Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Tabayun

Lima Teori Tentang Munculnya Terorisme (2)

Published 08/08/2014 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

radikalisme2). Teori Kedua : Terorisme Lahir dari Keterbelakangan, Ketertindasan dan Kemiskinan

Robert K. Merton, seorang sosiolog penganut pradigma fungsionalisme-struktural menjelaskan bahwa objek analisa sosiologi adalah fakta sosial seperti : peranan sosial, pola-pola institusional, proses sosial, organisasi kelompok, pengendalian sosial dan sebagainya. Hampir semua penganut teori ini berkecenderungan untuk memusatkan perhatiannya kepada fungsi dari suatu fakta sosial terhadap fakta sosial lainnya. Hanya saja menurut Merton pula, sering terjadi percampuradukan antara motif-motif subjektif dengan pengertian fungsi. Padahal perhatian fungsionalisme struktural harus lebih banyak ditujukan kepada fungsi-fungsi dibandingkan dengan motif-motif. Fungsi adalah akibat-akibat yang dapat diamati yang menuju adaptasi atau penyesuaian dalam suatu sistem. Oleh karena fungsi itu bersifat netral secara ideologis maka Merton mengajukan pula satu konsep yang disebutnya : dis-fungsi. Sebagaimana struktur sosial atau pranata sosial dapat menyumbang terhadap pemeliharaan fakta-fakta sosial lainnya, sebaliknya ia juga dapat menimbulkan akibat-akibat yang bersifat negatif.

Kita amil cotoh kasus yang sedang kita bincangkan yakni kemiskinan. Kemiskinan itu bisa terjadi secara atural da bisa secara struktural. Secara natural, jika kita miskin dikarenakan alam yang kita tempati memang tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk diekplorasi untuk menghasilkan kekayaan. Masyarakat pinggiran yang tinggal di tanah yang gersang, misalnya, cenderung miskin dikarenakan alamnya. Namun, jika tanahnya subur, lautnya penuh ikan, hutannya penuh kayu, alamnya memiliki sumber daya yang luar biasa, tetapi masyarakatnya miskin, maka bisa dipastikan kemiskinan da ketertidasan itu “direncanakan” oleh segelintir orang yang menikmati kekayaan. Kemiskinan ini disebut kemiskinan struktural.

Kemiskinan dan ketertindasan ini ditinjau dari sisi tertentu memiliki fugsi bagi struktur tertentu. Misalnya, menyediakan tenaga buruh yang murah. Tetapi di sisi lain, hal itu mempunyai disfungsi, yang mana kemiskinan da ketertidasan akan membuat orang berperilaku menyimpang seperti mencuri, merampok, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika kondisi kemiskinannya kontras degan sebagaian kecil kelompok tertentu yag sangat kaya, maka akan memunculkan kebencian, terlebih jika elit kaya tadi tidak peduli bahkan cenderung menzalimi. Maka lahirlah perlawanan dalam bentuk kekerasan. Orang-orang yang terjebak dalam kemiskinan dengan mudah direkrut karena sudah mengakumulasinya kebencian.

Ketertindasan dan kemiskinan yang struktural atau yang diciptakan merupakan wujud pelanggaran keadilan. Bagaimanapun pada dasarnya tidak ada manusia yg ingin ditindas. Hanya saja, saat ditindas beragam ekspresi muncul dalam bentuk perlawanannya. Ada yang dengan mogok makan, ada yang dengan demonstrasi, hingg ada yang membuat bom bunuh diri. Solusi Islam biasanya lebih condong ke arah resistensi terhadap penindasan. Islam melarang orang menerima penindasan. Perdamaian dalam Islam itu tidak mutlak applicable. Yang mutlak adalah keadilan. Tidak ada kedamaian tanpa keadilan. Bukan tidak mungkin terjadi, tetapi tidak boleh terjadi. Jika orang yang ditindas memilih perdamaian itu artinya dia menerima kezaliman karena tidak mengadakan perlawanan. Namun, perlawanan apakah harus menggunakan senjata atau yang lain itu masih terbuka untuk wacana, karena berbeda dari kasus ke kasus.

Graham E. Fuller dalam A World Without Islam menyebutkan bahwa terorisme dapat dipicu juga oleh faktor keterbelakangan. Tidak diragukan lagi bahwa dunia Islam mengalami kemunduran di bidang pendidikan, standar hidup, minimnya kesempatan kerja, dan aneka persoalan lainnya yang menyebabkan masyarakatnya frustasi dan cenderung menyelesaikan masalah dengan cara kekerasan. Namun. Assaf Mughaddam dalam The Root of Terorism menggarisbawahi bahwa hubungan antara keterbelakangan pendidikan dan ekonomi dengan terorisme tidaklah bersifat langsung. Di Libanon, misalnya, anggota milisi Hizbullah memang secara umum memiliki tingkat kehidupan ekonomi yang lebih rendah dibandingkan populasi pada umumnya. Namun, sebagian besar mereka tergolong memiliki level pendidikan yang tinggi. Begitu pula, kaum ekstremis Yahudi yang dikenal dengan nama Makheret beranggotakan orang-orang yang sangat terdidik. Di sisi lain, Osama bin Laden dan para aktivis Al-Qaeda adalah orang-orang yang memiliki latar belakang ekonomi yang sangat mapan. Semua fakta ini membuktikan bahwa hubungan antara terorisme, kemiskinan, keterbelakangan pendidikan bersifat tidak langsung. Meskipun demikian, pengentasan kemiskinan, peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan kesejahteraan sosial tetap merupakan langkah-langkah yang sangat diperlukan untuk meminimalkan terorisme dan segala bentuk kekerasan atas nama agama. (hd/liputanislam.com)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Tabayun

PBB: Terjadi Eksekusi-Eksekusi Cepat Bermotif Sektarian di Suriah

By Muhammad
Tabayun

Gencatan Senjata Diusulkan untuk  Gaza, Begini Beberapa Rinciannya

By Muhammad
Galeri

Falasi Zionis (6): Ada Teroris Membela Palestina

By Farid
Galeri

Falasi Zionis (5): Melawan Israel Itu Irasional

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account