LiputanIslam.com – Ketergantungan terhadap energi fosil seperti minyak bumi, gas bumi, dan batu bara menyebabkan polusi dan emisi gas rumah kaca makin banyak. Bahkan dikabarkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Indonesia yang telah menjadi importir minyak bumi sejak 2004 akan menjadi importir gas bumi dan batu bara pula di tahun 2028 dan 2038. Untuk mereduksinya, diperlukan energi terbarukan secepatnya, yaitu energi panel surya.

Belasan perusahaan telah memanfaatkan energi surya atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap gedung mereka. Hal ini mereka lakukan untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam menargetkan energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 mendatang.

Belasan perusahaan tersebut adalah Bika Living, PT Bukit Jaya Semesta, Ciputra World II Jakarta, Dermaster, Grand Hyatt, PT Himawan Putra, Indonesia Utama Mineral, PT Mandala Multinvest Capital, PT Mega Manunggal Property Tbk, PT Monde Mahkota Biskuit, PT Mulia Bosco Sejahtera, Plaza Indonesia Realty Tbk, Tokopedia, dan Wisma 77.

Mereka difasilitasi oleh Xurya, perusahaan startup lokal pemanfaatan energi surya yang berdiri sejak 2018.

Menurut founder Xurya, Eka Himawan, energi surya memiliki potensi paling besar dibanding energi terbarukan lain. Totalnya bisa lebih dari 200.000 MW4 namun yang baru dipasang hanya 90 MWp5 (Megawatt Peak). Tentu ini akan mubazir. Apalagi pemerintah Indonesia sendiri menargetkan 6,5 GWp (Gigawatt Peak) pada 2025 mendatang.

Dia mengajak para pelaku industri perusahaan untuk mulai memakai PLTS atap. Menurutnya, menggunakan energi surya bisa lebih hemat hingga 30 persen.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, Indonesia terdapat 26,7 juta perusahaan baik yang kecil maupun besar. Jika semuanya memakai kapasitas 5 MWp, akan menyumbang reduksi CO2 sebesar 5.000 ton per tahun.

Di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, penggunaan energi surya sudah mencapai 130 MWp dan 375 MWp. Bahkan di Thailand sudah 2.700 MWp. Jumlah ini tentu sangat jauh dibandingkan Indonesia.

“Potensi energi surya di Indonesia rata-rata 1.350 kWh per kW PLTS pertahun, potensi di daratan Eropa hanya 900 kWh per kW PLTS per tahun. Potensi Indonesia jauh lebih besar dari Eropa, tetapi pemanfaatan di Indonesia jauh tertinggal bahkan oleh negara-negara tetangga,” ucap Andhika dari Institute for Essential Service Reform (IESR).

Baca juga: Atasi Perubahan Iklim dengan Blue dan Green Carbon

Sampai saat ini, tercatat bahwa sudah ada 600 rumah di Jabodetabek yang memasang PLTS atap. Namun jumlah ini masih jauh dari target.

Andhika berharap agar PLN ikut serta membuka bisnis solar panel dan pemerintah Indonesia segera menyelesaikan aturan terkait energi surya dan mendukungnya agar masyarakat tertarik mulai menggunakan energi terbarukan tersebut.

Pemerintah harus memperbaiki proses perizinan pemasangan energi surya baik di rumah maupun perusahaan agar mudah dilakukan oleh masyarakat secara luas. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*