Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Tabayun

Kesaksian Jurnalis AFP, Dari Paris Ke Teheran Bersama Imam Khomaini

Published 31/01/2019 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

LiputanIslam.com –  Malam hari tanggal 1 Februari 1979 Imam Khomaini menaiki pesawat Air France dari Bandara Roissy di pinggiran kota Paris menuju Teheran dalam sebuah perjalanan langka, “perjalanan revolusi”.

Sebelumnya dia tinggal di Neauphle-le-Château yang juga terletak di pinggiran Paris selama empat bulan, setelah 14 tahun terdampar di pengasingan di Negeri 1001 Malam, Irak.

Di atas pesawat itu dia dibarengi oleh sejumlah orang dekatnya, selain 150 wartawan, termasuk utusan khusus AFP, Pierre Lambert.

Berikut ini, sebagaimana di muat situs Global Village Space pada 29 Januari 2019,  adalah catatan Lambert mengenai perjalanan tersebut:

Dari Paris ke Teheran Bersama Ayatullah Khomaini

TEHRAN, 1 Februari 1979 (AFP) – Setelah lebih dari 14 tahun di pengasingan dan penerbangan khusus yang lancar selama lima setengah jam di atas Boeing Air France, Ayatollah Ruhollah Khomeini akhirnya kembali ke tanah kelahirannya pada hari Kamis yang bersejarah untuk bangsa Iran.

Saat itu jam 09:40 pagi waktu setempat, dan matahari pucat musim dingin terbit ketika sosok pemimpin Syiah ini bergerak melangkah ke tanah leluhurnya di bandara Merhabad, Teheran. Boeing 747 yang memiliki 349 kursi hanya membawa 200 penumpang, meninggalkan banyak harapan di belakang, untuk dapat membawa bahan bakar sebanyak mungkin guna mengantisipasi kasus “segala sesuatunya berjalan buruk”, yaitu dilarang mendarat sehingga harus kembali, kata seorang pejabat bandara sebelum take-off.

Seluruh awak pesawat dalam penerbangan langka ini adalah para relawan, kata seorang pramugari, meskipun tidak ada bonus risiko yang ditawarkan. Yang pertama naik adalah Sang Ayatullah, dengan langkah percaya diri meski sudah berusia 76 tahun. Siluetnya yang ramping terbungkus jubah hitam, mengambil kursi A1 di kelas satu.

Dikelilingi oleh sekitar 40 mullah dan pengikut, lelaki tua pemimpin oposisi dengan cambang ala nabi ini tetap diam dan tenggelam dalam pikiran selama jam pertama perjalanan, meskipun sebuah bangsa sedang menunggunya sembari menahan napas. Kemudian, bersama seorang putranya, dia beranjak ke lantai atas, duduk di salah satu kursi dari bar, dan dengan cepat tertidur.

Ketika pesawat terbang di atas Bosphorus, seorang asisten bernama Sadegh Ghotbzadeh – yang juga sedang pulang ke Iran setelah 20 tahun berada di pengasingan dan disebut-sebut sebagai menteri “pemerintahan revolusioner” di masa mendatang – tiba-tiba menggelar konferensi pers di tengah badan pesawat.

Dia mengatakan, “Sebelum pergi, Sang Ayatullah mengumpulkan kami, para pengikutnya, bersama-sama, dan memberi tahu kami; ‘Perjalanan ini melibatkan risiko yang tidak saya anggap remeh: Saya bisa dibunuh. Saya bisa ditawan. Saya bisa dijebloskan ke dalam tahanan rumah. Saya menerima kemungkinan-kemungkinan ini dengan hati yang ringan, namun saya sangat memahami mereka yang menolaknya dan memilih untuk tidak pergi. Setiap orang harus bertanggung jawab atas diri masing-masing.’”

Ghotbzadeh kemudian mengejutkan wartawan dengan pernyataan bahwa dalam pesawat ini tidak ada wanita atau anak kecil.

“Pesawat ini jauh lebih tidak aman daripada yang Anda kira. Mereka bisa menembak kami,” katanya beralasan, membuat banyak orang jadi merinding.

Distribusi Senjata

Ghotbzadeh kemudian mengumumkan bahwa “pemerintah revolusioner akan diproklamasikan dalam dua atau tiga hari ke depan”, dan menegaskan bahwa Sang Ayatullah akan menolak semua dialog dengan Perdana Menteri Shapour Bakhtiar “selama dia belum mengundurkan diri.”

Dia mengatakan bahwa senjata sedang didistribusikan kepada orang-orang di seluruh negeri.

“Perintah untuk menggunakan senjata itu belum diberikan, tapi akan tiba saatnya.. Tentu saja, senjata kami kurang kuat daripada tentara yang bermimpi memusnahkan kami, tapi kami memiliki iman, kami akan mengatasinya,” tutur Ghotbzadeh.

Mengenai kemungkinan terjadinya serangan terhadap “Pemimpin Tertinggi” (Imam Khomaini) yang sedang pulang ini, Ghotbzadeh berkata: “Jika mereka menyentuh sehelai saja rambut di kepalanya, maka segalanya akan menjadi berdarah-darah.”

Shalat Dalam Penerbangan

Sang Ayatullah terjaga dari tidurnya. Sekitar dua jam sebelum tiba di Bandara Mehrabad, Teheran, dia meminta segelas air dan pemberitahuan arah kota Mekkah. Beberapa saat kemudian lelaki tua itu tenggelam dalam shalat dan doanya.

Pada setengah jam penerbangan tersisa, pesawat muncul dari malam dan mendekati siang hari Iran di atas pegunungan yang tertutup salju. Dalam keheningan di jendelanya, Khomeini merenungkan negara di bawahnya yang telah lama dinanti-nantikannya,  yang hanya beberapa jam yang lalu begitu jauh darinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak naik pesawat, sebuah senyuman tersungging di wajahnya yang sering keras dan serius, dan fotonya pun melimpah di berbagai surat kabar di seluruh dunia selama beberapa bulan terakhir. (mm/globalvillagespace)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Tabayun

PBB: Terjadi Eksekusi-Eksekusi Cepat Bermotif Sektarian di Suriah

By Muhammad
Tabayun

Gencatan Senjata Diusulkan untuk  Gaza, Begini Beberapa Rinciannya

By Muhammad
Galeri

Falasi Zionis (6): Ada Teroris Membela Palestina

By Farid
Galeri

Falasi Zionis (5): Melawan Israel Itu Irasional

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account