sains islamTelah ittifaq (sepakat) ahli sejarah bahwaIslammemiliki peradaban gemilang di masa lalu yang dikenal dengan the golden age (masa keemasan Islam). Salah satu bidang peradaban yaitu ilmu pengetahuan (sains) mengalami kemajuan pesat tiada bandingnya pada saat itu. Kota-kota pusat Islam seperti Madinah, Baghdad, Mesir, Khurasan, Cordova, Granada, Seville, memiliki lembaga-lembaga pendidikan yang prestisius, perpustakaan-perpustakaan besar, dan berbagai pusat-pusat kajian baik di rumah para ilmuwan (ulama), istana raja, atau mesjid-mesjid. M.M. Syarif dalam Alam Pikiran Islam (1979) mengemukakan hasil penelitian Ballasteros dan Ribera yang mengungkapkan :

“Sekolah-sekolah taman kanak-kanak hampir cukup menampung semua kanak-kanak. Adapun perguruan-perguruan tinggi disiapkan dengan fakultas-fakultas, institut-institut dan universitas-universitas. Di samping itu terdapat pula ulama-ulama yang terkemuka, mengadakan pelajaran-pelajaran tersendiri di rumah mereka masing-masing dengan mata pelajaran yang sama. Menurut pendapat kepala-kepala negara, wali-wali daerah, menteri-menteri dan hartawan-hartawan, bahwa hendaklah masing-masing mereka menjadi penanggung jawab tentang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, mereka mengadakan sidang-sidang ilmiah dan sastera di istana mereka masing-masing. Di samping itu, mereka mendirikan sekolah-sekolah dan fakultas-fakultas serta mengadakan laboratorium-laboratorium dan membina rumah-rumah sakit.”

Dengan usaha dan kerja keras maka pada masa itu, peradaban Islam memiliki sederetan tokoh yang menguasai berbagai bidang disiplin ilmu termasuk sains. Di saat Barat dalam kodisi suram, Islam megalami kemajuan peradaban yang gemilang. Berikut ini kita dapat klasifikasikan perkembangan sains dan teknologi di masa klasik beserta tokoh-tokohnya yang utama.

Dalam Ilmu Sejarah kita memiliki tokoh-tokoh besar, di antaranya Abul Hasan al-Masudi (w. 956 M) pengarang Muruj al-Dzahab wa Ma’adin al-Jauhar (30 jilid); Ibnu Hayyan (w. 1076) pengarang al-Matien (60 jilid), at-Thabari pegarang Tarikh al-Umam wa al-Mulk atau yang populer dengan nama Tarikh at-Thabari, Ibnu al-Khatib (w. 1376 M) pengarang al-Ihatah fi Akhbar Ghirnatah, dan tentu saja Ibnu Khaldun (w. 1406 M) dengan karya besarnya Muqaddimah dan Tarikh Ibnu Khaldun.

Dalam bidang Matematika di antara tokohnya adalah al-Kindi (w. 869 M) yang menulis Risalah fi Madkhal ila al-Aritmatiqi (Risalah Pengantar Ilmu Hitung) dan Risalah al-Kammiyat al-Mudafah (Risalah Tentang Jumlah Relatif); al-Khawarizmi (w. 850 M) sang penemu angka nol dan al-goritma menulis buku al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah (Kompendium tentang Hitung al-Jabar dan Persamaan); Abu Kamil Suja al-Hasib al-Misri yang menulis Kitab fi al-Jam’ wa al-Tafriq ( Kitab Pertambahan dan Pengurangan); Abu al-Wafa (w. 998 M) yang menemukan teori sinus untuk segitiga bola dan yang pertama menggunakan istilah sinus, kosinus, tangen, kotangen, sekan, kosekan dalam trigonometri; yang dilanjutkan Abu Rayhan al-Biruni (w. 1048 M) yang merupakan ahli astronomi dan pengembang ilmu falak serta penyusun pertama tabel-tabel sinus dan tangen dalam sejarah matematika.

Adapun Fisika, kita mengenal di antara tokohya adalah Ibnu Haitsam/al-Hazen (w. 1039 M) yang meneliti optika dan menuliskannya dalam karyanya Kitab al-Manazir (Kamus Optika) sebanyak 7 jilid yang membantah teori Aristoteles dan Ptolemaeus dan mempengaruhi temuan Keppler, Roger Bacon dan Leonardo Da Vinci belakangan. Ibnu Haitsam juga sebagai penemu prinsip kelembaman atau inersia yang kemudian oleh Barat dikaitkan dengan nama Galileo. Al-Biruni juga merupakan fisikiawan terbesar yang meneliti mineral dengan timbangan yang diciptakannya sendiri dan menuliskannya dalam Maqal fi an-Nisab baina az-Zat wa al-Jawahir fi al-Hajm (Perihal hubungan antara Berat Logam dan Batu Mulia per Volume). Selain itu ada al-Khanizi ( yang menulis Kitab Mizan al-Hikmah (Neraca Kabijaksanaan) yang membahas teori keseimbangan secara rinci dan membuat tabel berat sejumlah logam dan mineral dalam air serta menerapkan prinsip hidrolika untuk pembuatan jam air. Kemudian ada Abu Izz  al-Jazari (abad ke-13) yang menulis Kitab al-Ma’rifah al-Hiyal al-Handasah (Buku Pengetahuan Mekanik dan Teknik) untuk membahas alat-alat hidrolik. Qasyhar al-Hanafi melanjutkan studi al-Jazari dan membuat teori mekanika kincir air. Astrolab yang diciptakannya hingga kini masih terpajang di Museum Nasional Napoli, Italia. (hd/liputaislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL