Teheran,LiputanIslam.com-Stasiun televisi Lebanon, al-Mayadeen melakukan wawancara dengan Amir Mousavi, mantan diplomat Iran, tentang figur Jenderal Qassem Soleimani. Dalam wawancara tersebut, Mousavi menuturkan sejumlah poin terkait Syahid Soleimani, yang mungkin jarang diketahui khalayak.

Menurut Mousavi, Syahid Soleimani memiliki dua karakteristik, yang membuatnya dicintai kawan dan disegani lawan. Pertama, dia tidak terikat dengan mazhab atau suku; kedua, dia juga tidak terikat dengan sayap politik tertentu, baik di Iran, Irak, Lebanon, atau Palestina.

“Dia selalu berkata bahwa kita harus bersepakat dalam masalah-masalah primer. Pandangan strategisnya ini membuat dia mengesampingkan masalah-masalah kecil. Syahid Soleimani bertujuan menciptakan kesepahaman di berbagai kalangan. Baginya, tak ada kendala untuk bisa saling memahami. Satu-satunya tujuan dia adalah meredam proyek Zionis-AS di kawasan,”kata Mousavi.

Mousavi mengatakan, Syahid Soleimani bukan sekedar figur militer, tapi juga aktif di pentas diplomatik, sehingga sering bertemu dengan para pejabat negara-negara lain dalam beragam level.

“Terkait Saudi, Syahid Soleimani punya program untuk membebaskan Saudi dari delusinya. Dia selalu berkata, kita harus menolong Saudi, karena mereka punya delusi membahayakan, yang bisa merugikan diri mereka dan kawasan. Mereka keliru dan tidak bisa memandang masalah dari sudut pandang yang tepat. Ketika ada delegasi militer dari UEA, Saudi, atau Bahrain datang, Syahid Soleimani kerap bertemu mereka untuk mengetahui pandangan-pandangan mereka serta memaparkan pendapatnya,”jelas Mousavi.

“Dia ingin agar Poros Resistansi di kawasan menjadi kuat. Saat para pemimpin negara-negara kawasan menemuinya dan meminta pandangannya, Syahid Soleimani mengingatkan,’saya hanya sebagai konsultan di Poros Resistansi, dan keputusan ada di tangan Anda. Putuskan apa yang terbaik untuk negara Anda.’ Tak seperti yang dituduhkan, Syahid Soleimani tidak mendiktekan pandangannya kepada pihak lain,’imbuhnya.

Wafa Saraya (presenter al-Mayadeen) lalu menanyakan dimensi humanis Syahid Soleimani. Dia berkata,”Dalam wawancara dengan Mr. Zarif (menlu Iran), dia mengatakan bahwa Syahid Soleimani kerap menghentikan operasi militer lantaran masalah-masalah kemanusiaan.”

Mousavi mengatakan,”Saya akan menambahi pernyataan dari Mr. Zarif. Syahid Soleimani juga melakukan hal ini, bahkan di hadapan petempur ISIS sekalipun. Dia selalu mengutip pesan Imam (Ali) Khamenei agar IRGC dan sekutu Iran sebisa mungkin menawan ISIS saja (dan tidak membunuh mereka). Mereka adalah para pemuda yang telah tertipu oleh fatwa para mufti Saudi dan selainnya, sehingga melakukan berbagai kejahatan di Suriah, Irak, dan negara lain.”

“Sebab itu, Syahid Soleimani mengusung misi kemanusiaan, bukan hanya Islami. Dia selalu berusaha sebisa mungkin untuk menyadarkan para teroris itu. Saya akan menyebutkan satu contoh sederhana. Sebagian petempur ISIS yang ditawan Suriah, akhirnya bergabung (dengan pasukan Suriah) dalam pembebasan Deir az-Zor untuk menebus kesalahan mereka. Mereka sampai di titik yang di sana bisa menyadari kekeliruan mereka. Mereka lalu diperbantukan untuk membasmi takfiri-takfiri lain. Oleh karena itu, saya berpikir, ini adalah semacam jalan hidup yang akan langgeng dalam sejarah,”tandas Mousavi. (af/fars)

Baca Juga:

Iran Pamerkan Serpihan Bodi dan Komponen Drone AS yang Tertembak Jatuh

Ayatullah Khamenei: Perjanjian Abad Ini adalah Rencana Bodoh

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*