Washington,LiputanIslam.com-Sebuah media AS menyebutkan, kebijakan-kebijakan Gedung Putih tentang Iran menyebabkan turunnya kredibilitas kebijakan luar negeri Trump, serta berkurangnya opsi-opsi.

Menurut Washington Post, sejak Trump menjadi presiden, dia berkali-kali mengancam akan mengambil opsi militer atas negara-negara lain, tapi kemudian menarik ancamannya.

Saat terbetik kabar pengiriman kapal induk dan pesawat pengebom AS ke Teluk Persia, juga kabar penempatan 120 ribu serdadu di Timteng, Trump dengan cepat bereaksi dan mengaku dia hanya ingin berunding dengan Iran.

Berita Terkait:

Media AS: Trump dan Bawahannya Bertikai atas Isu Iran

AS Cuma Membual, Teluk Persia Lebih Senyap dari Biasanya 

Trump mengklaim, tidak ada miskoordinasi dalam pemerintahannya terkait Iran. Namun, katanya, dugaan adanya miskoordinasi di kabinetnya bisa saja bermanfaat.

“Setidaknya ini membuat Iran tidak tahu apa yang mesti dipikirkannya. Untuk saat ini, mungkin ini hal yang baik,”cuitnya pada hari Jumat (17/5) lalu.

Iran, yang berkata tidak menghendaki perang, namun menyatakan siap untuk perang, telah menjawab cuitan Trump dengan caranya sendiri.

Mohammad Javad Zarif (menlu Iran) melalui akun Twitter-nya menyatakan,”Tim B melakukan sesuatu, dan Donald Trump mengatakan hal sebaliknya. Tampaknya AS tidak tahu apa yang dipikirkannya.”

Zarif kerap menyebut John Bolton (penasihat keamanan nasional AS) sebagai kepala Tim B. Yang ia maksud adalah tim yang beranggotakan Benyamin (Netanyahu), Bin Salman, dan Bin Zayed.

“Di Iran, sudah ribuan tahun kami tahu apa yang mesti kami pikirkan. Kami juga tahu tentang AS sejak 1953 lalu. Saat ini, ini tentu hal yang baik,”lanjut Zarif.

Zarif menyinggung kudeta CIA di tahun 1953 yang menggulingkan Mohammad Moshaddeq, perdana terpilih rakyat Iran, agar Pahlevi bisa berkuasa.

Washington Post menulis, sudah 2 tahun lebih sejak Trump memerintah, tapi topik-topik utama kebijakan luar negeri AS belum diatasi. Kredibilitas Trump juga menurun dan opsi-opsi untuknya kian berkurang.

Jon B. Alterman (direktur Program Timteng di Center for Strategic and International Studies) mengatakan,”Kredibilitas adalah hal yang sulit dijaga oleh seorang presiden. Jika Anda mengancam, tapi orang-orang menyimpulkan bahwa Anda tidak akan melakukan ancaman itu; atau Anda ingin menunjukkan reaksi, tapi tidak melakukannya, (di saat itu) opsi-opsi yang tersisa bagi Anda adalah melontarkan ancaman yang lebih besar, atau menghentikan gerakan Anda di jalur ini.” (af/alalam/fars)

Baca:

Tak Ada Perang, tapi Tak Ada Perundingan

IRGC: Rudal-rudal Iran Mudah Membidik Kapal-kapal AS di Teluk Persia

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*