Siapa yang Akan Mendapat Keuntungan Besar dari Covid-19?

0
5237

Penulis Italia, Fabio Giuseppe Carlo Carisio, meneliti siapa perusahaan yang diperkirakan akan mengambil keuntungan dari wabah Covid-19.

Menurutnya, di antara  perusahaan yang paling besar meraih keuntungan adalah perusahaan vaksin Glaxo Smith Kline (GSK), yang dibiayai oleh berbagai agen Pentagon (Kementerian Pertahanan AS) dan perusahaan ini juga berinvestasi di berbagai hal, antara lain di perusahaan senjata.

Bill & Melinda Gates Foundation juga mendukung GSK dalam menemukan vaksin Covid-19 ini, yang sangat jelas, sudah ditemukan sejak beberapa waktu yang lalu, hanya tinggal diuji coba.

Sebuah studi tentang coronavirus, jenis virus yang menimbulkan flu yang serius dan mematikan (MERS 2012, 858 meninggal dan SARS 2003, 814 meninggal) termasuk, termasuk SARS-CoVid-2 yang baru (sebelumnya 3.045), diluncurkan di AS pada November 2018 melalui paten no. 10130701 dari Pirbright Institute. Institite ini  dengan hati-hati menyatakan bahwa penelitian itu menyangkut genotipe dilemahkan dan ditujukan secara eksklusif pada beberapa penelitian di bidang bronchitis yang menginfeksi unggas.

Bila digali lebih dalam, ditemukan nama-nama dan perusahaan yang terkait dengan GSK. Antara lain, Emma Walmsley (49 tahun), CEO and Executive Director GSK sejak 2017, dan sejak 2019 juga menjadi direktur (non-eksekutif) Microsoft Corporation, yang didirikan oleh Bill Gates.

Meskipun GSK berbasis di London, sebenarnya 15% sahamnya dimiliki oleh beberapa lembaga finansial AS seperti BlackRock, The Vanguard, Capital & Research Management. Mereka ini juga menjadi pemegang saham perusahaan-perusahaan militer paling penting di dunia.

The BlackRock dimiliki oleh tokoh Zionis New York, Larry Fink, memiliki lebih 5% saham GSK. Investor lain yang punya spesialisasi di sektor perang adalah Norge Bank Investment Management.

Lalu, Norwegia, Jerman, Jepang, Ethiopia, Inggris, Kanada, Australia, selama beberapa tahun telah mendukung CEPI (Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi), sebuah lembaga penelitian yang diresmikan di Davos tahun 2017 yang punya 3 kantor, di Oslo, London, dan Washington DC, berkat donasi dari Bill & Melinda Gates Foundation and Wellcome Trust (lembaga amal yang didirikan setelah perusahaan farmasi Wellcome diambil alih oleh GSK).

CEPI dan GSK pada Maret 2020 mengumumkan kolaborasi baru untuk pengembangan vaksin virus 2019-nCoV. GSK juga tengah bersiap menerima bisnis yang sangat besar sebentar lagi, dan telah membuat lab yang sangat besar di Italia. Omzetnya di sektor vaksin ini adalah 19% di seluruh dunia dan meskipun GSK belum memiliki vaksin, ia sudah menandatangani perjanjian dagang dengan industri Cina Clover Biopharmaceuticals, dan kemungkinan akan diikuti dengan perjanjian lain di seluruh dunia dunia.

Menurut Roger Connor, presdir di divisi vaksi GSK, pihaknya sedang membuat gepotidacin, jenis baru antibiotik. Gepotidacin adalah hasil kerjasama GSK dengan the Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA) and the Defence Threat Reduction Agency (DTRA).”

DTRA adalah salah satu agen Pentaton (militer AS) yang membuka minimalnya 25 lab rekayasa biokimia untuk penelitian di bidan senjata bakteri (bacteriological weapons),termasuk senjata biogenetic, yaitu, senjata biologis yang bisa diarahkan pada etnis tertentu, misalnya etnis China, atau Iran, atau Italia.

Pada tahun 2007, GSK juga menandatangani perjanjian dengan DRTA untuk mengidentifikasi dan membangun jenis antibakteri yang baru dan mendapatkan dana riset  41 juta dollar dalam periode 5 tahun. GSK juga berkonsolidasi dengan DARPA, lembaga riset Pentagon yang mendirikan sektor biologi pada 2014 dengan menggelontorkan dana 65 juta dollar untuk pengeditan genetika yang dapat memperbaiki jaringan luka (yang dialami tentara) serta untuk memodifikasi DNA kelelawar atau virus dengan teknik biokimia.

Tidak hanya itu, GSK juga menjadi penyedia vaksin bagi tentara AS. Hal ini memunculkan kecurigaan bahwa GSK sesungguhnya sudah memiliki vaksin Covid-19 karena di tengah pandemik ini, AS justru mengirim 20 ribu tentaranya ke Europa dalam rangka latihan militer NATO terbesar dalam 25 tahun terakhir.

Padahal di saat yang sama, AS melarang perjalanan ke Italia dan Eropa pada umumnya (untuk menghindari virus). American Airlines dan Delta Air Lines sudah membatalkan seluruh penerbangan New York-Milan. Sungguh aneh, dalam kondisi ini, 20.000 tentara dikirim langsung ke Eropa, dan pada April dan Mei, 30.000 tentara AS yang sudah ada di Eropa juga akan bergabung. Mereka bersama dengan 7.000 tentara dari 17 anggota NATO akan melakukan latihan militer bersama.

Terakhir, mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa media massa internasional satu suara dalam memberitakan wabah ini? Ada satu nama yang terkait dengan GSK: Manvinder Singh Banga, pengusaha India berusia 64 tahun yang menjadi anggota dewan perusahaan (beberapa grup GSK terdaftar di pasar saham India). Sejak 2009, Banga juga menjadi direktur independen di Thomson Reuters, perusahaan Kanada yang menguasai kantor berita terbesar dan terkuat di dunia: Reuters.

Kesimpulannya? Terserah Anda.

Diringkas dari tulisan Fabio Giuseppe Carlo Carisio. Sumber.

https://www.veteranstoday.com/2020/03/07/lethal-bioweapon-gsk-golden-vaccines-ring-with-bill-gates-pentagon-and-zionists-blackrock/

DISKUSI:
SHARE THIS: