Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Tabayun

Pergeseran Makna Jihad Ke Terorisme

Published 30/09/2014 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

jihad islamPerkembangan berbagai konsep jihad sejak era kenabian hingga era kontemporer menunjukkan bahwa dalam perjalanan sejarahnya jihad telah dimaknai secara kompleks sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapi para penafsir. Pada era kenabian, jihad merupakan perjuangan yang cakupannya sangat luas, termasuk berjuang mempertahankan diri dan kebebasan memeluk Islam dari serangan musuh Islam.

Pada era ekspansi teritorial khilafah, jihad ditafsirkan sebagai ideologi perang opensif oleh penguasa untuk menjustifikasi kepentingan ekspansionis. Kaum agamawan sektarian yang fanatik secara subjektif juga dapat menafsirkannya guna melegitimasi perang melawan sekte Islam yang lain. Misalnya, ulama wahabi menggunakan konsep jihad untuk menjustifikasi serangan terhadap syiah dan para penganut bid’ah; khawarij menggunakannya untuk melawan kelompok pro tahkim pada era Ali bin Abi Thalib; dan para penguasa menggunakannya untuk menyerang berbagai kelompok yang dituduh zindiq.

Pada masa Dinasti Umayyah, ketika kaum muslimin mengalami degradasi moral dan krisis spiritual, para mistikus muslim menafsirkan ayat-ayat jihad secara esoterik guna membangun kembali fondasi etik dan moral umat yang tengah rapuh. Para sufi merasa bahwa kemenangan perang fisik di sejumlah wilayah yang diikuti oleh melimpahnya kekayaan hasil rampasan perang telah membuat umat Islam terjerumus ke dalam hedonisme dan materialisme.

Di sisi lain, perang internal yang berdarah-darah antar sekte Islam yang muncul karena persoalan politik duniawi telah menyebabkan umat Islam mengabaikan aspek rohani yang sangat penting bagi kebersihan jiwa manusia. Melihat realitas tersebut, para sufi menyuarakan revolusi spiritual (tsawrah ruhiyyah) yang menekankan pentingnya jihad akbar melawan hawa nafsu yang merupakan musuh sejati setiap insan.

Sebagaimana negara membutuhkan benteng pertahanan untuk mengantisipasi serangan musuh eksternal, jiwa manusia memerlukan penempatan batin dan riyadhah (tirakat) sebagai benteng pertahanan dari berbagai godaan laten setan. Jiwa manusia hanya akan bahagia di dunia dan akhirat jika dibersihkan dari kebencian, permusuhan, ketamakan, kesombongan, cinta dunia, dan kotoran-kotoran hati lainnya. Umat Islam harus ber-jihad akbar dalam medan perang spiritual untuk mewujudkan asketisme, rasa saling mengasihi, persaudaraan, solidaritas, dan saling menghargai yang berbasis pada kerendahan hati.

Jihad dalam perspekstif sufistik memang terkesan melankolis dan nir-kekerasan, tetapi kondisi sosio politik yang datang silih berganti menuntut adanya pembacaan baru terhadap konsep jihad. Ketika perang salib meletus dan serangan bangsa Mongol meruntuhkan Baghdad, ulama memobilisasi umat Islam untuk berjihad secara defensif untuk melawan musuh yang menduduki wilayah kaum muslimin.

Kemudian, ketika tampuk kekuasaan dan supremasi hukum dikendalikan oleh orang-orang Mongol, Ibn Taymiyah menyerukan jihad opensif memerangi penguasa yang tidak menjalankan syariat Islam. Saat itu, jihad tidak lagi berkonotasi membela diri dari serangan, tetapi sebagai kendaraan politik dalam rangka menerapkan syariat formalistik.

Konsep jihad yang bernuansa politis ini pada era modern di adopsi oleh Sayid Quthb, Abdus salam Faragh, dan gerakan muslim guna mendelegitimasi demokrasi yang dianggap sebagai sistem thagut dan memaksakan pendirian khilafah Islamiyah yang telah runtuh setelah gerakan sekularisasi Turki oleh Kemal Attaturk.

Konsep jihad kemudian berkembang sebagai ideologi antikolonialisme. Dalam memperjuangkan hal ini, ulama terjun ke lapangan sebagai pejuang kemerdekaan bersama kaum nasionalis melawan kekuatan militer negara-negara kolonial eropa. Jihad anti kolonial ini masih dapat dikategorikan sebagai jihad defensif yang sesuai dengan semangat Alquran.

Namun, pasca kemerdekaan negara-negara bekas jajahan Eropa, muncullah era baru neo-imperialisme yang ditandai dengan intervensi Amerika dan Israel dalam masalah-masalah Timur Tengah. Era ini ditandai dengan adanya perkembangan konsep jihad yang sangat reduktif; kelompok-kelompok militan muslim kontemporer memaknai jihad sebagai aksi-aksi teror dengan target warga sipil dan noncombatans demi mencapai tujuan politik. Jihad teroristik macam ini dilakukan melalui operasi bom bunuh diri yang sangat destruktif dan sadis guna menyebarkan pesan, ancaman, dan ketakutan kepada masyarakat luas.

Ayman az-Zawahiri dan Osama bin Laden, misalnya, menganjurkan seluruh umat muslim yang mampu agar membunuh warga sipil maupun militer Amerika dan sekutunya di mana pun mereka berada. Mereka menilai bahwa Amerika dan sekutunya adalah teroris sebenarnya yang menargetkan pembantaian terhadap warga militer dan muslim di Irak, Afghanistan, Palestina, dan kawasan-kawasan lain. Oleh sebab itulah, kaum muslim pun berkewajiban membalas dengan melakukan serangan teror kepada warga sipil ataupun militer Amerika dan sekutunya.

Pandangan normatif jihad permanen inilah yang dianut oleh gerakan terorisme kontemporer yang mengimani bahwa jihad adalah sebuah keniscayaan permanen dan menafikan dialog antar peradaban. Di Indonesia, norma jihad semacam itu di anut oleh para teroris seperti Imam Samudra sebagaimana tertulis dalam bukunya, Aku Melawan Teroris. Jihad ofensif dinilai sebagai norma landasan teoritis-yuridis bahwa ayat-ayat pedang turun belakangan telah menghapus ayat-ayat toleransi. (hd/liputanislam.com)

*Diolah dari buku  karya Irwan Masduqi, Ketika Nonmuslim Membaca Alquran: Pandangan Richard Bonney Tentang Jihad, Yogyakarta : Bunyan, 2013.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Tabayun

PBB: Terjadi Eksekusi-Eksekusi Cepat Bermotif Sektarian di Suriah

By Muhammad
Tabayun

Gencatan Senjata Diusulkan untuk  Gaza, Begini Beberapa Rinciannya

By Muhammad
Galeri

Falasi Zionis (6): Ada Teroris Membela Palestina

By Farid
Galeri

Falasi Zionis (5): Melawan Israel Itu Irasional

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account