LiputanIslam.com –Sebuah pernyataan “membingungkan” dilontarkan oleh otoritas Iran dalam menanggapi manuver AS. Pemimpin Agung Iran Ayatollah Khamenei memberikan jaminan bahwa ketegangan terbaru antara negaranya dan AS tidak akan berujung kepada perang. Tapi di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa pihaknya tak akan pernah merundingkan apapun lagi dengan AS dihubungkan dengan krisis terbaru ini.

Baca: Ayatullah Khamenei Tanggapi Spekulasi Perang Iran-AS

Selama ini, perang atau perundingan sering dimaknai sebagai dua opsi yang salah satunya harus dipilih. Jika enggan berunding, harus siap-siap menanggung konsekwensi berperang. Dalam konteks ketegangan terbaru ini, sepertinya Iran dihadapkan kepada dilema, dan harus memilih antara berunding atau perang. Akan tetapi, Khamenei menjamin bahwa Iran tidak dalam posisi seperti itu, karena keduanya tidak akan terjadi.

Kita lihat sekarang kronologi yang terjadi hingga Iran dan AS terlibat ketegangan seperti ini. Awalnya adalah adanya kesepakatan nuklir tahun 2015 antara Iran dengan enam negara dunia: AS, Rusia, Tiongkok, Perancis, Inggris, dan Jerman. Kesepakatan itu dikenal dengan nama Rencana Aksi Bersama Komprehensif (JCPOA). Isinya: Iran menghentikan sebagian proyek nuklirnya, dan sebagai “imbalannya” sejumlah sanksi ekonomi atas Iran akan dicabut secara bertahap.

Tahun 2018, Presiden AS Donald Trump membuat keputusan keluar dari JCPOA. Alasannya, perjanjian itu memiliki cacat, karena tidak mempertimbangkan apa yang disebut AS sebagai sisi ancaman Iran bagi kawasan Timur Tengah, berupa kepemilikian Teheran atas sejumlah rudal balistik serta perlengkapan militer lainnya. Tak lupa, Trump menyalahkan Presiden AS sebelumnya, Barack Obama, yang ia anggap lalai sehingga membuat keputusan terburuk dalam sejarah AS. Dengan keputusan secara sepihak itu, AS menarik diri dari proses pencabutan sanksi ekonomi secara bertahap terhadap Iran. Bahkan, AS menambah berat sanksi-sanksi tersebut.

Iran kemudian bereaksi. Awalnya, Iran bersama-sama dengan negara penanda tangan JCPOA lainnya berusaha menekan AS agar kembali kepada perjanjian. Tapi, di bawah Trump, AS selalu merasa di atas angin dan enggan ditekan. Gagal menekan AS, awal Mei lalu, Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran memutuskan untuk “menghentikan pelaksanaan sejumlah komitmen Republik Islam Iran terhadap JCPOA.” Artinya, Iran sejak saat itu kembali mengaktifkan proyek nuklirnya

Mengetahui keputusan Iran itu, Trump meradang. Ia memperluas cakupan sanksi atas Iran, tidak hanya pada migas dan petrokimia, melainkan juga pada barang-barang tambang dan sejumlah komoditas strategis lainnya. Trump juga melakukan manuver militer dengan mengirim kapal perang ke kawasan Teluk Persia. Tapi di sisi lain, Trump menyampaikan pesan bahwa pihaknya siap berunding secara langsung dengan Iran.

Baca: Kelewat Percaya Diri, Trump Berikan Nomor Telepon agar Iran Menghubunginya

Banyak yang menilai bahwa perilaku Trump ini telah menyudutkan Iran pada sebuah dilema: berunding atau perang. Tapi, reaksi Iran ternyata di luar dugaan, dan membingungkan. Pengiriman kapal perang oleh Trump dibalas oleh Teheran dengan melakukan latihan militer di sekitar kawasan Selat Hormuz.

Sikap Iran ini adalah kode keras kepada AS bahwa Teheran tidak mengambil opsi perundingan langsung dengan AS, yang kemudian dipertegas oleh Khamenei dengan pernyataannya. Iran merasa punya alasan kuat untuk menolak berunding. Pertama, tak ada jaminan bahwa AS akan menaati hasil perundingan. Alasan kedua, bagi Iran, perundingan hanya akan bisa berlangsung dengan fair jika posisi kedua pihak berada pada posisi setara. Tak ada satu pihak yang merasa di atas pihak lainnya, untuk kemudian mendiktekan berbagai kepentingannya.

Enggan berunding artinya Iran siap berperang. Menariknya, di saat yang sama, Iran meyakini bahwa perang tak akan terjadi. Dalam penjelasannya, otoritas Iran menyatakan bahwa keyakinannya itu didasarkan kepada resiko sangat buruk yang harus ditanggung AS (bahkan penduduk dunia) jika perang sampai terjadi.

Iran saat ini sudah menjelma menjadi kekuatan militer sangat tangguh di dunia. Di sisi lain, Iran mengusai Selat Hormuz yang menjadi lalu lalang 70% perdagangan minyak dunia. Jika terjadi, perang dipastikan akan berlangsung berlarut-larut, dan akan memicu resesi ekonomi terburuk dalam sejarah Dunia.

Opsi perundingan memang ada di tangan Iran, dan negara ini telah mengambil keputusannya, yaitu menolak berunding. Sedangkan opsi perang ada di tangan AS. Beranikah AS mengambil opsi ini? Iran yakin, AS tak punya cukup keberanian. Barangkali, inilah makna dari frasa “tak ada perundingan, namun juga tak ada perang”. Waktu jualah yang akan membuktikan benar atau tidaknya keyakinan Iran itu. (os/editorial/liputanislam)

Terkait: Gertak Sambal Ala Amerika

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*