Amat banyak riwayat yang menceritakan betapa Rasulullah SAW amat mencintai dan memuliakan putrinya, Fathimah Az-Zahra s.a. Apakah ini bentuk nepotisme? Sama sekali tidak demikian. Cinta Nabi Muhammad SAW kepada Fathimah s.a. semata-mata karena Allah, bukan karena Az-Zahra adalah putri kandung dan darah dagingnya. Nabi telah mengetahui betapa dimuliakan Fathimah s.a. di sisi Allah sejak awal kelahirannya.

Diriwayatkan, pada malam mi’raj, Rasulullah memetik buah apel dari pohon kebahagiaan ‘syajarah thuba’ dan membaginya menjadi dua bagian. Lalu dari tengah-tengah buah itu muncul secercah cahaya, Ketika Rasulullah  SAW menanyakan kepada malaikat Jibril tentang cahaya tersebut,  Jibril menjawab, “Cahaya yang dikokohkan (nur al manshurah) di langit dan di atas bumi untuk Fathimah.”

Rasul bertanya lagi, “Mengapa dia dikokohkan di langit”

Jibril menjawab, “Karena sesungguhnya dia dikokohkan Allah pada hari kiamat dengan syafaat.”

Rasul pun menyantap buah apel tersebut dan mengentallah nutfah (asal kejadian) Az-Zahra dari buah apel tersebut. Dengan demikian, sejatinya asal jasad Az-Zahra berasal dari surga.

Suatu kali, Rasulullah SAW melihat Az- Zahra berbincang dengan ibundanya, Khadijah padahal ia masih di dalam kandungan. Pada saat kelahirannya pun, ia sudah mengucapkan syahadah (kesaksian) akan keesaan Allah, risalah ayahnya, dan wilayah (otoritas) suaminya serta anak-anaknya kelak.

Semua ini membuat Rasulullah SAW sejak awal mengetahui posisi mulia putrinya. Dalam setiap kesempatan, beliau menunjukkan penghormatan kepada Fathimah. Setiap kali Fathimah datang, beliau bangkit berdiri dan mencium tangannya dan berkata, “Tebusannya adalah ayahnya; Allah ridha atau marah kepada seseorang yang ridha atau marah kepada Fathimah. Jika Fathimah meridhainya, Allah meridhainya. Dan barangsiapa membuat marah Fathimah, maka Allah marah kepadanya.”

Di kesempatan lain beliau bersabda, “Barang siapa yang menyakiti Az-Zahra maka sungguh dia telah menyakiti aku. Dan barangsiapa yang mencintainya, maka sungguh ia telah mencintai aku.”

Rasulullah SAW juga bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menjadikan pada diri para nabi aroma safarjal surga, pada diri bidadari aroma yasmin surga, dan pada diri malaikat aroma bunga Al Juri (mawar surga) dan Dia telah mengumpulkan pada diri putriku Az-Zahra aroma ketiganya.”

Hadis-hadis itu telah diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis mu’tabar dan diterima oleh kalangan berbagai mazhab, baik Syiah maupun Sunni.

Mungkin akan muncul pertanyaan, “Sedemikian berkuasanyakah Fathimah sehingga ia bisa semena-mena meridhai atau memarahi orang lain?”

Tentu saja tidak demikian. Justru ketika Fathimah mendapatkan ‘jaminan’ dari Rasulullah sedemikian rupa, artinya, segala sesuatu yang ada dalam diri Fathimah dipastikan adalah kebenaran. Marahnya Fathimah pasti sejalan dengan marahnya Allah. Allah tidak meridhai segala perbuatan buruk, mulai dari berghibah, menyakiti orang lain dengan lisan dan perbuatan, mencuri, korupsi, curang, dan lain-lain. Demikian pula Fathimah.

Dalam berbagai khutbah-khutbahnya, Fathimah selalu mengingatkan umat agar selalu menjalankan perintah Allah SWT. Dalam segala perilaku dan akhlak sehari-hari, yang muncul dari diri Fathimah hanyalah kebaikan. Bahkan kebaikannya itu mencapai tingkat yang paling sempurna, sampai-sampai dicatat dalam Al Quran.

Dalam QS Al Insan ayat 5-10, Allah berfirman, yang artinya:

 Sesungguhnya orang- orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga )yang daripadanya hamba- hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik- baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana- mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ( ucapan ) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan(azab ) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang- orang bermuka masam penuh kesulitan.

Siapakah yang dimaksud dengan “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana? Berbagai mufassir menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah Az-Zahra dan keluarganya. Al-Tsa’labi dalam tafsirnya dengan sanad yang bersambung dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa ayat itu berkaitan dengan nazar yang dilakukan oleh Imam Ali dan Az-Zahra ketika anak mereka, Hasan dan Husan jatuh sakit. Mereka sekeluarga berpuasa tiga hari, namun selama tiga hari itu pula datang orang miskin, anak yatim, dan tawanan yang meminta makan. Mereka pun memberikan makanan kepada para peminta itu. Yang mereka berikan hanyalah roti, namun itu adalah seluruh makanan yang dimiliki pada hari itu dan mereka berbuka dan sahur dengan air. Sungguh sebuah kedermawanan yang mencapai puncaknya. Allah pun menjanjikan surga yang penuh kenikmatan untuk mereka.

Diriwayatkan pula bahwa pada suatu hari, datang seorang kakek tua yang kelaparan kepada Az-Zahra. Awalnya, sang kakek datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta makanan dan pakaian. Namun Rasulallah sedang tidak punya apa-apa dan ia menyuruh kakek itu menemui Fathimah. Putri Nabi itu ternyata juga tak punya makanan di rumahnya. Ia memberikan hartanya yang terakhir, seuntai kalung. Kalung itupun dijual oleh si kakek sehingga ia bisa membeli makanan dan pakaian. Singkat cerita, pembeli kalung itu, seorang sahabat Rasulullah, akhirnya mengembalikan kalung itu kepada Fathimah. Kejadian ini menunjukkan betapa dalam keadaan sesulit apapun, Fathimah tak pernah enggan menolong orang lain.

Hal yang menarik dan penting untuk dicatat juga, sesungguhnya Fathimah tidaklah miskin. Dia memiliki tanah Fadak yang luas dan menghasilkan banyak uang. Dalam riwayat disebutkan bahwa tanah itu diserahkan Rasulullah kepada Fathimah tiga tahun lebih sebelum beliau wafat. Penghasilan tanah itu mencapai 70.000 dinar emas dalam setahun. Namun Fathimah membagi-bagikannya kepada kaum miskin sementara ia tetap hidup sederhana bersama keluarganya.

Dengan segala kemuliaan akhlaknya ini, sungguh tak mengherankan bila Allah sedemikian meridhainya dan Rasulullah sedemikian memuliakannya. Selanjutnya, pilihan ada di tangan kita, apakah kita mau menjadikan Fathimah sebagai sosok panutan dalam kehidupan kita?(LiputanIslam.com)

Referensi: “Sejarah Fathimah Azzahra” karya Prof. Dasteghib (penerbit: Cahaya, tahun 2007)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL