quraish shihabOleh: KH Quraish Shihab*

Jika kita membahas “makna”, ada makna harfiah, ada makna substansi. Secara harfiah, Id berarti kembali, kebiasaan (adat), sesuatu yang dibuka/dibelah untuk dinampakkan. Dari akar kata yang sama juga lahir kata ‘membuka’, ifthar berarti berbuka puasa. Dari makna harfiah ini, ada yang mengatakan bahwa “Idul Fitri adalah hari berbuka setelah selama sebulan berpuasa”. Dan memang diharamkan berpuasa pada hari itu.

Yang lebih penting lagi dibahas adalah makna substansi. Id adalah hari dimana orang banyak berkumpul karena pada hari itu ada nilai-nilai yang disepakati sebagai sesuatu yang amat penting. Karena itu Id bermakna Hari Raya. Kalau kita melihat Al Quran atau hadis, kita akan menemukan umat nabi Isamenggunakan kata Id ini terkait dengan makanan “Isa putra Maryam berdoa, ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami makanan dari langit yang akan menjadi menjadi hari raya bagi kami, yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang akan datang sesudah kami” (Al Maidah 114).

Idul Fitri di sini bermakna hari raya makan. Itu sebabnya pada hari Idul Fitri semua orang harus makan, bukan hanya yang punya makanan (kaya). Setiap muslim yang punya kelebihan makanan dalam ukuran sehari semalam harus berzakat fitrah.

Kalau makna ini kita pahami, kita harus masuk lebih dalam lagi menyangkut ‘makan’. Pertama, bila diwajibkan bagi setiap muslim yang menjumpai awal Syawal untuk berzakat, artinya Islam sangat peduli pada pangan dan kewajiban sosial. Anda tidak ber-Idul Fitri kalau tidak memperhatikan pangan saudara-saudara yang kekurangan pangan.

Kedua, ingatlah bahwa melalui makanan setan menjerumuskan Adam dan juga menjerumuskan kita. Waktu kita mengaitkan makanan dengan Idul Fitri, kita harus mengingat bahwa setan menggoda Adam untuk mencicipi buah khuldi. Karena itu kita harus selalu waspada godaan setan.

Selain itu, kita harus berhati-hati dalam menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Pilihlah makanan yang baik untuk kesehatan dan berdampak baik.

Selanjutnya, kata fitri berasal dari fathara yang bermakna membelah sehingga nampak. Bisa juag berarti ‘asal kejadian’. Dulu pernah ada dua orang sahabat Nabi bertengkar di depan sumur, memperebutkan sumur. Salah satunya berkata “Ana fathartu” (saya yang membuat pertama kali).

Jadi Idul Firti bermakna ‘kembali ke asal’. Bisa ditafsirkan bahwa karena bulan Ramadhan adalah bulan ke-10, sementara manusia lahir setelah 9 bulan dalam kandungan, maka Ramadhan adalah saat dimana manusia seolah terlahir kembali. Nabipun bersabda, siapa yag berpuasa karena iman dan ikhlas kepada Allah, dia kembali tanpa dosa sebagaimana kejadiannya waktu pertama lahir.

Kita ini lahir tanpa ada membawa dosa. Asal kejadian kita itu ‘suci’. Arti suci ada 3: benar, baik, dan indah. Ketiganya harus bersamaan. Kalau cuma indah, tidak baik, tidak ada gunanya. Kita di hari Lebaran ini dianjurkan untuk memakai pakaian yang indah. Namun, itu hanya satu aspek. Apa artinya pakaian yang indah tapi hatinya busuk? Memperagakan yang indah, menghasilkan seni.Melakukan yang baik menghasilkan akhlak. Mencari yang benar menghasilkan ilmu. Jadi orang yang beridul fitri itu mestinya menjadi seniman, budiman, dan ilmuwan. Karena itulah esensi ‘suci’. (LiputanIslam.com)

*Ditranskrip dari rekaman ceramah di youtube

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL