Oleh : K.H. Said Aqil Siroj

lebarannBagi umat Islam, momentum Hari Raya Idul Fitri adalah saat-saat penting untuk bersilaturrahmi dan saling memaafkan. Seluruh kesalahan yang pernah dilakukan terhadap sesama selama setahun, seolah ingin dilebur di Hari Lebaran nan mubarak itu. Di sini kita saling bermaafan, minal a’idin wal faizin. Sadar atau tidak sadar, ungkapan itu dalam masyarakat kita sering dimaknai, “mohon maaf lahir dan batin”. Meski secara kontekstual pemaknaan itu tidak terlalu menyimpang, keluasan dan kedalaman makna ungkapan tersebut tidaklah sepenuhnya terwakili dalam ungkapan “mohon maaf lahir dan batin”. Mengapa begitu?

Dalam istilah agama, ada yang disebut huququllah atau hak-hak Allah dan ada pula yang disebut  huququl insan atau hak asasi manusia. Dosa atau kesalahan manusia kepada Alllah menimbulkan hak bagi Allah untuk menuntut penebusan dari manusia. Kita menjalankan puasa ramadhan, misalnya, merupakan upaya menebus dosa itu dan memohon ampun kepada-Nya. Puncaknya adalah pada momen Idul Fitri, yaitu kembali kepada fitrah kita, kepada kesucian. Kembali kepada kesucian itu yang kemudian disimbolkan dengan adanya maaf dari Allah, lalu disempurnakan dengan maaf dari manusia. Dalam kehidupan keseharian atau bermasyarakat, kita pasti tidak luput dari berbuat salah kepada sesama. Allah tidak akan mengampuni kesalahan yang kita lakukan terhadap sesama jika kita tidak mau minta maaf kepada yang bersangkutan. Di sinilah sebenarnya kaitan antara ungkapan minal a’idin wal faizin yang berdimensi vertikal dengan ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” yang berdimensi harozontal.

Hidup pada dasarnya suatu gerak, suatu aktivitas dalam waktu. Ketika Allah meniupkan ruh ke dalam jasad manusia, hidup pun telah dimulai. Meminjam istilah  Dante Alighieri (1265-1321), hidup manusia dimulai di alam paradiso, yakni alam kebahagiaan. Karena pada saat itu, fitrah atau kejadian asal manusia bersentuhan secara fisik maupun mental dengan alam materi yang membuatnya tidak lagi bersih atau suci. Ditambah lagi , manusia itu makhluk yang lemah sehingga mudah terjerembab ke dalam kenikmatan materi yang semu. Semakin lama ia tenggelam dalam kemeriahan alam materi, semakin  kotor pula alam ruhaninya. Akhirnya, terjatuhlah manusia itu ke alam inferno, yaitu alam kesengsaraan.

Untuk bisa kembali ke alam surgawi atau kebahagiaan, manusia harus melalui proses pembersihan diri di alam “purgatorio”. Bagi umat Islam, alam purgatorio itu tidak lain adalah ramadhan, yakni bulan yang mendatangkan rahmat, ampunan, sekaligus pencegah agar manusia tidak jatuh ke lembah “inferno”, kesengsaraan. Dengan demikian, umat Islam dapat masuk kembali ke alam paradiso, alm surgawi, alam kesucian yang dilambangkan dengan idul fitri.

Sebenarnya, lambang-lambang dari kecenderungan manusia untuk kembali kepada asal kejadiannya juga ditemukan dalam segenap kegiatan menjelang dan di Hari Raya Idul Fitri. Kita melihat misalnya orang-orang selalu  menyempatkan diri untuk pulang kampung. Mereka bahkan rela berjejal dan berdesakan di atas kereta atau bus, saling sikut, saling dorong, dan sebagainya. Bahkan banyak yang menginap di terminal atau stasiun kereta karena tidak kebagian tempat atau karcis. Hal serupa juga kita saksikan pada pekerja migran (TKI/TKW) yang mengais rezeki di negeri-negeri jiran. Betapa mereka berbondong-bondong pulang merindukan kampung halamannya.

Inilah mudik Lebaran yang sebenarnya berarti “kembali ke asal”, ke kampung halaman, “kembali ke fitrah”. Apa yang akan mereka lakukan di kampung halaman sama sekali bukan untuk pamer keberhasilan hidup di perantauan. Tak jarang di antara mereka hidup di rantau dengan sengsara dalam arti sebenarnya. Dengan mudah kita bisa menebak rata-rata penghasilan para pendatang yang mengadu nasib di Jakarta atau kawasan industri di Jabotabek sebagai pekerja pabrik atau pedagang di sektor informal. Itu pun jika mereka belum terkena PHK akibat pabrik gulung tikar. Jadi, tujuan mereka mudik itu sama sekali jauh di atas kepentingan material, tetapi didorong oleh kecenderungan spiritual, yaitu hasrat berkumpul dengan sanak saudara sekaligus untuk saling memaafkan.

Memaafkan memang pekerjaan gampang-gampang susah. Tidak semua orang mau berbesar hati memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi jika orang itu menganggap kesalahan itu terlalu besar sehingga kata maaf dianggap terlalu ringan dan tidak cukup untuk menebus kesalahan itu. Kata memaafkan sendiri, sebagaimana tersurat dalam Q.S. Ali Imran: 134, didahului dengan kata menahan amarah. Karena orang yang tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain, biasanya memendam amarah atau menyimpan dendam.

Dalam Alquran, kata “dendam” yang terkait fenomena yang manusiawi paling sedikit disebutkan dua kali. Seperti dalam ayat, “Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka” (Q.S. Al-A’raf: 43). Kesimpulan ringkas yang diuraikan petunjuk Alquran ini adalah bahwa sifat dendam, yang salah satu bentuknya adalah tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, bukanlah sifat orang yang beriman. Sebab, Allah sendiri adalah Maha Pemaaf. Allah juga mencirikan orang-orang yang beriman sebagai orang yang mau memberi maaf apabila sedang marah.

Jelas, memaafkan adalah suatu kualitas dan tingkatan moral tersendiri. Jika kita memaafkan kesalahan orang lain, berarti kita menutupi kesalahan orang itu dan rasa marah kita sendiri. Sebab, keduanya saling berkaitan dengan keikhlasan untuk memberi maaf. Kini pertanyaannya, mampukah kita meletakkan makna ungkapan “mohon maaf lahir dan batin” itu dalam kerangka seperti yang dituju oleh Alquran tersebut? Sungguh sesuatu yang tidak mudah. Sebab, bentuk-bentuk lahiriah dari pernyataan itu tampak lebih dominan ketimbang makna esensial yang ingin dituju. Lihat para politisi kita di depan kamera televisi yang saling berpelukan, tetapi di belakang, mereka saling berusaha menjegal dan menikam. Memang hal itu merupakan sesuatu yang lumrah dalam kehidupan bermasyarakat jika dalam berpolitik terjadi aneka pertentangan atau perebutan kepentingan.

Akan tetapi, umat Islam diingatkan oleh ajaran agamanya bahwa sehebat apa pun pertentangan itu, hendaknya segera dicarikan penyelesaian dengan mengedepankan semangat ukhuwah atau persaudaraan sejati guna membangun ishlah atau perdamaian di antara sesama umat manusia. Bagi kalangan tertentu yang menginginkan dakwah secara radikal dan menimbulkan permusuhan, Idul Fitri adalah saat terbaik untuk merenungkan kembali jalan dakwah yang lebih arif dan bijak, yakni dakwah bil hikmah. Pesan Nabi Muhammad saw, “Jangan sampai perselisihan itu berlanjut lebih dari tiga hari.” Mudah-mudahan melalui Hari Idul Fitri kita bisa memetik hikmah untuk diterapkan dalam kehidupan nyata, agar rasa damai dan persaudaraan selalu menyertai kita di mana pun dan kapan pun. Amiin. (hd/liputanislam.com)

*Sumber : K.H. Said Aqil Siroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Mizan : Bandung,  2006, hal. 191-195

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL