Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad

 “Sungguh pada diri Rasulullah ada uswatun hasanah” (Q.S. Al-Ahzab: 21)

“Sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (Q.S. Al-Qalam: 4)

muhammadBanyak tulisan keliru dalam memandang kedudukan kenabian. Misalnya memandang Nabi sama seperti manusia biasa lainnya, sehingga terdapat beberapa buku dan artikel yang ditulis untuk mengulas dimensi kemanusiaan Nabi Muhammad saw. Bahkan sebagiannya menganggap Nabi boleh saja berbuat salah atau maksiat.

Jika dengan baik dan sabar memahami kedudukan kenabian, terutama kedudukan Nabi Muhammad Saw, maka akan jelas bahwa tidak ada satu orang pun umat Islam yang menolak kemanusiaan para Nabi. Sebab Nabi itu memang manusia. Tetapi yang penting diperhatikan dan diungkap bukanlah “sisi kemanusiaan nabi”, tetapi adalah “sisi kenabian manusia”. Ungkapan yang terakhir ini menunjukkan bahwa manusia adalah suatu maujud sedangkan kenabian adalah suatu predikat yang dicapai oleh manusia dengan pengendalian seluruh potensinya secara kreatif. Sebab itu, jangan sampai salah memberikan penilaian antara manusia yang Nabi dan manusia yang bukan Nabi, sehingga menyamakan derajat kenabian dengan derajat kita sebagai manusia umumnya. Orang-orang kafir dahulu juga telah terjebak dalam anggapan seperti ini sebagaimana diutarakan Alquran :

“Dan mereka yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka, ‘orang ini (Muhamamad) tidak lain hanyalah seorang manusia seperti kamu, maka apakah kamu menerima sihir itu, padahal kamu menyaksikannya’?”(Q.S. Al-Anbiya: 3)

“Maka pemuka-pemuka yang kafir diantara kaumnya menjawab,’orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi daripada kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti ini) pada masa nenek moyang kami dahulu”. (Q.S. Al-Mukminun: 24)

Jika kita memperhatikan ayat-ayat al-Quran yang membicarakan tentang kemanusiaan Muhammad, maka umumnya ayatnya menggunakan kata ‘Basyar’ yang lebih menunjukkan sisi biologis manusia bukan kata insan atau al-Nas yang lebih merujuk pada sisi psikologis (ruhaniah) dan sosiologis. Perbedaan semantik tiga kata ini sangatlah jelas, dan akan semakin tampak jika dilakukan penyelidikan linguistik secara lebih akurat terhadap semua kata dalam al-Quran yang menggambarkan makna manusia.

Setelah melakukan kajian ‘semantikologi’ tentang makna manusia alangkah lebih holistiknya (menyeluruh) jika kemudian dilakukan pendekatan munasabah untuk menilai relevansi dan koneksi/hubungan antar ayat yang menggambarkan sisi kemanusiaan itu sama sekaligus memilki perbedaan. Misalnya, firman Allah dalam Alquran :

Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang soleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Q.S. Shaad: 28)

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” (Q.S. Al-Zumar: 9)

Jika kita benar-benar membaca dan memahami koneksi antar ayat tersebut, maka kita tidak akan bingung mendudukkan “kenabian” dan “kemanusiaan” dalam satun sosok, di mana ada manusia yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan dirinya sehingga tidak akan terjadi lupa, salah, dan maksiat, yang dalam istilah teologis disebut kemaksuman (ishmah).

Berkenaan dengan hadits Nabi yang berbunyi “bahwa apabila aku (nabi Muhammad) memerintahkan sesuatu dari al-Din (agama), maka perpegangilah, dan jika aku (nabi Muhammad) memerintahakan dengan sesuatu dari ra’y (rasio), maka sesungguhnya aku (nabi Muhammad) manusia”. Dan juga hadits, ”Sesungguhnya saya (Nabi Muhammad) ini manusia biasa. Kamu bersengketa dihadapan saya (Nabi Muhammad), barangkali sebagian kamu lebih lihai berbicara daripada yang lain. Saya (Nabi Muhammad) hanya memutuskan perkara dari hasil pendengaran saya (Nabi Muhammad) saja. Barangsiapa telah saya (Nabi Muhammad) menangkan padahal memakan hak saudaranya, hendaknya tidak mengambilnya, karena sesungguhnya aku (Nabi Muhammad) telah memberinya sepotong api neraka”.

Maka sebagai perbandingan cukuplah kiranya membandingkan hadits di atas dengan ungkapan Alquran di bawah ini yakni : “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).(Q.S. An-Najm:1-4). Kemudian perhatikan pula ayat ini : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. An-Nisa: 65).

Adapun tentang ayat, “Katakanlah: sesungguhnya aku (Muhammad) ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ”bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa……”(Q.S. Al-Kahfi: 110), sebenarnya semakin memperkuat kedudukan kenabian, karena ayat ini menegaskan bahwa Muhamad saw adalah manusia yang menerima wahyu. Penerimaan wahyu bukanlah bisa dilakukan oleh sembarang manusia, melainkan manusia-manusia khusus yang telah mencapai derajat tertentu di sisi Allah (derajat kenabian). Jadi jelasnya, Muhammad adalah manusia, hanya saja beliau telah mencapai prestasi dan predikat tinggi yakni kenabian. Predikat ini didapat melalui suatu perjuangan dan pergumulan manusia dengan alam internal dirinya dan alam eksternal disekelilingnya. Tidak pada tempatnya menguraikan kondisi dan karakter manusia yang mampu menerima serta menyampaikan wahyu, namun diantaranya yang mesti dimiliki adalah kemaksuman (Ishmah). (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*