Oleh : Nurcholis Madjid

cak-nur-nurcholish-madjidDari cerita di atas, jelas sekali terbukti bahwa bangsa Yahudi atau Bani Israil sesungguhnya tidak pernah mempunyai negeri yang tetap. Memang selama tiga generasi, yaitu dari masa Ibrahim terus ke Ishaq da kemudian Ya’qub , kelompok manusia yang Alquran (Q.S. Ali Imran: 33) menyebutnya dengan penuh hormat dan barkah sebagai “keluarga besar Ibrahim” (aalu Ibrahim) ini tinggal di Kana’an. Tetapi Ya’qub, meskipun dalam usia yang lanjut pindah ke Mesir dengan seluruh keluarganya. Dan di Mesir itulah, selama sekitar tujuh abad, mereka berkembang menjadi sebuah bangsa tersendiri. Mereka menetap di sana setelah kepindahan Ya’qub dari Kana’an sampai terjadinya eksodus di bawah pimpinan Nabi Musa as, suatu peristiwa yang sampai sekarang diperingati kaum Yahudi sebagai hari raya Passover yang melambangkan pembebasan mereka dari perbudakan.

Nabi Musa as memang ditugaskan oleh Tuhan untuk membebaskan Bani Israil dari penindasan dan perbudakan oleh Firaun. Bocah Musa sendiri memang dilahirkan dari ayah-ibu dari Bani Israil, namun ia dibesarkan dalam istana raja Mesir (Firaun), dan nama Musa itupun diberikan oleh Firaun (sebuah nama Mesir, bukan nama Ibrani). Bahasa Mesir kuno yang diarabkan menjadi “musa” itu berarti air, karena jabang bayi itu ditemukan isteri Firaun di sungai Nil—dihanyutkan oleh ibunya sendiri atas perintah Tuhan demi menyelamatkan bayi itu—yang kemudian diselamatkan oleh isteri Firaun dan diangkatnya sebagai anak sendiri. Tetapi Musa menyadari bahwa dia bukanlah orang Mesir, melainkan dari kalangan Bani Israil yang ditindas Firaun itu (ia tahu dari ibu kandung sendiri, yang secara mukjizat berhasil menjadi “baby sitter” dan penyusunya di istana).

Karena suatu peristiwa pembunuhan yang melibatkan dirinya, Musa melarikan diri dari Mesir dan ditampung serta diambil menantu oleh seorang bijak dari Madyan, sebuah tempat di Arabia Utara, pada pantai Laut Merah. Umumnya para ulama menyebut bahwa mertua Musa itu adalah Nabi Syuaib as, tetapi ada juga yang menyebutnya Yitsrun (Inggris: Jehro). Namun semua ahli sepakat bahwa siapapun dia, mertua Musa adalah seorang yang saleh dan terpandang, dan mengajari Musa untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa yang ia sebut Yahweh.

Dalam perjalanan bersama keluarganya dari Madyan ke Mesir untuk memenuhi perintah Tuhan membebaskan Bani Israil, Musa, dalam kegelapan malam buta dari jauh melihat api. Setelah ia datangi, ia dapatkan sebuah pohon menyala (burning bush), dan dari arahnya ia mendengar suara Tuhan menugasinya, dengan bekal berbagai kemampuan supranatural atau mukjizat, untuk pergi ke Mesir melawan Firaun yang tiranik. Dan kelak setelah berhasil membebaskan Bani Israil dan memimpinnya keluar dari Mesir, Nabi Musa berkhalwat di atas bukit Sinai selama empat puluh hari, lalu diterimanyalah Sepuluh Perintah yang terkenal, yang merupakan “taurah” (Taurat, hukum) dari Tuhan dan perjanjian (ahd atau mitsaq) antara Tuhan dan Bani Israil. Sepuluh Perintah itu tertera pada beberapa batu (Arab : alwah jamak dari lawh; Inggris : tablets).

Nabi Musa as memerintahkan untuk dibuatkan sebuah kotak besar yang disebut tabut (tabot atau tabotat) menurut petunjuk yang diterimanya dari Tuhan, dan dalam tabut itu disimpan naskah batu berisi Sepuluh Perintah tersebut. Maka kotak suci itupun dinamakan Kotak Perjanjian (Tabut al-Ahd; The Ark of the Covenant). Untuk mendidik Bani Israil agar selalu ingat dan berpegang teguh kepada perintah itu maka Nabi Musa as mengajari dan memimpin mereka mengerjakan sembahyang dengan menghadap Tabut tersebut sebagai kiblat. Sembahyang itu dilakukan dalam kemah besar yang dalam bahasa Ibrani disebut tabernakel, dengan tabut diletakkan di tengah.

Karena Bani Israil adalah masyarakat nomad atau baduwi, maka kemana pun pergi mereka selalu membawa tabernakel dengan Tabutnya itu. Nabi Musa as dengan kaumnya berusaha mencapai “tanah yang dijanjikan,” yaitu “Tanah Suci” (al-Ardl al-Muqaddasah), Kana’an, tempat nenek moyang mereka, Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Namun Musa tidak berhasil sampai beliau wafat, dan Bani Israil mengembara tidak menentu selama sekitar empat abad, sampai datangnya masa Nabi Dawud as. Nabi yang sekaligus raja ini mula-mula memerintah Hebron, kota tempat Nabi Ibrahim dulu menetap dan kemudian di makamkan. Berpangkal dari Hebron itu Nabi Dawud memimpin rakyatnya, Bani Israil, dalam usaha menguasai seluruh Kana’an, bahkan seluruh Palestina. Setelah Nabi Dawud berhasil mengalahkan tentara Jalut dalam suatu perang, David kills Goliath (lihat Q.S. al-Baqarah: 249-251), Bani Israil berhasil merebut Yerusalem atau al-Quds dari musuh mereka (disebut dengan bangsa Yakobit). Kemudian Dawud memilih bukit Zion (al-Shuhyun) untuk tempat ia mendirikan istana (maka gerakan di zaman modern yang bermaksud mengembalikan kekuasaan Yahudi di Palestina disebut Zionisme). Di samping itu Dawud juga memilih bukit Moriah untuk mendirikan tabernakel-nya dan meletakkan Tabut.

Tempat di mana Tabut itu persis diletakkan disebut Kadesh (Quds), yaitu “tempat paling suci” (the Holy of Holies). Sampai akhir-akhir ini semua orang mengira, atau malah yakin, bahwa tempat paling suci, titik letak Tabut, itu ialah Karang Suci atau Shakhrah. Tetapi konon temuan arkeologis yang paling akhir menyatakan bahwa the Holy of Holies itu bukanlah Shakhrah yang di atasnya dibangun sebuah bangunan indah itu, melainkan pada sebelah utaranya, jarak sekitar seratus meter, pada sebuah bangunan Islam berukuran kecil yang disebut Qubbat al-Alwah (Kubah Lempeng-lempeng Batu), yang kadang-kadang, mungkin karena salah eja, juga dinamakan Qubbat al-Arwah (Kubah Arwah). Tetapi kalaupun terbukti bahwa titik tempat Tabut itu memang di Qubbat al-Alwah, namun tidak berarti bahwa nilai keagamaan Shakhrah itu berkurang bagi kaum Yahudi, karena mereka percaya bahwa di situlah dahulu Ibrahim mencoba melaksanakan perintah Tuhan mengorbankan Ishaq, sebagaimana telah dibahas di muka. Dan kalau benar orang Yahudi mempercayai bahwa titik ditempatkannya Tabut itu ialah “batu fondasi bumi” atau, dalam bahasa Ibrani, Shetiyeh, maka yang paling mungkin Kadesh atau the Holy of Holies itu ialah Shakhrah yang dipercayai kaum Muslim sebagai tempat Nabi saw menjejakkan kaki untuk melakukan mi’raj. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL