ihramRitual pertama ketika menunaikan haji adalah mengenakan pakaian ihram di Miqat (perhentian dimana pakaian ihram harus dikenakan). Ihram haji seperti takbiratul ihramdalam shalat, yang mana setelah melakukannya, terlaranglahmelakukan aktivitas lain selainmemfokuskan seluruh perhatiannya kepada Allah. Dari awal salat hingga selesai, tidak ada hal lain yang boleh mengalihkan perhatiannya. Demikian juga ihram haji, yang mana,jika telah memakai pakaianihram, seseorang harus mengesampingkan semua hal yang berhubungan dengan dunia. Ia harus beralih menuju Allah dan menuju keridhaan-Nya. Pada waktu mengenakan ihram, seseorang harus memenuhi perintah-perintah Allah.

Adapun tempat dan waktu memakai ihram adalah sesuai Miqatnya. Terdapat beberapa tempat miqat (miqat makani) yang ditetapkan Nabi saw.

  1. Untuk penduduk Mekah, berihram dari rumah mereka masing-masing.
  2. Untuk penduduk Madinah, miqatnya di Masjid Asy-Syajarah di Dzul Hulaifah. Tempat ini juga disebut bir Ali, terletak sekitar 450 km dari Mekah atau 8 km dari Madinah.
  3. Untuk penduduk Thaif (Nejd) dan yang sejajar dengannya, miqatnya di Al-Qarnul Manazil. Berjarak sekitar 94 km dari Timur Makkah.
  4. Untuk penduduk Irak dan yang sejajar dengannya, miqatnya di Wadi Al-‘Aqiq atau Dzatu Irq. Sekitar 94 km dari Mekah.
  5. Untuk penduduk Yaman, India, Indonesia dan yang sejajar dengannya miqatnya di Yalamlam, sekitar 54 km dari Makkah. (Hanya saja sebagian ulama  Indonesia berijtihad, miqat untuk penduduk Indonesia terutama yang naik pesawat adalah kota Jeddah).
  6. Untuk penduduk Syam dan yang searah dengannya, miqatnya di Juhfah. Tapi saat sekarang ini tempat itu sudah rusak dan digantikan dengan Raigh, sektar 200 km dari Makkah untuk jamaah haji yang datang dari Syam, Mesir, dan yang sejajarnya.

Sedangkan waktu untuk miqat (miqat zamani) yaitu waktu boleh memulai berihram, adalah dari tanggal 1 Syawal sampai tanggal 9 Dzulhijjah (72 hari).

Pakaian ihram untuk laki-laki adalah mengenakan dua lembar baju ihram yang polos (putih), tanpa zat pewarna dan tanpa jahitan. Selembar menutupi bahu, semacam jubah yang longgar  (rida’). Selembar lagi dililitkan ke pinggang yang disebut izar. Adapun pakaian ihram wanita juga menggunakan kain polos tanpa zat pewarna, bebas menggunakan model apa saja, tetapi harus menutupi aurat. Yang terbuka hanya wajah dan bagian bawah pergelangan tangan.

Ketika ihram seorang harus berniat untuk melaksanakan haji dan mengucapkan talbiyah secara penuh perhatian dan diulang-ulang hingga memasuki kota Mekah,  “Labbaika allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika laka labbaik.”

Para ulama meriwayatkan tentang perjalanan haji Rasulullah saw. Setelah shalat subuh, tanggal 25 Dzulqaidah 10 H, Rasulullah saw lalu mengenakan dua lembar baju ihram yang polos, tanpa zat pewarna dan tanpa jahitan. Selembar menutupi bahu, dan selembar lagi dililitkan ke pinggang. Para jamaah mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Alas kaki yang digunakan adalah semacam sandal atau sepatu, yang tidak tinggi sehingga  kedua mata kakinyaterlihat. Bukhari meriwayatkan, Rasulullah saw melarang memakai jubah, brokat, pakaian yang dicelup zat pewarna, pakaian yang dijahit, tutup kepala, dan sepatu. “Bila tidak punya sandal, potonglah bagian atas sepatu sampai ke bawah mata kaki.”sabda Rasul saw.

Kemudian Rasul saw  membaca talbiyah yang diikuti dengan gemuruh oleh seluruh hujjaj, seperti diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw mengatakan lebih utama bersuara lantang dalam talbiyah.  Ibnu Umar berkata: “Ketika Rasulullah saw duduk tenang di atas punggung unta betina yang berdiri disamping Masjid Dzul Hulaifah, beliau lalu mengucapkan talbiyah : “Labbaik Allahumma labbaik, labbaik la syarika laka, labbaik Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika laka.”

Seruan talbiyah ini, diucapkan berulang-ulag sepanjang jalan oleh Rasul saw da para sahabat, terutama bila bertemu orang atau berpapasan dengan bukit dan lembah, setiap kali naik atau turun dari unta. Ada yang menambah, danada juga yang mengurangi kalimat diatas. Rasulullah saw tidak menegurnya.

Adapun ketika akan memasuki kota Mekah, ucapkanlah doa, “Bismillahi wabillahi wa ilallahi wa masya-allahu wa a’ala millati rasulillahi, wakhairil asmaillahi, wal hamdulillahi, was salamu ‘ala rasulillahi shallallah ‘alaihi wa alihi, was salamu ala muhammadi ibni ‘abdillahi wassalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuhu, assalamu ‘ala anbiya-illah wa rasulihi, wassalamu ‘ala ibrahima khalilillahi, wassalamu ‘alal mursalina, wal hamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma shalli ‘ala muhammadin wa ali muhammadin, wa barik ‘ala muhammadin wa ali muhammad, warham muhammadan wa ala muhammad, ka-afdhali ma shallaita wa barakta wa tarahhamta ‘ala ibrahima wa ali ibrahima innaka hamidum majid.”

Dan ketika memasuki Masjidil Haram ucapkanlah doa, “Allahumma shalli ‘ala muhamamdin wa alihi ajma’in, wa sallim tasliman, ya muqilal ‘atsarati, wa ya mukaffiras sayyiati, asaluka an taqilani min ‘atsarati wa an tarhama ibrati wa tajawaza ‘an zallati. Allahumma hadza maqamul ‘a-idzi bika minan nari, fa a’idzna minha wa walidayya wa wuldi wa jami’a ahli wa ikhwani biqudratika innaka ‘ala kulli syaiin qadir.” (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL