Konflik horizontal Sunni-Syiah akhir-akhir ini semakin merebak di Indonesia. Fitnah-fitnah bertebaran, mengancam ukhuwah dan persatuan NKRI. Bahkan secara sistematis, sekelompok pihak merilis buku Buku Panduan MUI: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (MMPSI), membagi-bagikannya secara gratis di berbagai kota se-Indonesia. Padahal, secara informal, beberapa tokoh MUI menyatakan bahwa buku ini bukan terbitan resmi MUI. Ada baiknya, dalam rangka ukhuwah, kita mencoba mengkritisi apa saja kesalahan yang dimuat di buku MMPSI ini. Berikut ini kami sajikan artikel yang mengkritisi buku MMPSI, ditulis oleh cendekiawan muslim dari Sumatera Utara, Candiki Repantu. Tulisan dimuat dalam beberapa bagian.

MUI

b.   Selain Syiah Masuk Neraka

Selanjutnya yang dituduh oleh MMPSI mengafirkan umat Islam adalah Mirza Muhammad Taqi. MMPSI mengutip dari kitab Shahifah al-Abrar vol. 1, hal. 342 karya Mirza Muhammad Taqi dan menyatakan :

“Mirza Muhammad Taqi mengatakan bahwa selain orang syiah akan masuk neraka selama-lamanya. Meskipun semua malaikat, semua nabi, semua syuhada, dan semua shiddiq menolongnya, tetap tidak bisa keluar dari neraka (hal. 43).

Tanggapan :

Kali ini, MMPSI menuduh Mirza Muhammad Taqi telah mengkafirkan umat Islam semuanya termasuk ahlussunnah di dalam kitabnya Shahifah al-Abrar vol. 1, hal. 342. Tetapi, setelah kita memeriksa kitabnya, ternyata kita tidak menjumpai pernyataan tersebut. Yang terjadi adalah, MMPSI melakukan penyelewengan makna hadis yang dinukil oleh Mirza Muhammad Taqi dari Syaikh Shaduq. Yang mana hadis tersebut menyebutkan ‘nashibi’ secara khusus, kemudian di ubah maknanya oleh MMPSI dengan memaknainya secara umum sebagai “selain orang syiah (non-syiah)”. Ini adalah penyelewengan yang fatal.

Berikut ini hadis yang dinukil oleh Mirza Muhammad Taqi di dalam kitabnya Shahifah Al-Abrar vol. 1, hal. 342, dibawah judul “Tidak berlakunya Syafaat bagi Nashibi” :

“Ke-sembilan puluh lima dari kitab ‘Iqab al-A’mal karya Shaduq, dari ayahnya dari Ahmad bin Idris, dari Muhammad bin Ahmad, dari Ibrahim bin Ishak, dari Abdullah bin Hammad, dari Abdullah bin Bakir, dari Himran bin ‘Ayun dari Abu Ja’far as berkata, “Seandainya setiap penguasa yang dijadikan Allah Azza wa Jalla, setiap Nabi yang diutusnya, setiap syahid, dan setiap shiddiq memberikan syafaat kepada NASHIBI—orang yang membenci dan memusuhi—ahlul Bait supaya Allah azza wa jalla mengeluarkannya dari neraka, niscaya Allah tidak akan mengeluarkannya selamanya, dan Allah berfirman dalam kitab-Nya, “Mereka tinggal di dalam neraka selamanya”. (Shahifah Al-Abrar vol. 1, hal. 342)

Makna yang diselewengkan MMPSI adalah pengertian nashibi di dalam hadis tersebut. Yakni, nashibi diartikan MMPSI dengan makna “selain orang syiah” (non-syiah). Memang nashibi pasti bukan syiah, tetapi tidak bisa dimaknai secara general untuk keseluruhan non-syiah. Ahlussunnah misalnya, mereka bukanlah penganut syiah, tetapi mereka juga bukan penganut nashibi. Terdapat perbedaan yang jauh antara makna nashibi secara khusus dengan non-syiah secara umum. Bahkan bagi umumnya syiah, nashibi itu kafir dan najis.

Jadi, yang disebut di dalam hadis di atas yang tidak akan diterima syafaatnya dan kekal di neraka adalah kaum nashibi, bukan ahlussunnah. Siapakah yang dimaksud dengan nashibi? Nashibi adalah orang yang membenci dan memusuhi ahlul bait Nabi saw, yang kebencian dan permusuhannya itu merupakan bagian dari akidah atau ajarannya. Sayid Ni’matullah al-Jazairi menjelaskan : “Tentang nashibi,….pertama, makna nashibi yang disebutkan dalam riwayat-riwayat sebagai najis dan lebih buruk dari Yahudi, Nasrani, Majusi, dan kafir najis dengan ijma’ ulama imamiyah (syiah), maka menurut para sahabat kami, nashibi adalah yang memusuhi ahlul bait Nabi dan secara nyata membenci mereka, seperti khawarij. (Anwar an-Nu’maniyah juz 2 hal. 210). Syaikh Muhammad Jawad Mughniyah saat menjelaskan nashibi menyatakan bahwa barangsiapa menyatakan permusuhan dengan ahlulbait Rasulullah saaw atau dengan salah seorang dari mereka, maka ia kotor dan najis, karena memusuhi keluarga Rasul berarti memusuhi Rasul, dan memusuhi Rasul sama dengan memusuhi Allah swt (Mughniyah, Fikih Imam Ja’far Shadiq, juz 1, 2009, hal. 61)

Bukan hanya Syiah, para ulama sunni juga menjelaskan bahwa nashibi adalah pembenci Ahlul Bait, khususnya Imam Ali. Ibn Manzur dan Al-Zubaidi menyatakan bahwanawashib adalah kaum yang membenci dan memusuhi Imam Ali as, dan menjadikan itu bagian ajaran akidah mereka, seperti kelompok khawarij (lihat Lisan Al Arab juz 1, hal. 762; Taj al-Arus juz 4). Jadi, nashibi bukanlah sunni, atau keseluruhan umat Islam selain syiah.

Karenanya memaknai nashibi dengan ahlussunnah atau selain syiah secara umum adalah penyimpangan dan propokasi yang membahayakan. Apakah Ahlussunnah membenci dan memusuhi ahlul bait dan menjadikan kebencian kepada ahlul bait itu sebagai akidahnya? MMPSI yang ditulis para ulama dan akademisi ini, semestinya menjunjung tinggi kejujuran ilmiyah dan etika akademis. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL