London, LiputanIslam.com –  Surat kabar The Guardian yang bermarkas di London, Inggris, Ahad (7/7/2019), memuat artikel Hossein Mousavian berjudul “Iran tidak mencari krisis ini terjadi, tetapi tidak akan tinggal diam terhadap penindasanTrump”.

Penulis menyebutkan bahwa keputusan Iran meningkatkan volume pengayaan uraniumnya merupakan reaksi yang tak terelakkan lagi atas keputusan AS yang terjadi belakangan, terutama setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump secara sepihak menyatakan keluar dari perjanjian nuklir Iran yang dinamai Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA).

Baca: Rai Al-Youm: Iran Tak Seperti Sebagian Negara Arab yang Mudah Menyerah

Dia menjelaskan bahwa sanksi baru ekonomi dan politik AS tidak hanya menyasar berbagai sektor ekonomi Iran, tetapi juga entitas dan figur paling berpengaruh di negara ini, dan sanksi-sanksi ini telah secara efektif merusak upaya-upaya diplomatik untuk menyelesaikan krisis serta memiliki konsekuensi politik tidak hanya untuk Iran dan AS, melainkan juga bagi kawasan secara keseluruhan.

Mousavian yang merupakan mantan anggota tim perunding nuklir Iran mencatat bahwa kembalinya permusuhan antara Iran dan AS setelah periode détente di era Barack Obama adalah salah satu tantangan paling mendesak bagi perdamaian dan keamanan di Timur Tengah.

Baca: Iran Sebut Kemungkinan Pengayaan Uranium Hingga 20%

Mousavian menambahkan bahwa JCPOA merupakan salah satu perjanjian paling komprehensif dalam sejarah non-proliferasi nuklir di mana Iran telah menerima campur tangan yang paling transparan dan pembatasan ketat terhadap program nuklirnya.

Dia mencatat bahwa Badan Energi Atom Internasional (IAEA) baru-baru ini mengakui bahwa Iran sepenuhnya mematuhi syarat dan ketentuan JCPOA. Menurutnya, setelah komitmen kepada perjanjian nuklir itu Iran malah diganjar  dengan sanksi tambahan.

Baca: Lucu, AS Diam-Diam Minta Iran Tak Membalas Jika Diserang Sekedarnya

“Dia (Trump) memilih jalur berbahaya berupa kebijakan dan tindakan permusuhan, dan telah meningkatkan kemungkinan bencana konflik di Timur Tengah. Dia tampaknya menyadari bahwa konfrontasi militer dengan Iran akan menjadi bencana dalam segala cara yang memungkinkan. Tapi dia juga harus menyadari fakta bahwa Iran tidak akan pernah menyerah pada penindasan,” tulisnya.

Pada paragraf terakhir dia menuliskan, “Jika Trump benar-benar ingin menyelesaikan krisis yang tidak perlu dan dipaksakan sendiri ini maka dia perlu melakukan perubahan strategi yang cepat, krisis yang akan memungkinkan kedua negara menyelamatkan muka. Hanya dengan demikian diplomasi yang kredibel menjadi mungkin sekali lagi.” (mm/theguardian)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*