Konflik horizontal Sunni-Syiah akhir-akhir ini semakin merebak di Indonesia. Fitnah-fitnah bertebaran, mengancam ukhuwah dan persatuan NKRI. Bahkan secara sistematis, sekelompok pihak merilis buku Buku Panduan MUI: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (MMPSI), membagi-bagikannya secara gratis di berbagai kota se-Indonesia. Padahal, secara informal, beberapa tokoh MUI menyatakan bahwa buku ini bukan terbitan resmi MUI. Ada baiknya, dalam rangka ukhuwah, kita mencoba mengkritisi apa saja kesalahan yang dimuat di buku MMPSI ini. Berikut ini kami sajikan artikel yang mengkritisi buku MMPSI, ditulis oleh cendekiawan muslim dari Sumatera Utara, Candiki Repantu.Tulisan dimuat dalam beberapa bagian.

——–

MUI

Syiah Rafidhah dalam Periwayatan Hadis Sunni

Setelah kita saksikan bagaimana MMPSI mengarahkan pembaca untuk menyetujui kesesatan syiah dengan mengubah namanya menjadi rafidhah, maka berikutnya mencoba memperkuat asumsinya dengan menyatakan bahwa ulama hadis menolak periwayat rafidhah. Perhatikan pernyataan MMPSI di bawah ini :

  • “…Tidak ada syiah rafidhah yang dianggap moderat oleh para ulama salaf. Syiah moderat adalah syiah pada generasi sahabat dan thabiin yang berjuang bersama Ali dimana mereka tidak pernah bersikap ekstrim dalam memandang kedudukan Ali dan tidak pula mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar RA. Syiah moderat (yang tidak berakidah rafidhah) riwayatnya dapat diterima oleh para ulama hadis, tetapi tidak demikian halnya jika seorang perawi hadis tergolong syiah rafidah yang menolak, mencaci, dan mengafirkan Abu Bakar dan Umar serta mendakwahkan ajaran itu, pasti ditolak riwayatnya.” (hal. 18).

 

Tanggapan

Pernyataan MMPSI ini saling bertentangan dalam menjelaskan tentang rafidhah dan syiah moderat. Perhatikan, MMPSI menyatakan “Tidak ada syiah rafidhah yang dianggap moderat”. Siapakah yang dimaksud syiah moderat? MMPSI menyatakan : “Syiah Moderat adalah syiah yang tidak pernah bersikap ekstrim dalam memandang kedudukan Ali dan tidak pula mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar ra, dan riwayat dari syiah moderat (yang tidak berakidah rafidhah) dapat diterima”. Ini berarti : siapa saja yang menganggap Imam Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar maka dia bukan syiah moderat, tetapi syiah rafidhah dan tidak diterima hadisnya.

Tetapi mengapa lantas MMPSI menambah embel-embel rafidhah dengan kalimat “mencaci maki dan mengafirkan Abu Bakar dan Umar”? Ini adalah kerancuan dan pertentangan yang di alami oleh MMPSI ini. Atau mungkin MMPSI ingin menyebutkan ada tiga jenis syiah, yakni syiah moderat, syiah tidak moderat, dan syiah rafidhah?

Kerancuan itu akan semakin terlihat saat kita merujuk pada catatan kakinya no. 26 dimana MMPSI menyatakan:

  • “Adz-Dzahabi ketika menjelaskan sosok perawi bernama Abban bin Taghlib (w.141 H), meski ia syiah, riwayatnya diterima oleh ulama ahli hadis seperti Imam Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i, karena ia dinilai moderat dan tidak berakidah rafidhah yang menista dan mengafirkan Abu Bakar dan Umar ra.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Dia tsiqah ada sedikit tasayyu berada di tingkatan ke-7”Demikian halnya dengan sosok Syarik bin Abdillah (95-178) diterima riwayatnya karena tidak berakidah rafidhah. Bandingkan dengan pernyataan Abdul Husain al-Musawi dalam kitab al-Murajaat “Dialog Sunnah-Syiah” yang menyebut kedua orang itu dalam 100 perawi syiah dalam jalur sanad Ahlussunnah di Muraja’at (dialog) ke-16. Ia ingin menggiring opini bahwa perawi-perawi hadis ahlussunnah sebagiannya berakidah rafidhah sama dengan dirinya, padahal tidak demikian.”  (footnote no. 26 hal. 18).

Perhatikan, MMPSI dengan berpegang pada Adz-Dzahabi menyatakan bahwa Abban bin taghlib adalah syiah moderat, dan syiah moderat sesuai dengan defenisi yang dibuat MMPSI sendiri yaitu “syiah yang tidak memandang kedudukan Ali lebih utama dari Abu Bakar dan Umar.” Sekarang mari kita lihat, dengan defenisi MMPSI tersebut, apakah Abban bin Taghlib termasuk syiah moderat? Jawabnya tidak! Karena Adz-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidalnya jilid 1: 5-6 ketika membahas biografi Abban bin Taghlib dengan jelas menyatakan bahwa, “Abban bin Taghlib lebih mengutamakan Ali dari Abu bakar dan Umar” :

ولم يكن أبان بن تغلب يعرض للشيخين أصلا ، بل قد يعتقد عليا أفضل منهما

“Dan tidaklah Abban bin Taghlib seperti itu, yang mana dia tidak membincangkan Syaikhain (Abu Bakar dan Umar), tetapi ia meyakini bahwa Ali lebih utama dari keduanya.” (Mizan al-I’tidal jilid 1: 5-6).

Jadi, Abban bin Taghlib lebih mengutamakan Imam Ali daripada Abu Bakar dan Umar, dengan demikian Abban bin Taghlib bukanlah syiah moderat (menutut defenisi MMPSI), tetapi termasuk syiah ekstrim atau rafidhah dan ternyata riwayatnya diterima. Adapun tambahan dari MMPSI bahwa rafidah itu mencaci dan mengafirkan Abu Bakar dan Umar bertentangan dengan makna syiah moderat yg mereka buat sendiri dan bertentangan dengan penjelasan para ulama seperti Ibnu Hajar (lihat bagian 4) dan lainnya bahkan adz-Dzahabi yang keras penentangannya terhadap rafidhah tidak seberani MMPSI dalam mendefenisikan rafidhah. Ia menulis :

…. ثم بدعة كبرى ، كالرفض الكامل والغلو فيه

فالشيعي الغالى في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا رضى الله عنه ، وتعرض لسبهم . والغالي في زماننا وعرفنا هو الذى يكفر هؤلاء السادة ، ويتبرأ من الشيخين أيضا

“Kedua, bid’ah kubra, seperti rafidhah yang ekstrim……..Syiah ghulat/ekstrim pada zaman salaf dan menurut pemahaman mereka adalah orang yang menceritai Usman, Zubair, Thalhah, Muawiyah, dan kelompok yang memerangi Ali ra. Dan hal itu untuk mencaci mereka. Adapun saat ini dalam pemahaman kita bahwa syiah ghulat/ekstrim adalah orang-orang yang mengafirkan mereka, dan berlepas diri (tabarra) dari syaikhain (Abu Bakar dan Umar).” (Mizan al-I’tidal, 1/5-6)

Jadi, Adz-Dzahabi mengakui bahwa ia membuat defenisi baru rafidhah—yang menyimpang dari defenisi ulama salaf dan tentu ini untuk mendeskriditkan syiah—dalam menilai kedudukan syaikhain (Abu Bakar dan Umar) yakni dengan menyebutkan bahwa syiah ekstrim (rafidhah) adalah berlepas diri dari Abu Bakar dan Umar. Tetapi MMPSI membuat defenisi baru lagi dengan menyebutkan bahwa rafidhah mengafirkan Abu bakar dan Umar.

Begitu pula, MMPSI menyebutkan bahwa rafidhah tidak diterima periwayatan hadisnya oleh ulama-ulama hadis. Tapi pernyataan MMPSI tak lebih dari prasangka saja. Karena kalau kita memeriksa enam kitab hadis standar sunni (kutub as-sittah) maka di sana terdapat perawi-perawi rafidhah yang dikaui dan diterima hadisnya. Pada kesempatan ini saya ingin mengutip beberapa nama perawi yang dinyatakan sebagai rafidhah atau syiah ekstrim dan riwayatnya diterima. Dan saya membatasi hanya mengutip rawi yang hadisnya diriwayatkan oleh dua kitab paling shahih dimuka bumi ini yakni Shahih Bukhari dan Muslim. Mari kita lihat lihat bukti-bukti berikut ini :

  1. Imam Bukhari dalam shahihnya hadis no. 6980 meriwayatkan : “Telah menceritakan kepadaku Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari al-Walid (dalam jalur lain disebutkan) telah menceritakan kepadaku Abbad bin Ya’qub al-Asadi telah mengabarkan kepada kami Abbad bin al-‘Awwam dari asy-Syaibani dari al-Walid bin ‘Aizar dari Abu ‘Amru dan asy-Syaibani dari Ibn Mas’ud ra, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya Nabi saw, amalan apa yang paling utama? ‘ Nabi menjawab: “Shalat tepat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan jihad fi sabilillah.

Dalam rangkaian sanad hadis di atas kita menemukan nama Abbad bin Ya’qub al-Asadi, seorang rafidhah. Adz-Dzahabi dalam Mizan Al Itidal jilid 2 hal 376 no. 4149 menyebutkan :

عباد بن يعقوب [ خ ، ت ، ق ] الاسدي الرواجنى الكوفى ، من غلاة الشيعة ورؤوس البدع ، لكنه صادق في الحديث .. وعنه البخاري حديثا في الصحيح مقرونا بآخر ، والترمذي ، وابن ماجة وابن خزيمة ، وابن أبى داود

Abbad bin Ya’qub al-Asadi ar-Rawajini al-Kufi adalah seorang syiah ekstrim (rafidhah) dan ahli bid’ah tetapi jujur dalam penyampaian hadis Hadisnya diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Abi Dawud.:”

2. Harun bin Saad al-Ajli. Adz-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal  jilid 4 hal 784 no. 9159, adalah perawi yang dapat diterima hadisnya. Tetapi beliau juga dinyatakan sebagai Rafidhah.

 هارون بن سعد العجلى . صدوق في نفسه ، لكنه رافضي بغيض . روى عباس عن ابن معين ، قال : هارون بن سعد من الغالية  في التشيع 

“Harun bin Sa’ad al-Ajli, jujur pada dirinya (shaduq fi nafsihi), tetapi rafidhi ekstrim. Diriwayatkan dari Abbas dari Ibnu Main yang berkata, “Harun bin Saad adalah dari tasyayu’ ekstrim…

Ibnu Hajar dalam Tahdzib at-Tahdzib jilid 11 hal 6 no. 9 menyatakan : “Muslim dalam shahihnya…Harun bin Saad al-Ajli…berkata Ahmad, “banyak orang yang meriwayatkan darinya dan dia solih”… Disebutkan oleh Ibnu Hibban di dalam ats-Tsiqat dan juga ad-Dhua’fa bahwa “Harun bin Saad adalah rafidhah ekstrim, tidak boleh meriwayatkan darinya”. Berkata ad-Dauri dari Ibnu Main bahwa Harun adalah syiah ekstrim. As-Saji juga menyatakan bahwa Harun adalah rafidhah ekstrim.”

Dan ketahuilah bahwa Harun bin Saad al-Ajli yang rafidhah ini adalah perawi sahih Muslim, seperti hadis no. 5090 sebagai berikut : “Telah menceritakan kepadaku Suraij bin Yunus telah menceritakan kepada kami Humaid bin Abdurrahman dari al-Hasan bin Shalih dari Harun bin Sa’ad dari Abu Hazim dari Abu Hurairah berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: “Gigi geraham orang kafir atau gigi taring orang kafir seperti gunung Uhud dan tebalnya kulit orang kafir sejauh perjalanan tiga (hari).”

3. Imam Bukhari dalam shahihnya no. 6891 meriwayatkan, : “Telah menceritakan kepada kami al-Humaidi telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin A’yun dan Jami’ bin Abu Rasyid dari Abu Wail dari Abdullah ra berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berambisi memperoleh harta seorang muslim dengan sumpah palsu, ia berjumpa Allah sedang Allah dalam keadaan murka kepadanya.” Abdullah berkata, “Kemudian Rasulullah saw membacakan kitabullah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang membeli janji Allah dan sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh bagian di akherat, dan Allah tidak mengajak mereka bicara’. (QS.Ali Imran: 77).”

Dalam sanad riwayat Bukhari di atas terdapat nama Abdul Malik bin A’yun al-Kufi. Beliau adalah seorang rafidhah dan saudara Zurarah bin A’yun seorang syiah yang sangat terkenal. adz-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal jilid 2 hal 651, no. 5190 menyatakan :

عبدالملك بن أعين [ عو ، خ ] . عن أبى وائل وغيره . وقال ابن معين : ليس بشئ . وقال آخر : هو صدوق يترفض . قال ابن عيينة : حدثنا عبدالملك: وكان رافضيا

“Abdul Malik bin A’yun meriwayatkan dari Abi Wail dan selainnya… Berkata Ibnu Main, “tidak ada apa-apanya”, dan berkata juga, “Jujur, rafidhi”…bekata Ibnu Uyainah, “menceritakan kepada kami Abdul Malik, dan dia rafidhah.”

Ibnu Hajar dalam Tahdzib at-Tahdzib jilid 6 hal 385, no. 729 menyatakan : “Abdul malik bi A’yun al-Kufi…berkata al-Humaidi dari Sufyan, menceritakan kepada kami Abdul Malik bin A’yun, Syi’i, di sisi kami ia rafidhi…Berkata Hamidi dari Sufyan, “mereka adalah tiga bersaudara, yakni Abdul Malik, Zurarah, dan Himran, mereka semua rafidhah.”

Dan ketahuilah bahwa Abdul Malik yang rafidhah ini adalah perawi enam kitab hadis sunni yakni Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Nasai, Sunan Ibnu Majah, Sunan Abu Dawud dan Sunan Tirmidzi.

Kita cukupkan tiga contoh di atas, dimana perawi yang dikatakan rafidhah, rafidhah ekstrim, atau syiah ekstrim ternyata riwayatnya di terima di kitab-kitab shahih sunni bahkan kutubus sittah (enam kitab paling standar di sunni) meriwayatkan dari perawi rafidhah. Dengan bukti-bukti ini, maka benarlah pernyataan Sayid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi di dalam kitabnya alMuraja’at bahwa banyak periwayat syiah dalam kitab-kitab hadis sunni, sedangkan klaim MMPSI hanyalah prasangka saja. (bersambung)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL