penduduk-aleppo-kaburLiputanIslam.com – Setelah lima tahun diduduki militan pemberontak dan teroris, kota Aleppo akhirnnya kembali ke tangan Pasukan Arab Suriah (SAA). Sesuai kesepakatan yang diumumkan Selasa malam (12/12/2016), militan harus angkat kaki dari kota kedua terbesar di Suriah ini pada Rabu pagi (13/12/2016) pukul 05.00 waktu setempat. Mereka hanya diperkenankan pergi ke Idlib atau tempat lain dengan hanya membawa sepucuk senjata ringan.

Namun demikian, ketika semua perhatian tertuju dan menantikan proses pelaksanaan kesepakatan ini saat demi saat , jam demi jam, kesepakatan itu tak kunjung terlaksana. Yang terjadi justru sebaliknya, kecamuk perang kembali membahana.

Rusia menuding militan melanggar gencatan senjata, Turki menuduh pemerintah Suriah menunda pelaksanaan kesepakatan, dan sumber yang dekat dengan pemerintah Suriah menyatakan bahwa Damaskus meminta daftar nama militan yang akan meninggalkan Aleppo.

Kabar terkini menyebutkan bahwa kesepakatan baru telah dicapai untuk diterapkan gencatan senjata sejak Rabu malam dan evakuasi warga pada Kamis pagi waktu setempat. (Baca: Ahrar Sham Kabarkan Kesepakatan Baru Gencatan Senjata di Aleppo)

Sejak Aleppo jatuh ke tangan SAA dan sekutunya, dan sejumlah negara barat dan Timteng musuh Suriahpun merasa kehilangan Aleppo,  gempita pemberitaan negara-negara ini tentang Suriah kian diwarnai narasi  “tragedi kemanusiaan” berupa pembantaian warga sipil oleh SAA dan sekutunya.

foto-hoax-aleppo

Foto hoax yang dipajang situs al-Arabiya miik Arab Saudi untuk perang terkini di Aleppo.

Situs berita al-Arabiya milik Arab Saudi, misalnya, tak segan-segan memajang foto lama korban luka anak kecil untuk berita berjudul “Laputan Intensif dan Detail Perkembangan Terkini di Aleppo.”  Selain foto ini berkenaan dengan peristiwa yang terjadi November lalu, tim yang menyelamatkan anak itupun bukan kelompok oposisi, melainkan tim yang mengenakan atribut Pertahanan Sipil Suriah, organisasi yang beranggotakan 3000 orang dan menyatakan bersikap netral di tengah krisis Suriah. (baca: Rusia: Teroris Membuat Video Palsu tentang Aleppo)

Mengacu pada laporan medianya, para petinggi Arab Saudi dan Barat melontarkan pernyataan-pernyataan pedas yang menuntut diakhirinya operasi militer di Aleppo. Mereka lantas berencana menggelar sidang darurat tingkat menteri luar negeri untuk membahas krisis Suriah, terutama perkembangan situasi di Aleppo. (Baca: Liga Arab Rencanakan Sidang Darurat Soal Aleppo )

Berbagai medsospun bertabur foto dan penggalan-penggalan video hoax untuk mendukung narasi itu.

Pada puncaknya, Dewan Keamanan Selasa malam menyelenggarakan sidang darurat yang tujuannya hanya merilis kutukan terhadap Suriah dan Rusia.

Ada apa di balik gempita pemberitaan yang menyudutkan Suriah dan sekutunya itu? Jelas bahwa jatuhnya Aleppo ke tangan SAA, apalagi dalam operasi militer yang relatif singkat, adalah mimpi paling buruk bagi kubu ambisius Barat dan negara-negara Arab sekutunya, terlebih Arab Saudi.

Mimpi buruk ini tak terbendung meski segala cara sudah mereka tempuh untuk melindungi eksistensi militan di Aleppo. Karena itu, mereka setidaknya berharap supaya kemenangan besar SAA dapat dibayar mahal oleh Rusia dan Suriah.  Isu HAM kembali dikumandangkan agar khalayak dunia yakin bahwa di Aleppo terjadi genosida dan tragedi kemanusiaan.

Besarnyaa gelombang propaganda anti pemerintah Suriah dan Rusia dapat dilihat dari jalannya sidang darurat Dewan Keamanan PBB, terutama dalam pernyataan masing-masing perwakilan Amerika Serikat (AS), Inggris dan Perancis. Dalam sidang ini Dubes AS untuk PBB telah melontarkan pernyataan tajam dan pedas terhadap Rusia dan Suriah.

Menanggapi hal ini, Presiden Suriah Bashar al-Assad mengingatkan betapa kencangnya mereka berteriak soal Aleppo, tapi bungkam untuk kasus serangan ISIS di kota bersejarah Palmyra (Tadmur).

“Seandainya pemerintah yang menguasainya maka mereka (Barat) akan mengaku prihatin soal peninggalan purbakala. Ketika kami membebaskan Aleppo dari kawanan teroris, mereka  mengaku prihatin atas warga sipil. Mereka tidak prihatin apabila yang terjadi adalah sebaliknya, yakni apabila kawanan teroris membunuhi warga sipil, menggempur Palmyra dan menghancurkan warisan kemanusiaan,” ujar al-Assad. (Baca: Al-Assad: ISIS Serang Palmyra Demi Aleppo )

Di Aleppo sendiri, militan sebenarnya sudah tinggal melangkah menuju barisan bus yang tersedia untuk mereka agar meninggalkan Aleppo, sesuai kesepakatan, toh posisi mereka sudah berada di ujung tanduk. Nyatanya, tak semudah itu mereka melangkah, karena sedapat mungkin mereka masih ingin mempertahankan suasana perang agar propaganda anti Suriah tak kehilangan momentumnya untuk mendramatisir keadaan di Aleppo.

Belakangan muncul hastag berbahasa Arab “Halab tubad” (Aleppo akan musnah) dari kubu aktivis pro-Arab Saudi di berbagai medsos. Tujuannya adalah melimpahkan semua kesalahan di balik kehancuran Aleppo semata-mata kepada Suriah dan sekutunya, sedangkan kubu militan yang merupakan kolaborasi pemberontak dan teroris dikesankan sebagai pihak yang teraniaya dan tak berdosa.

Alhasil, cakrawala Suriah untuk kubu Barat dan negara-negara Arab sekutunya sudah sangat suram. Dengan jatuhnya Aleppo ke tangan SAA, mereka merasa bukan hanya kehilangan Aleppo, melainkan juga seluruh wilayah Suriah. Di tengah kesuraman inilah, tak ada inisiatif dan hal lagi yang dapat mereka perbuat kecuali berkoar tentang tragedi kemanusiaan sembari menebar foto dan rekaman-rekaman video yang sarat rekayasa.

Karena itu, bukan tidak mungkin militan memaksakan diri untuk “betah” menghadapi gempuran SAA dan sekutunya di Aleppo timur hanya lantaran ada titah dari para juragan mereka di Barat dan sejumlah negara Arab agar mereka tidak keluar begitu saja dengan tangan kosong dari Aleppo , melainkan harus terlebih dahulu menikam Suriah dan sekutunya, meski sebatas propaganda. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL