Teheran, LiputanIslam.com –   Pasukan elit Iran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akhirnya mencegat dan menggelandang satu kapal tanker minyak Inggris yang melintas di Selat Hormuz dan dianggap melanggar undang-undang kelautan internasional.

Departemen Hubungan Masyarakat IRGC dalam sebuah pernyataannya, Jumat (19/7/2019), menyebutkan bahwa kapal bernama “Stena Impero” itu telah disita “atas permintaan Pelabuhan Hormozgan dan Organisasi Maritim ketika melewati Selat Hormuz karena gagal menghormati peraturan maritim internasional.”

Disebutkan pula bahwa Stena Impero dialihkan ke pantai untuk menjalani proses hukum yang diperlukan.

Manajemen Kelautan Utara, yang memiliki Stena Impero, menyatakan di dalam kapal itu terdapat 23 awak kapal.

“Manajemen Kelautan Utara belum dapat melakukan kontak langsung dengan kapal itu sejak diberitahu tentang kejadian itu pada sekitar pukul 16.00 hari ini, 19 Juli 2019,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan.

Baca: IRGC Tahan Sebuah Kapal Tanker di Teluk Persia

Seorang pejabat militer yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita resmi Iran, IRNA, bahwa kapal itu telah melanggar peraturan maritim internasional, termasuk dengan melewati bagian laut yang dilarang di Selat Hormuz.

“Kapal tanker itu mematikan pelacaknya dan mengabaikan beberapa peringatan oleh IRGC sebelum disita,” lanjut sumber itu.

Kepala Organisasi Pelabuhan dan Maritim provinsi Hormozgan mengatakan kepada Press TV bahwa pihaknya menemukan bahwa kapal tanker Inggris itu gagal merespon panggilan darurat dari kapal penangkap ikan Iran yang dilanda kecelakaan karena telah mematikan pelacaknya.

Dia menambahkan bahwa pasukan IRGC yang berpatroli di daerah itu kemudian dipanggil untuk mengawal kapal tanker itu ke tempat di mana organisasi itu dapat menyelidiki masalah tersebut.

Baca: Trump: Kapal Perang AS Tembak Jatuh Drone Iran di Selat  Hormuz

Seorang pejabat yang mendapat informasi dari Organisasi Pelabuhan dan Maritim Iran mengatakan bahwa selain pelanggaran yang disebutkan sebelumnya, kapal itu juga “melepaskan residu minyak dari kapal tankernya di Teluk Persia”.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt menyatakan sejauh ini sudah menyita dua kapal dan menyebut tindakan ini “tidak bisa diterima”.

Tapi kemudian, sumber-sumber militer Iran mengatakan bahwa kapal tanker berbendera Liberia kedua milik Inggris, Mesdar, diizinkan untuk melanjutkan program yang telah dijadwalkan sebelumnya setelah “diberi pengarahan tentang konsep lintas tidak bersalah dan mematuhi peraturan lingkungan”.

Baca: IRGC: Iran Bisa Beralih ke Strategi Ofensif Jika Musuh Salah Perhitungan

Pengumuman mengenai penahanan kapal tanker Inggris itu tersiar beberapa jam setelah pengadilan tinggi di Gibraltar memperpanjang 30 hari penahanan kapal supertanker minyak Iran Grace 1 yang ditahan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris sejak 4 Juli lalu dengan dalih membawa minyak mentah sebanyak 2,1 juta barel menuju Suriah, negara Arab yang dikenai embargo oleh Eropa dan AS.

Iran mengecam keras penahanan Grace 1 dan menyebutnya sebagai aksi bajak laut serta bersumpah akan membalasnya.

Ketegangan antara Iran di satu pihak dan AS dan sekutunya di pihak lain di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz yang notabene pintu gerbang bagi pelayaran sepertiga minyak mentah dunia meningkat sejak lebih dari dua bulan lalu, terlebih setelah IRGC menembak jatuh drone pengintai AS di Selat Hormuz. (mm/presstv/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*