LiputanIslam.com – Perubahan iklim sudah menjadi permasalahan global yang serius di seluruh negara. Semakin hari, kondisi fase katastropik bumi kian kritis, sehingga membutuhkan usaha kolektif seluruh negara untuk segera bertindak mengatasinya atau setidaknya menguranginya. Kini suhu bumi sudah naik 1,5 derajat celsius. Suhu tersebut diprediksi akan terus naik seiring naiknya perubahan iklim yang menyebabkan pemanasan global.

“Saat ini, peningkatan suhu permukaan bumi, intensitas cuaca ekstrim serta kekeringan merupakan bukti nyata dari perubahan iklim. Untuk meminimalksn penyebab perubahan iklim, perlu upaya kolektif yang serius dan berskala global,” ungkap Dirhamsyah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Perubahan iklim antropogenik disebabkan oleh peningkatan kadar gas-gas rumah kaca dan partikel-partikel di atmosfer. Penyebab pertama adalah pembakaran bahan bakar fosil yang melepaskan gas karbondioksida (karbon cokelat) dan karbon hitam (abu). Penyebab kedua adalah pelepasan karbon akibat pembabatan tanaman lahan, kebakaran hutan. Penyebab ketiga adalah penurunan kemampuan ekosistem alami untuk menyerap, mengikat, dan menyimpan karbon melalui proses fotosintesis yang disebut green carbon.

Baca juga: Terkait Krisis Iklim, Sejumlah Siswa di Dunia Lakukan Aksi Mogok

Solusi yang bisa ditawarkan khususnya Indonesia sebagai negara pesisir adalah blue carbon dan green carbon. Solusi ini telah diusulkan Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim 2019 yang sedang berlangsung 17-27 Juni 2019 di Bonn, Jerman. Utusan dari Indonesia adalah Duta Besar Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir. Sebelumnya, solusi blue carbon pun menjadi poin penting hasil dari KTT Perubahan Iklim PBB (COP 21 UNFCCC) di Paris, disebut Paris Agreement.

“Pemerintah RI ingin berkontribusi aktif untuk mengurangi emisi karbon sesuai kesepakatan dalam Pertemuan Paris pada 2015 silam,” kata Nurmala.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara pesisir dan kepulauan terbesar di dunia dapat berkontribusi maksimal untuk mengurangi emisi karbon hingga 29-41 persen di tahun 2030 mendatang melalui blue dan green carbon.

Blue carbon dapat menyerap dan menyimpan karbon pada ekosistem laut dan pesisir.

Blue carbon (karbon biru) adalah karbon yang diserap ekosistem pantai dan laut, mencakup lebih dari 55 persen karbon hijau sedunia.

Yang bisa menyerap blue carbon adalah ekosistem mangrove, rawa payau, dan padang lamun (sea grass). Karbon yang diserap dan disimpan ini bisa sampai ribuan tahun.

Sebenarnya, ekosistem penyerap blue karbon terletak di sepanjang pesisir semua benua kecuali Antartika. Ini berarti bahwa seluruh dunia memiliki potensi untuk bisa mengeksplorasi mitigasi emisi karbondioksida melalui blue carbon.

Peneliti Biogeokimia P2O LIPI Aan J Wahyudi menjelaskan bahwa potensi 293.464 hektare padang lamun di Indonesia sebagai negara pesisir dapat menyerap karbondioksida sampai 1,9-5,8 mega ton karbon per tahun.

Blue carbon di pesisir (hutan mangrove, padang lamun, rawa payau, dan phytoplankton) berpotensi menyimpan 77 persen karbon. Jumlah ini tentu lebih besar daripada potensi yang dimiliki hutan.

Meski sudah menjadi poin penting Paris Agreement tahun 2015, namun banyak negara belum memanfaatkan solusi tersebut secara serius.(Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*