Dina Yulianti & Otong Sulaeman
(Universitas Padjadjaran, STAI Sadra)
Momen di malam 13 Juni 2025 telah menunjukkan paradigma baru: dalam geopolitik, ada saat-saat di mana keheningan justru berbicara lebih lantang daripada ledakan. Malam itu, Pemimpin (Rahbar) Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei tampil di hadapan rakyatnya—bukan dengan kemarahan atau retorika membara, tetapi dengan ketenangan penuh kalkulasi.
“Mereka telah melakukan kesalahan besar… Ini membuat mereka akan mengalami nasib yang mengenaskan,” ucapnya pelan, namun tegas.
Hanya beberapa jam setelahnya, rudal-rudal balistik Iran menembus langit Israel, melewati sistem pertahanan Iron Dome, dan menghantam jantung Tel Aviv. Ini bukan aksi balasan emosional, tetapi sinyal strategis. Sebuah doktrin, pencegahan, dan penataan ulang dinamika kekuasaan di Asia Barat. Balasan Iran ini merespons serangan Israel yang terjadi pada dini hari 13 Juni, yang menewaskan sejumlah petinggi IRGC dan ilmuwan nuklir Iran serta melukai warga sipil di Teheran.
Di Balik Ketenangan: Kalkulasi Strategis Sang Pemimpin Tertinggi
Selama puluhan tahun, media Barat menggambarkan Ayatollah Khamenei sebagai teokrat puritan, simbol konservatisme ideologis Iran. Namun di balik penampilannya sebagai ulama tua yang kalem itu, tersembunyi pemikiran politik yang telah diasah oleh dekade panjang konfrontasi, embargo, dan perang asimetris. Kepemimpinannya tak hanya dibentuk oleh revolusi Islam, tetapi juga oleh pemahaman mendalam atas realpolitik dan strategi penundaan (strategic patience).
Konflik dengan Israel telah lama berlangsung dalam bentuk “perang bayangan”—sabotase, siber, dan pembunuhan intelijen. Namun serangan Israel pada 13 Juni 2025 menandai fase baru. Dengan menargetkan kawasan sipil dan tokoh-tokoh kunci, Israel secara terang melintasi khatte qermez (garis merah) doktrinal Iran.
Pernyataan Khamenei pada malam itu, disampaikan beberapa jam setelah korban berguguran, bukan hanya sekadar penghiburan nasional, melainkan isyarat keras yang dibungkus ketenangan. Di situ, ia menyatakan:
“Israel adalah rezim teroris yang melakukan serangan, Iran akan menggunakan haknya untuk membalas, dan negara manapun yang membantu, artinya juga melakukan serangan terhadap Iran, dan mereka juga akan mendapatkan giliran untuk menerima balasan.”
Pernyataan ini memberi legitimasi atas tindakan balasan Iran, sejalan dengan Pasal 51 Piagam PBB. Dengan nada pelan namun tajam, Khamenei menyampaikan strategic warning yang efektif: bukan hanya kepada Israel, tetapi juga kepada pihak mana pun yang membantu agresi terhadap Iran.
Stoikisme sebagai Strategi: Bukan Filsafat, Tapi Karakter Politik
Yang membedakan respons Iran bukan sekadar kekuatan rudalnya, tetapi karakter kepemimpinan di balik keputusan tersebut. Khamenei, kini di usia delapan puluhan, tetap tenang dalam badai. Ia jarang berbicara, tetapi ketika berbicara, ucapannya membawa bobot pengalaman puluhan tahun dalam menghadapi dominasi imperialis.
Gaya kepemimpinan ini dapat dipahami sebagai bentuk dari apa yang bisa kita sebut sebagai stoikisme strategis—yakni kemampuan menahan diri dari reaksi impulsif, namun tetap menjaga ketegasan prinsip dan kesiapan membalas dengan presisi.
Tentu saja, istilah “stoikisme” di sini bukan berarti bahwa Khamenei menganut filsafat Stoikisme Yunani. Dalam bidang pemikiran, ia dikenal sebagai seorang Neo-Sadrian, pengikut Mulla Sadra, filsuf besar Islam yang menekankan integrasi akal, wahyu, dan intuisi ruhani. Namun dalam konteks geopolitik, gaya kepemimpinannya mencerminkan disiplin strategis yang mirip dengan etos Stoik: sabar, tegar, tidak emosional, dan penuh kendali dalam menghadapi provokasi. Sebuah kepemimpinan yang tidak membutuhkan teatrikalitas militer untuk menunjukkan kekuatan.
Dampak Regional dan Internasional
Serangan balasan Iran ke Tel Aviv tidak hanya bersifat teknis-militer. Ia mengguncang seluruh kalkulasi strategis kawasan. Selama puluhan tahun, Israel beroperasi di bawah persepsi kekebalan—didukung teknologi tinggi dan jaminan proteksi dari AS. Kini, persepsi itu retak.
Monarki-monarki Arab yang sedang menormalisasi hubungan dengan Israel kini menghadapi dilema strategis. Apakah mereka akan terus bertaruh pada janji keamanan Barat, atau mulai mempertimbangkan konsekuensi dari konfrontasi terbuka? Turki dan Qatar pun mungkin harus meninjau ulang keseimbangan posisi mereka.
Sementara itu, Rusia dan Tiongkok, dua kekuatan besar yang tengah memperluas pengaruhnya di Timur Tengah, akan mencatat peristiwa ini sebagai tanda bahwa Iran tidak lagi hanya memainkan peran simbolik dalam perlawanan terhadap Zionisme. Iran kini menunjukkan dirinya sebagai aktor kekuatan keras (hard power) yang siap mengubah struktur regional.
Penutup
Juni 2025 mungkin akan dikenang bukan hanya karena rudal-rudal yang menghantam Tel Aviv, tetapi karena ketenangan seorang pemimpin tua di Teheran yang menggetarkan percaturan global. Di tengah dunia yang riuh oleh ancaman kosong dan diplomasi teatrikal, Ayatollah Khamenei menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu datang dari suara paling lantang—tetapi dari tindakan paling tepat, pada waktu yang paling menentukan.
Dan seperti doktrin filsafat yang ia warisi dari Mulla Sadra: yang sejati bukanlah kekuatan jasad, melainkan kedalaman wujud dan kebijaksanaan dalam bertindak.