jeffrey lang

“Sehari setelah saya masuk Islam, saya mulai mengikuti salat berjamaah lima waktu di mesjid University of San Fransisco (USF). Karena saya adalah staf fakultas, mudah bagi saya—sambil bekerja—untuk mengikuti tiga salat pertengahan (Zuhur, Ashar, Maghrib). Di samping itu karena apartemen saya cukup dekat dari kampus, saya bisa mengikuti jamaah dua salat lainnya. Yang saya sesalkan, konversi saya ke dalam Islam menjadi berita besar di kampus…bagaimanapun juga, masuk Islamnya seorang staf sebuah universitas Katolik terkenal, sekurang-kurangnya, layak diperhatikan…

Tidak lama kemudian, saya menyadari bahwa jamaah mesjid ini terbagi menjadi beberapa kelompok yang bersaing. Kelompok-kelompok ini memiliki hubungan dengan organisasi-organisasi internasional, seperti Jamaah Tabligh, gerakan Salafi, dan Ikhwan al-Muslimun. Terkadang, saya merasa mereka berlomba juga untuk menguasai saya. Saya dimasukkan ke dalam suatu kelompok dan diperingatkan agar berhati-hati dengan “saudara-saudara yang lain”. Setiap kelompok mengatakan bahwa kelompok lainnya menyimpang dari Islam…saya segera memperoleh kesan bahwa, sekalipun Islam sangat mengutuk penyebaran desas-desus dan fitnah, kaum muslim rupanya sudah biasa menjadi tukang gosip. Agaknya, kegiatan itu menjadi keasyikan masyarakat.”

“Tukang desas-desus, gosip, dan fitnah”, itulah kesan pertama yang ditangkap oleh Prof. Jeffrey Lang tentang umat Islam sesaat setelah ia menjadi muallaf (masuk Islam). Kesan itu bukan hanya milik pribadinya, tetapi nyaris setiap muallaf yang dikenalnya. Mengapa begitu? Karena penafsiran Islam yang tidak tunggal menjadi komoditi setiap komunitas untuk mempromosikan kelompoknya. Promosi itu, tragisnya sembari menebarkan kecurigaan, menyebarkan desas-desus, gosip dan fitnah, serta terlalu cepat mengecam pihak lain berbuat salah dan bid’ah. Seorang teman Prof. Lang pernah berkomentar bahwa menfitnah dan sling menyebarkan desas-desus tampaknya menjadi hiburan paling favorit di kalangan kaum muslim. Ini sangat disayangkan karena menyebarkan fitnah dan desas-desus seperti itu akan menciptakan iklim intimidasi yang menghalangi kebebasan berbicara dan pengkajian kritis. Selain itu, tentu saja dapat menghambat dakwah dan persatuan umat Islam yang harus di junjung tinggi. Semestinya, kata Prof. Lang, kaum Muslim Amerika—dan tentu juga dimana saja—harus lebih terbuka dan saling mempercayai satu sama lain. Kisah dan kesannya di atas diceritakan oleh Prof. Jeffrey Lang pada buku keduanya, Even Angel Ask, Bahkan Malaikat pun Bertanya (2000:  255-256).

Bukan hanya Prof. Lang dan teman-teman muallaf-nya di Amerika, kita yang hidup di Indonesia ini yang rata-rata bukan muallaf juga mengalami fenomena muslim desas-desus tersebut. Tak jarang lontaran tuduhan bid’ah, khurafat, hingga sesat, musyrik, dan kafir mewarnai ungkapan dan tulisan oleh kelompok monopoli Islam yang merasa paling suci dan paling paham tentang Islam. Bahkan tema-tema tersebut menjadi tema-tema head line dalam perdebatan organisasi-organisasi Islam yang besar di Indonesia dengan melibatkan para intelektual, cendekiawan, ulama, kyai, hingga ustadz-ustadz tingkat kampung, bahkan kaum awam sekalipun. Ini fenomena dunia, yang bukan hanya melanda Indonesia, tetapi nyaris setiap negara kaum muslim di seluruh semesta.

LangApa konsekuensinya dari fenomena kaum muslim desas-desus ini? Sederet hal negatif bisa disebutkan, seperti manipulasi informasi, menyulut kebencian dan permusuhan, intimidasi, tiadanya kebebasan berpendapat, diskriminasi, hingga kekerasan dan konflik keagamaan. Salah satu kelompok, yang diangkat oleh Prof. Lang, yang sering menjadi korban desas-desus, gosip dan fitnah adalah syiah. Syiah sering menjadi korban, karena merupakan kelompok yang paling jarang diketahui baik oleh umat Islam di Timur maupun di Barat. Selain itu, literatur-literatur tentang syiah, selalu menampilkan informasi yang keliru. Dan Prof. Lang sendiri pernah termakan info keliru tersebut dan mengkampanyekan “kesesatan dan bahaya syiah”. Tapi belakangan dia sadar, bahwa dia telah dipengaruhi konservatisme yang berlebihan dan literatur anti-syiah yang tidak objektif. Pertemuanya dengan mahasiswa Iran mengubah drastis jalan hidupnya dalam memandang syiah dan kelompok-kelompok Islam lainnya. Sejak saat itu, beliau berjanji untuk lebih objektif, dan mengedepankan toleransi. Dan dia berniat memperjuangkkan hal itu sampai akhir hayatnya. Beliau menuturkan kisahnya—dalam Bahkan Malaikat pun Bertanya, hal 263-265 dengan sedikit revisi terjemahan—berikut ini :

“Setelah memeluk Islam (muallaf), saya tinggal di San Fransisco sekitar lima tahun. Tiga tahun pertama ditandai dengan kemajuan yang tetap menuju konservatisme radikal dan intoleransi atas berbagai padangan yang berbeda. Tahun keempat adalah tahun ketika saya mulai mengalami kekecewaan dan keraguan atas jalan yang ditempuh. Tahun kelima adalah masa perbaikan, ketika saya mendamaikan diri saya dengan keimanan saya…

Saya telah berjanji pada diri sendiri, tidak ingin lagi berpartisipasi dalam gosip komunitas saya. Saat itu, ada satu kelompok kaum muslim yang disingkirkan dari komunitas kami dan sangat dibenci…Jamaah mesjid USF, yang dikelola mahasiswa muslim sunni, menjelaskan bahwa kaum muslim syiah tidak disukai dan tidak diterima di mesjid… saudara-saudara sunni, terutama yang berasal dari Jazirah Arab, sangat mengecam orang syiah dan menghina mereka… sejumlah literatur anti-syiah membanjiri mesjid-mesjid Amerika yang dikirim dari negara-negara Teluk… Literatur tersebut jelas lebih bersifat propaganda ketimbang ilmiah. Saya mempelajarinya dan menggunakan informasinya untuk mengecam syiah kapan saja ada kesempatan.

Pada suatu malam, saya memberikan ceramah di mesjid tentang bahaya Islam syiah, saya mengakhiri dengan menggambarkan Islam syiah sebagai “ancaman terbesar dan racun mematikan dalam tubuh umat Islam”.

Selesai acara, seorang mahasiswa Timur Tengah dengan sopan meminta berbicara pribadi dengan saya. Ia mengatakan bahwa ia berasal dari Iran dan dibesarkan dalan keluarga syiah, tetapi ia menjadi seorang muslim sunni. Ia berkata bahwa ceramah saya sangat melukai hatinya, karena ia membayangkan ibu dan ayahnya, yang saya lukiskan dengan berbagai keburukan dan bahaya bagi Islam. Ia berkata, sekalipun telah menghabiskan sebagian besar hidupnya, berada di masyarakat mayoritas syiah, ia belum pernah mendengar orang-orang syiah meyakini dan mengamalkan apa-apa yang saya ceramahkan tadi. Dengan ucapan penuh kemasygulan ia berkata, “Anda telah  menjadikan orang tua saya tampak seperti musuh-musuh Islam! Demi Allah, dari mana anda memperoleh informasi seperti itu?”

Saya diliputi perasaan menyesal, karena saya sadar “fakta-fakta” itu saya himpun dengan terburu-buru dan tidak bertanggungjawab…, saya meminta maaf kepadanya, dan berjanji akan mengkaji Islam syiah secara lebih mendalam dan objektif, dan saya akan mengoreksi setiap pernyataan saya yang salah di depan umum. Kemudian, setelah melakukan kajian,  saya mengetahui bahwa apa yang saya ceramahkan malam itu, semuanya sarat dengan informasi keliru, salah tafsir, dan pernyataan berlebih-lebihan.

Pertemuan dengan mahasiswa Iran itu sangat bermanfaat bagi saya dalam meperbaiki metode-metode riset yang saya gunakan; perbincangan itu membuat saya takut. Itulah pertama kalinya saya dihadapi secara pribadi oleh target serangan kata-kata saya sendiri… saya melihat dan merasakan betapa berbahayanya perilaku saya. Saya mulai meragukan keberagamaan dan keikhlasan saya serta mempertanyakan tindakan dan motif saya. Saya heran mengapa saya menjadi pemarah dan suka mengecam pihak-pihak lain yang berbeda dengan saya. Saya bertanya kepada diri sendiri : apa yang telah terjadi dengan diri saya sejak pertama kali memeluk Islam? Saya memeluk Islam ini dengan damai, tetapi sekarang saya hanya menunjukkan kekerasan dan kepicikan.” (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL