulan atas orang lain dengan cara menampakkan kelebihan diri dan menunjukkan kelemahan lawan. Dua hal ini adalah hawa nafsu batiniah. Keinginan menampakkan keutamaan dan keunggulan, bersumber dari penyucian jiwa, tetapi juga merupakan konsekuensi dari godaan mengklaim keagungan diri yang merupakan salah satu sifat Tuhan. Adapun menunjukkan kelemahan orang lain, ini bersumber dari tabiat hewani, yang menuntut manusia mencabik-cabik dan menyakiti selainnya. Ini merupakan sifat tercela dan membinasakan. Dua sifat buruk ini akan semakin kuat mencengkeram diri manusia yang sering melakukan perdebatan. Karena itu berhati-hatilah.

Begitu pula, perdebatanselalu dibarengi dengan menyakiti orang lain, membangkitkan amarahnya, dan memaksanya untuk membela pendapatnya, baik dengan cara benar maupun salah. Maka, dua orang yang berdebat berusaha untuk menjatuhkan lawannya dan menunjukkan kebodohannya. Karena itu obat untuk penyakit “berdebat” ini adalah dengan memusnahkan penyebabnya yakni membuang kesombongan yang mendorong manusia untuk menampakkan kelebihannya. Dia juga harus melenyapkan naluri hewani yang menyebabkannya merendahkan orang lain. Orang yang sudah terbiasa berdebat dan mendapat pujian dengan hal itu akan kesulitan meninggalkannya. Terlebih, bila itu dibarengi dengan sikap takabur, riya, dan cinta kedudukan. Masing-masing sifat ini sulit untuk dibasmi, apalagi ketika semuanya berhimpun menjadi satu.

Perdebatanseringkali terjadi dalam persoalan agama. Bila seseorang menyangka bahwa debat tentang agama akan mendatangkan pahala baginya, dia akan semakin terdorong untuk melakukannya. Ini adalah sebuah kesalahan. Semestinya, seorang muslim harus menjaga lidahnya dari sesama muslim. Bila dia melihat seorang pelaku bid’ah, hendaknya dia menasehatinya tanpa harus mendebatnya. Sebab itu, Rasul saw bersabda, “Allah merahmati orang yang menahan lidahnya dari orang muslim, kecuali dengan hal terbaik yang bisa dilakukannya.” (H.R. Ibnu Abi Dunya). Dan boleh jadi, kita menyakiti hati seorang muslim dalam perdebatan itu, karenanya mohonlah maaf dalam setiap perdebatan dan mohonlah ampun kepada Allah swt. Nabi Muhammad saw bersabda, “Kaffarah (denda) untuk tiap perdebatan adalah shalat dua rakaat.” (H.R. at-Thabrani)

Meskipun begitu, Alquran juga mengisyaratkan perlunya perdebatan untuk mengungkap kebenaran dan membawa manusia pada jalan Tuhan. Misalnya Alquran mengatakan, “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik. Dan berdebatlah kamu dengan mereka dengan cara yang baik” (Q.S. an-Nahl : 125), atau firman Allah swt, “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-oraang zalim di antara mereka” (Q.S. al-Ankabut: 46)

Karena itulah, para ulama Islam sejak dulu hingga kini, selain mewaspadai perdebatan, mereka tetap tidak meninggalkan perdebatan tersebut sebagai salah satu sarana untuk mengokohkan dakwah dan ajaran Islam. Kita mengenal para filosof dan ahli kalam (mutakallim), yang dalam sejarah Islam sering mengajukan berbagai perdebatan seputar persoalan agama. Mereka melakukan berbagai ajang perdebatan di berbagai tempat, di rumah, si mesjid, di sekolah, bahkan di istananya para gubernur ataupun khalifah. Di sana dihadirkan para ulama dalam berbagai disiplin ilmu untuk saling berdebat tentang berbagai persoalan agama dan keilmuwan. Ajang perdebatan itu menumbuhkan semangat keilmuan dan memotivasi perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam. Dan yang terpenting juga, arena perdebatan menjadi contoh bagi demokratisasi yang telah dulu berlaku dalam sejarah Islam. Karena dalam perdebatan itulah tercermin penghargaan yang tinggi terhadap kebebasan berpikir dan berpendapat. Setiap orang bebas memberikan dukungan pada setiap kelompok dan aliran pemikiran yang ada. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL