Teheran, LiputanIslam.com –   Dalam perkembangan pasca penembakan jatuhan drone pengintai Amerika Serikat (AS) oleh pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Washington pernah diam-diam melayangkan beberapa pesan kepada Teheran agar Iran tidak membalas jika AS melancarkan “serangan terbatas” sekedar untuk menjaga pamor Negeri Paman Sam.

“Setelah penembak jatuhan drone, Washington meminta kami untuk tidak membalas serangan terbatasnya demi menjaga air muka pejabat AS atas penembakan drone AS oleh rudal Iran di ‘udara internasional’,” ungkap Ketua Badan Pertahanan Sipil IRGC Brigjen Gholam Reza Jalali, seperti dilansir Al-Alam, Ahad (7/7/2019).

Tanpa menyebutkan nama negara, Jalali menjelaskan bahwa pesan-pesan itu disampaikan oleh AS kepada Iran melalui jalur-jalur diplomatik. Menurutnya, pesan-pesan itu menyebutkan bahwa AS bermaksud melancarkan “reaksi serangan terbatas di kawasan yang tak terlalu penting semata-mata demi menjaga air mukanya sembari meminta Iran untuk tidak membalas serangan.”

Baca: “Harga Diri Orang Iran Gagalkan Intimidasi AS”

Namun, lanjut Jalali, Teheran menanggapi permintaan itu dengan menekankan bahwa “serangan dalam bentuk apapun” akan dianggap oleh Iran sebagai “pernyataan perang sehingga akan dibalas.”

“Telah kami sampaikan kepada mereka (AS) bahwa kamilah yang akan menentukan medan laga, dan jika kalian (AS) memulai perang maka kamilah yang akan mengumumkan batas akhirnya,” ujar Jalali.

Mengomentari penyingkapan rahasia AS oleh petinggi IRGC ini, Pemimpin Redaksi media online Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, Abdel Bari Atwan merilis artikel yang diawali dengan pengakuan bahwa dia sama sekali tidak meragukan pernyataan Gholam Reza Jalali tersebut.

Atwan menduga Oman sebagai negara yang menjadi mediator dalam penyampaian permintaan AS kepada Iran agar tidak membalas serangan AS.

Baca: Panas, Iran Ancam Balas Inggris jika Kapal Tankernya di Gibraltar Tak Dilepas

Seperti diketahui, pada akhir bulan lalu IRGC merontokkan pesawat nirawak pengintai AS dengan sistem pertahanan udara buatan lokal yang dinamai “Khordad 3” karena drone seharga ratusan juta Dolar AS itu melanggar zona udara Iran sejauh 7 kilometer. IRGC kemudian memamerkan serpihan drone kepada khalayak dunia sebagai bukti bahwa serpihan itu jatuh di wilayah Iran sehingga IRGC dapat leluasa mencari dan memungutnya.

Beberapa hari kemudian Presiden AS Donald Trump mengaku telah menginstruksikan serangan ke tiga situs nuklir dan militer Iran namun membatalkan instruksi itu pada menit-menit terakhir dengan dalih demi menghindari jatuhnya ratusan korban jiwa di Iran. (mm/alalam/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*