LiputanIslam.com –  Turki Al-Maliki selaku juru bicara Kemhan Arab Saudi, bukan atas nama koalisi pimpinan Saudi, akhirnya resmi menuduh Iran berada di balik serangan terhadap dua pabrik minyak Aramco di Abqaiq dan Khuraish. Tuduhan ini dia lontarkan dalam jumpa pers yang dia gelar pada Rabu malam (18/9/2019) sembari memajang peta serta serpihan rudal balistik dan drone yang disebutnya buatan Iran.

Meski demikian, dalam jumpa pers yang disiarkan secara langsung oleh sejumlah saluran TV itu dia tidak menyebutkan secara persis dari wilayah mana senjata itu datang. Dia mencukupkan masalah ini dengan hanya menyebutkan arah, yaitu utara, bukan selatan, sementara di utara ada dua negara, yaitu Iran dan Irak. Lantas apakah ini cukup sebagai alasan untuk mengobarkan perang di kawasan Teluk?

Poin penting yang tak disinggung oleh al-Maliki ialah ihwal bagaimana rudal dan drone sebanyak – seperti yang dia klaim- 25 unit itu dapat mencapai sasarannya di pabrik minyak Abqaiq yang merupakan urat nadi industri perminyakan Saudi tanpa terdeteksi radar-radar mutakhir, padahal ada sistem pertahanan udara Patriot serta pangkalan-pangkalan militer AS yang dilengkapai dengan berbagai jenis peralatan paling mutakhir di Bahrain dan Qatar, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari pabrik itu.

Iran sendiri secara resmi membantah tuduhan Saudi itu maupun tuduhan sebelumnya dari AS. Iran mengirimkan surat bantahan resminya kepada pemerintah AS melalui Kedubes Swiss di Teheran selaku penjaga kepentingan Iran dan AS. Bantahan itu disertai ancaman bahwa balasan Iran akan “sengit dan segera terhadap segala bentuk serangan” yang mungkin terjadi terhadapnya, dan bahwa “balasan itu tidak cukup hanya terhadap sumber ancaman saja”.

Baca: Saudi Tuding Iran Penyerang Aramco, Ini Bantahan Awal Teheran

Ada empat opsi bagi Presiden AS Donald Trump jika dia hendak “membalas” Iran atas serangan terhadap Aramco tersebut.

Pertama, serangan rudal terhadap fasilitas minyak Iran dengan skala yang sengit dan mengacaukan industri minyak Iran.

Kedua, serangan terhadap pasukan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi, mengingat bahwa Turki al-Maliki secara tidak langsung telah menuding pasukan sekutu Iran itu ketika dia mengisyaratkan kemungkinan rudal dan nirawak penyerang Aramco dilesatkan dari wilayah Irak.

Ketiga, serangan cyber untuk melumpuhkan beberapa fasilitas vital Iran, termasuk stasiun pembangkit listrik dan reaktor nuklir.

Keempat, menerapkan sanksi ekonomi baru.

Sulit untuk menentukan mana opsi yang terkuat di antaranya, karena masing-masing memiliki lobinya sendiri di tubuh pemerintahan AS untuk dikedepankan dalam kebijakan negara ini.

Baca: Panas, Iran Bersiap Menghadapi dan Membalas Serangan

Patut diingat bahwa Trump sampai sekarang tidak membalas penembak jatuhan drone supercanggih AS oleh Iran, dan tidak pula melindungi kapal tanker minyak Inggris yang diciduk pasukan Iran di Teluk Persia, padahal kapal itu ada di dekat kapal perang AS.

Kubu di mana Lindsey Graham, orang dekat Trump, berada menekankan serangan militer, dan ini didukung oleh Wapres Mike Pence. Graham telah membuat Trump marah ketika dia menyebut serangan terhadap fasilitas minyak Saudi sebagai “aksi perang” yang harus direaksi demi memulihkan sistem pertahanan yang telah hilang dari AS ketika tidak ada balasan terhadap penembak jatuhan drone AS oleh Iran di Selat Hormuz. Graham menilai tidak adanya pembalasan itu sebagai tanda kelemahan. Trump lantas menanggapinya keras di Twitter dengan balik menyebutkan bahwa tidak adanya balasan justru menandakan kekuatan AS, tanggapan yang kemudian justru mengundang bully dari banyak orang.

Baca: Houthi Yaman Nyatakan Siap Menyerang Dubai dan Abu Dhabi

Ada beberapa indikasi yang menunjukkan bahwa Trump tidak menghendaki konfrontasi militer dengan Iran, setidaknya dalam situasi sekarang, karena dia tidak menghendaki resikonya. Pada tahun 2017 Trump menembakkan lebih dari 100 rudal cruise terhadap Lanud Sheyrat, Suriah, hanya selang dua hari setelah dia menuduh pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia terhadap pemberontak Suriah di kota Khan Sheikhun. Sedangkan serangan terhadap fasilitas minyak Saudi sekarang sudah berlalu hampir satu minggu tapi tidak mendapat reaksi “balasan” dari AS.

Kemudian, seandainya dia memang menghendaki konfrontasi militer dengan Iran maka tidak mungkin dia memecat John Bolton dari jabatannya sebagai penasehat keamanan nasional, sebab Bolton termasuk orang yang gencar mengkampanyekan perang terhadap Iran.

Baca: Pasukan Yaman Kembali Tegaskan Tanggungjawabnya Atas Serangan ke Aramco

Trump lebih mengedepankan latar belakangnya sebagai pengusaha di depan perkembangan situasi di Teluk Persia. Dia hendak memanfaatkan keadaan itu sebagai kesempatan mengeruk lagi puluhan miliar atau bahkan ratusan miliar Dolar dari Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Karena itu dia segera mengirim Menlu Mike Pompeo, bukan menteri pertahanannya, ke Saudi dan UEA. Jadi, seandainyapun opsi militer mengemuka maka misi Pompeo ialah menegokan biaya yang harus dibayar oleh keduanya untuk perlindungan dan mekanisme pertahanan.

Negara-negara Arab Teluk yang mengharapkan serangan militer AS terhadap Iran perlu mengilas balik pernyataan Trump tiga tahun silam ketika dia berkampanye di pilpres. Jelas sekali bahwa dia sangat menekankan keharusan menghentikan kerugian jiwa dan harta miliaran Dolar di Irak dan Afghanistan. Kepada pemimpin Korsel dan Jerman dia juga menegaskan bahwa tidak ada yang gratis untuk jasa perlindungan AS.

Terlepas dari itu, Iran adalah negara bersemangat juang tinggi dan konsisten kepada ideologi kesyahidan sehingga tak heran ketika terbukti tidak hanya berbicara ketika mengancam, melainkan selalu mengimplementasikan dalam tindakan.  Karena itu, tanggapan yang patut atas serangan terhadap Aramco bukanlah serangan serupa, melainkan pencabutan blokade, kembali kepada perjanjian nuklir, penghentian perang Yaman, dan penarikan pasukan secara total dari Yaman. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*