Konflik horizontal Sunni-Syiah akhir-akhir ini semakin merebak di Indonesia. Fitnah-fitnah bertebaran, mengancam ukhuwah dan persatuan NKRI. Bahkan secara sistematis, sekelompok pihak merilis buku Buku Panduan MUI: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (MMPSI), membagi-bagikannya secara gratis di berbagai kota se-Indonesia. Padahal, secara informal, beberapa tokoh MUI menyatakan bahwa buku ini bukan terbitan resmi MUI. Ada baiknya, dalam rangka ukhuwah, kita mencoba mengkritisi apa saja kesalahan yang dimuat di buku MMPSI ini. Berikut ini kami sajikan artikel yang mengkritisi buku MMPSI, ditulis oleh cendekiawan muslim dari Sumatera Utara, Candiki Repantu.Tulisan dimuat dalam beberapa bagian.

——–

MUI

BAB III : PENYIMPANGAN AJARAN SYIAH

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Hujurat : 12)”

Kita telah membedah dua bab dari isi Buku MMPSI ini, dan anda sudah menyaksikan bagaimana penyimpangannya. Maka kini masuklah kita pada Bab III, tentang Penyimpangan Ajaran Syiah. Bab ini tidak lebih berisi hal-hal propaganda dan banyak manipulasi data serta prasangka yang tidak sesuai dengan pandangan syiah. Selain itu isu-isu yang diangkat juga bukanlah isu baru, ntah kalau penulis MMPSI baru mengetahuinya. Apa yang diangkat adalah isu-isu lama yang diulang-ulang, dan ulama-ulama syiah telah menjawab dan menjelaskan hal-hal tersebut secara gamblang dalam puluhan jilid kitab-kitab mereka. Namun, sebagian kelompok yang masih sulit menerima kehadiran syiah membawa isu-isu itu kembali dari dulu hingga kini, termasuklah MMPSI.

Kondisi ini telah melahirkan diskusi mazhab yang panjang. Ulama Sunni menulis buku yang menyerang mazhab syiah, dan Ulama syiah membalasnya dengan menulis buku juga sebagai jawaban. Misalnya Al-Murtadha menulis Asy-Syafi fi al-Imamah untuk membantah ulama-ulama sunni yang menghujat syiah. Ibnu Hajar  al-Haitsami menulis Shawaiq al-Muhriqah dan dijawab oleh ulama syiah Nurullah al-Tusytari dengan menulis buku Shawarim al-Muhriqah fi Jawabi Shawaiq al-Muhriqah. Allamah Hilii menulis buku Minhaj al-Karamah dan juga Nahj al-Haq wa Kasyf ash-Shidq. Ibnu Taymiyah (sunni) menulis buku ‘Minhaj al-Sunnah’ untuk membantah buku ‘Minhaj al-Karamah’ dan Ibnu Rouzban (sunni) menulis Ibthal al-Bathil wa Ihmal Kasyf al-‘Athil untuk membantah Nahj al-Haq wa Kasyf al-Shidq. Allamah al-Muzaffar (syiah) pun menulis Dalail ash-Shidq 3 Jilid untuk membantah Ibnu Taymiyah dan Ibnu Rouzban. Kemudian diakhiri oleh al-Tustary (dari Syiah) dengan kitabnya lhqaq al-Haq yang diberi catatan oleh Ayatullah al-Mar’asyi an-Najafi, sehingga mencapai 25 jilid ukuran besar seperti Encyclopedia. Sampai sekarang belum ada yang menjawab buku ini.  

Begitu pula, ad-Dahlawi (sunni) menulis buku at-Tuhfah al-Itsna Asyariyah dan kemudian dijawab oleh Sayyid Dildar Ali (syiah) di dalam kitabnya ash-Shawarim al-Ilahiyyah dan Shawarim al-Ihlam. Begitu pula dalam kitab as-Saif al-Maslul ‘ala Mukhrib Din ar-Rasul. Lalu, kitab Sayyid Dildar Ali dijawab oleh Rasyiduddin ad-Dahlawi (sunni), murid penulis kitab at-Tuhfah, dengan kitabnya asy-Syawkah al-Umariyyah. Tapi kemudian, kitab asy-Syawkah al-‘Umariyyah itu dijawab oleh Baqir Ali (syiah) dengan kitabnya al-Hamlah al-Haidariyyah. Selain itu, kitab at-Tuhfah ad-Dahlawi juga dijawab oleh kitab an-Nazhah al-Itsna ‘Asyariyyah. Lalu salah seorang Ahlus Sunnah menjawab kitab an-Nazhah al-Itsna ‘Asyariyyah dengan menulis kitab Rujum asy-Syayathin. Selanjutnya kitab ar-Rujum asy-Syayathin dijawab oleh Sayyid Ja’far al-Musawi dengan kitabnya Mu’in ash-Shadiqin fi Radd Rujum asy-Syayathin. Kemudian juga kitab at-Tuhfah ad-Dahlawi dijawab oleh Sayyid Muhammad dengan menulis kitab al-Ajnad al-Itsna ‘Asyariiyah al-Muhammadiyyah. Dan kitab Sayid Muhammad ini dijawab oleh Muhammad Rasyid ad-Dahlawi. Lalu Sayyid Muhammad menulis jawaban kembali dengan kitabnya al-Ajwibah al-Fakhirah fi ar-Radd ‘ala al-Asya’irah, dan dilanjutkan oleh anaknya Sayid Muhammad yakni Hamid Husain al-Hindi dengan menulis 20 jilid kitab Abaqat al-Anwar. Selain itu ditulislah 11 jilid al-Ghadir oleh al-Amini untuk membantah beberapa kitab yang menghujat syiah seperti kitab al-Iqd al-Farid, al-Farq Baina al-Firaq, al-Milal wa an-Nihal, al-Bidayah wa an-Nihayah, al-Mashahr, as-Sunnah wa as-Syiah, Fajr al-Islam, Zhuhr al-Islam, Dhuha Islam, Aqidah as-Syiah, al-Wasyiah dan juga Minhaj as-Sunnah. Sampai saat ini juga belum ada ulama sunni yang secara sistematis memberikan bantahan untuk buku-buku ulama syiah tersebut.

Apa saja yang menjadi isu kesesatan syiah yang ditebarkan ditengah-tengah masyarakat? MMPSI menyebutkan lima penyimpangan syiah, yaitu :

  1. Penyimpangan Paham tentang Orisinalitas Alquran
  2. Penyimpangan Paham tentang Ahlul Bait Rasul saw dan Meengafirkan Sahabat Nabi
  3. Penyimpangan Paham tentang Syiah Mengafirkan Umat Islam
  4. Penyimpangan Paham tentang Kedudukan Imam Syiah
  5. Penyimpangan Paham tentang Hukum Nikah Mut’ah

Kelima hal di atas diajukan MMPSI untuk menyesatkan syiah—atau mungkin mengkafirkannya. Isu-isu ini sebenarnya isu-isu lama yang telah dijawab oleh ulama-ulama syiah dengan menulis ratusan jilid buku.  Sekarang marilah kita telusuri tuduhan-tuduhan MMPSI ini. Tapi seperti sering diingatkan, pembahasan ini bersifat ilmiyah dan tidak lain untuk memperkuat kokohnya Ukhuwah Islamiyah sunni-syiah, agar tidak terjadi salah pemahaman dikarenakan isu-isu yang keliru dipahami atau terselewengkan.

1.    Tentang Orisinalitas Alquran

Perlu ditegaskan bahwa yang muktabar bagi syiah imamiyah itsna asyariyah yang pengikutnya mayoritas di dunia dan di Indonesia adalah menolak terjadinya tahrif pada Alquran, baik itu penambahan maupun pengurangan pada  Alquran. Hal ini banyak ditegaskan para ulama syiah dari masa lalu hingga kini. Karenanya, untuk mendudukan persoalan tersebut, dan sebelum mengulas tentang tahrif Alquran, perlu diketahui, menurut para ulama syiah, Al-Quran diturunkan dalam dua tahap. Pertama, sabil al-ijmal (marhalah al-ihkam), yaitu diturunkan secara keseluruhan dalam bentuk global. Kedua, sabil at-tafshil (marhalah at-tafshil), yaitu diturunkan secara berangsur-angsur sejak Rasul saaw di utus hingga akhir hayatnya (lihat Baqir al-Hakim, Ulum al-Quran, hal. 27-28)   

Ayatullah Baqir al-Hakim menjelaskan yang dimaksud diturunkannya wahyu itu secara global yaitu turunnya ilmu-ilmu Allah swt, termasuk Alquran dan rahasia-rahasia besar yang terkandung di dalamnya ke dalam hati Rasulullah saaw agar hatinya dipenuhi dengan cahaya pengetahuan al-Quran (Ulum al-Quran, hal. 27). Jadi, nuzul al-Quran (turunnya Alquran) itu terdiri dari dua hal, yakni teks Alquran dan makna Alquran (tafsir, takwil, hukum, rahasia-rahasianya, dan lainnya). Karena itulah, maka Rasulullah saaw adalah orang pertama yang menguasai maksud dan makna teks-teks Alquran itu, beliaulah penafsir pertama Alquran. Karena itu adakalanya Rasul saaw menyampaikan teks sekaligus makna yang terkandung di dalamnya. Inilah yang disebut hakikat nuzul Alquran yang mana Allah swt yang menurunkannya, membacakanya, mengumpulkannya di dalam dada Nabi saaw, dan menjelaskan maksudnya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Alquran sendiri : “Janganlah engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk mebaca Alquran) karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya KAMI YANG AKAN MENGUMPULKANNYA (di dadamu) dan MEMBACAKANNYA. APABILA KAMI TELAH SELESAI MEMBACAKANNYA, MAKA IKUTILAH BACAANNYA ITU. KEMUDIAN, SESUNGGUHNYA KAMI YANG AKAN MENJELASKANNYA.” (Q.S. al-Qiyamah : 16-19)

Syaikh Shaduq dalam kitabnya al-I’tiqadat hal. 83-84 menjelaskan tentang akidah syiah tentang Alquran sebagai berikut :

“Keyakinan kami tentang Alquran, adalah Kalam Allah, wahyu-Nya, firman dan kitab suci-Nya. Ia tidak didatangi kebatilan dari depan maupun belakang. Ia diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijak dan Maha Mengetahui. Ia mengandung kisah-kisah yang benar, ucapan pemutus, dan bukan senda gurau…Sungguh, Keyakinan kami bahwa Alquran yang diturunkan Allah kepada nabi-Nya, Muhammad saaw adalah apa yang termuat di antara dua sampul (mushaf) yang sekarang beredar di tengah-tengah manusia. Tidak lebih dari itu. Jumlah surahnya adalah 114 surah…Dan barangsiapa menisbahkan kepada kami bahwa kami meyakini Alquran lebih dari itu maka ia adalah pendusta.

Setelah mengetahui dua jenis penurunan wahyu dan pendapat ulama muktabar, mari kita bisa menganalisis tentang tahrif  Alquran yang menjadi polemik sunni dan syiah. MMPSI menyebutkan bahwa ulama-ulama syiah meyakini terjadinya tahrif Alquran yang bermakna penambahan dan pengurangan Alquran. Hal ini dapat dilihat pada pernyataan MMPSI pada hal. 25-26 sebagai berikut :

  • “Menurut seorang ulama Syiah, al-Mufid, dalam kitab Awail al-Maqalat, menyatakan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak orisinal. Alquran sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan. Tokoh syiah lain mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi, menyatakan bahwa Alquran telah mengalami pengurangan dan perubahan. Al-Qummi, tokoh mufassir syiah, menegaskan dalam muqaddimah tafsirnya bahwa ayat-ayat Alquran ada yang diubah sehingga tidak sesuai dengan ayat aslinya seperti ketika diturunkan oleh Allah. Abu Manshur Ahmad bin Ali al-Thabarshi, seorang tokokh syiah abad ke-6 H menegaskan dalam kitab al-Ihtijaj, bahwa Alquran yang ada sekarang adalah palsu, tidak asli, dan telah terjadi pengurangan. Ni’matullah al-Jazairi menyatakan dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah, semua imam syiah menyatakan adanya tahrif (perubahan) Alquran, kecuali pendapat Al-Murtadha, as-Shaduq, dan al-Thabarshi yang berpendapat tidak ada tahrif. Dalam keterangan selanjutnya ia menjelaskan bahwa ulama yang menyatakan tidak ada tahrif pada Alquran itu sedang bertaqiyah” (hal. 25-26). 

Tanggapan :

Pernyataan MMPSI di atas menyebutkan lima ulama syiah yang menyatakan tahrif Alquran, yaitu : Syaikh Mufid, Allamah Al-Majlisi, Al-Qummi, Ahmad bin Ali at-Thabarshi, dan Ni’matullah al-Jazairi.

Sekarang mari kita bandingkan pernyataan MMPSI tersebut dengan pernyataan ulama syiah, Al-Fadhl ibn al-Hasan Abu Ali At-Thabarsyi dalam kitabnya tafsirnya Majma’ al-Bayan sebagai berikut : 

Adapun tentang adanya penambahan pada Alquran maka hal tersebut disepakati sebagai sesuatu yang batil. Sedangkan adanya pengurangan dari Alquran maka beberapa dari kalangan kami (imamiyah) dan juga dari kalangan ahlussunnah, ada riwayat bahwa di dalam Alquran terjadi perubahan dan pengurangan. Akan tetapi yang benar menurut mazhab kami dan mazhab mereka ialah kebalikan dari itu. Dan pendapat yang demikian itulah yang didukung oleh al-Murtadha, semoga Allah mensucikan ruh beliau.” (At-Thabarsi, Tafsir Majma’ al-Bayan jilid 1, h. 15)

Dari pernyataan at-Thabarsyi di atas maka kita bisa mengambil kesimpulan :

  1. Tentang penambahan Alquran disepakati kebatilannya dan tertolak.
  2. Tentang pengurangan Alquran, maka terdapat ulama imamiyah dan  ulama Ahlussunnah yang meriwayatkan terjadinya hal tersebut. Mereka hanya menyampaikan riwayat bukan berpendapat adanya tahrif.
  3. Para ulama syiah dan sunni, membahas pendapat dan riwayat-riwayat tentang pengurangan Alquran ini dan menolak terjadinya hal tersebut dengan argumentasi-argumentasi yang tak terbantahkan. Karenanya, menisbatkan kepada syiah atau kepada sunni keyakinan terjadinya tahrif  Alquran dalam makna pengurangan Alquran juga tidak bisa diterima.

Lantas apakah kelima ulama syiah yang disebutkan oleh MMPSI tersebut meyakini terjadinya tahrif dan pengurangan Alquran? Jawabnya , tidak!. Berikut ini kita diskusikan.

1. Syaikh Mufid. 

MMPSI menyatakan :

  • Syaikh Mufid dalam kitab Awail al-Maqalat, menyatakan bahwa Alquran yang ada saat ini tidak orisinal. Alquran sekarang sudah mengalami distorsi, penambahan dan pengurangan”. (hal. 25). [Dalam footnote-nya disebutkan dikutip dari kitab Awail al-Maqalat, hal. 80-81].

Sekarang mari kita lihat isi kitab Awail al-Maqalat pada halaman 80-81 bab “Pendapat tentang Penyusunan Alquran, Penambahan dan Pengurangannya” sebagai berikut :

 القول في تأليف القرآن وما ذكر قوم من الزيادة فيه والنقصان

 

أقول: إن الأخبار قد جاءت مستفيضة عن أئمة الهدى من آل محمد (ص)، باختلاف القرآن وما أحدثه بعض الظالمين فيه من

الحذف والنقصان، فأما القول في التأليف فالموجود يقضي فيه بتقديم المتأخر وتأخير المتقدم ومن عرف الناسخ والمنسوخ والمكي والمدني لم يرتب بما ذكرناه وأما النقصان فإن العقول لا تحيله ولا تمنع من وقوعه، وقد امتحنت مقالة من ادعاه، وكلمت عليه المعتزلة وغيرهم طويلا فلم اظفر منهم بحجة اعتمدها في فساده

وقد قال جماعة من أهل الإمامة إنه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ولكن حذف ما كان مثبتا في مصحف أمير المؤمنين (ع) من تأويله وتفسير معانيه على حقيقة تنزيله وذلك كان ثابتا منزلا وإن لم يكن من جملة كلام الله تعالى الذي هو القرآن المعجز، وقد يسمى تأويل القرآن قرآنا قال الله تعالى: (ولا تعجل بالقرآن من قبل أن يقضى إليك وحيه وقل رب زدني علما) فسمى تأويل القرآن قرآنا، وهذا ما ليس فيه بين أهل التفسير اختلاف

وعندي أن هذا القول أشبه من مقال من ادعى نقصان كلم من نفس القرآن على الحقيقة دون التأويل، وإليه أميل والله أسأل توفيقه للصواب

”Sesungguhnya riwayat-riwayat yang diperoleh dari imam-imam pemberi petunjuk dari keluarga Muhammad saaw, terdapat pernyataan tentang perbedaan Alquran, dan juga yang menceritakan tentang sebagian orang-orang zalim yang membuang dan mengurangi Alquran. Yaitu terjadi pada saat penyusunan (Alquran) dengan memerintahkan mendahulukan yang akhir dan mengakhirkan yang terdahulu, mengenalkan nasakh dan mansukh, makkiyah dan madaniyyah, tidaklah teratur sebagaimana disebutkannya. Adapun tentang pernyataan pengurangan (Alquran) yang secara akal tidaklah mustahil dan tidak terlarang terjadinya, maka setelah aku mencermati dari para penyerunya dan pernyataan dari Muktazilah dan selain mereka, maka tidaklah dapat diambil dan bersandar pada hujjah mereka yg rusak tersebut.

DAN TELAH BERAKATA JAMAAH AHLI IMAMAH (KELOMPOK SYIAH), SESUNGGUHNYA ALQURAN TIDAK BERKURANG WALUPUN HANYA SATU KATA, SATU AYAT, ATAU SATU SURAT. Akan tetapi (yang) dihapus (adalah) apa-apa yang ada dalam mushaf Amirul Mukminin as yang merupakan ta’wil dan tafsir makna-maknanya sesuai dengan hakikat turunnya. Yang demikian itu (ta’wil dan tafsir) sekalipun telah diturunkan Allah, tetapi itu bukan bagian dari friman Allah Alquran yang mukjizat. DAN MENURUT SAYA PENDAPAT INI LEBIH TEPAT DARIPADA PENDAPAT ORANG YANG MENGANGGAP ADANYA PENGURANGAN FIRMAN DARI ALQURAN ITU SENDIRI YANG BUKAN TA’WILNYADAN SAYA MEMILIH PENDAPAT INI. Hanya kepada Allah lah saya memohon taufiq untuk kebenaran.” (Awail al-Maqalat hal. 80-81)….{Setelah menolak pengurangan Alquran, kemudian Syaikh Mufid menjelaskan penolakanya terhadap penambahan Alquran}.

Jadi, sungguh aneh bin ajaib, MMPSI ini menuduh Syaikh Mufid mengakui tahrif Alquran. Kesimpulan kita sementara ini, penyimpangan MMPSI ini karena mengarahkan pandangannya pada judul bab dan ungkapan awal Syaikh Mufid dan meninggalkan bagian akhirya (mungkin ini bukan kesengajaan). Tetapi ini kesalahan fatal, karena menyebabkan manipulasi informasi dan menebarkan fitnah yang membahayakan. (bersambung)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL