Kehidupan di Iran Selama Wabah Covid 19

0
5248

Oleh: Jennifer Green*

Saya datang ke Iran pada bulan April tahun lalu. Saya dan suami saya berpikir kami bisa kembali ke rumah di Amerika Serikat. Namun akibat virus COVID-19, tiket pesawat kami dibatalkan. Pada awalnya, saya merasa sangat tidak aman di sini, bahkan setelah ada kabar bahwa tidak ada tempat yang aman dari penyebaran virus corona. Kami berada di kota besar yang sepenuhnya bergantung pada sektor agrikultur dari daerah lain, maka ada kekhawatiran tentang kekurangan rantai pasokan serta potensi kerusuhan sipil. Lagipula, tahun 2019 dan 2020 adalah tahun yang sangat sulit bagi rakyat Iran, di luar masalah wabah.

Namun, setelah membaca berita dari media Barat dan melihat kepanikan orang-orang membeli tisu toilet, desinfektan, dan masker, saya bertanya-tanya tidakkah lebih baik di Iran saja.

Sekarang ini, supermarket, pasar, dan toko di Teheran ramai dan penuh dengan orang-orang yang membeli makanan dengan jumlah lebih banyak dari biasanya. Tapi sejauh ini, saya belum melihat ada yang berkelahi atau menimbun barang. Rak-rak masih penuh. Belum ada kekurangan. Saya masih bisa menemukan semua barang yang saya butuhkan.

Kebutuhan terhadap tisu toilet tidak sebesar di tempat lain karena orang mencuci tubuh mereka dengan air setelah menggunakan toilet. Mungkin mereka menggunakan tisu toilet hanya untuk mengeringkan saja. Tidak ada yang mencium pipi tiga kali (tradisi orang Iran); beberapa orang sudah mengadopsi salam ala Wuhan, atau bersalaman dengan kaki.

Hari Nowruz atau Tahun Baru Persia akan sangat berbeda. Biasanya, itu adalah waktu mengunjungi semua kerabat Anda yang masih hidup dan menjadi tuan rumah bagi mereka juga. Jalan ke utara telah diblokir, pemerintah melarang pelancong Teheran dari potensi menyebarkan virus ke daerah lain yang lebih rentan dan kurang siap. Itulah yang terjadi di Rasht, di mana tidak ada tempat tidur di rumah sakit setempat dan banyak pasien masih membutuhkan perawatan.

Ada keyakinan mendasar di Iran bahwa jika kita ingin aman dari virus corona, kita juga harus melindungi orang-orang di sekitar. Bagaimana kita bisa aman jika tetangga kita sendiri terinfeksi?

Memang ada beberapa perilaku buruk di sini. Dalam minggu pertama, sebagian besar pasokan masker menghilang di Teheran dan dijual dengan harga jauh lebih tinggi. Lemon, jahe, dan bawang putih sangat sulit ditemukan di pasar tradisional–pedagang lain membeli pasokan dan menjualnya dua hingga tiga kali lipat dari harga biasa karena tahu permintaan konsumen tinggi. Harga alkohol juga masih sangat mahal.

Tingkat infeksi virus corona di Iran berada di titik yang sangat tinggi, dengan tingkat kematian yang tinggi, tidak memadainya sistem medis untuk menangani korban, dampak sanksi (AS) terhadap pasokan medis, pemerintah yang salah urus, dan banyak masalah lainnya.

Namun, ada juga banyak hal indah yang sedikit dilaporkan di media. Saya menulis artikel ini untuk membagikan beberapa hal indah itu:

  • Para relawan disinfektan mesin ATM: Orang-orang difoto secara sukarela mendisinfeksi mesin ATM dan menyediakan alat buatan sendiri untuk membatasi penyebaran virus.
  • Orang-orang membuang sarung tangan plastik yang sudah tidak digunakan lagi di tempat sampah umum untuk diambil para pengepul sampah dan daur ulang.
  • Alumni Universitas Teheran dari Tiongkok dan mahasiswa Iran yang mempelajari bahasa Tiongkok secara sukarela bekerja keras menerjemahkan informasi tentang virus dan pencegahannya dari bahasa Tiongkok ke bahasa Farsi.
  • Orang-orang dari Kakhk, Razavi Khorasan, sebuah kota pertanian kecil di dekat perbatasan Afghanistan, membagikan sarung tangan, masker buatan sendiri, dan alkohol ke setiap rumah.
  • Pemilik tanah membebaskan sewa selama dua bulan toko untuk penyewa mereka.
  • Spesialis mikrobiologi bekerja pada tes corona secara sukarela.
  • Sekelompok orang yang mengumpulkan sukarelawan untuk membuat masker dan perlengkapan pelindung tubuh untuk petugas kesehatan.
  • Kampanye untuk membantu orang-orang yang mengalami kerugian karena bencana ekonomi.
  • Pemerintah memberikan kuota internet rumah sebesar 100 GB selama dua minggu agar orang-orang mau tinggal dan bekerja di rumah dan tidak tergoda pergi keluar.
  • Staf medis bernyanyi di rumah sakit untuk menyemangati semua orang.
  • Perpustakaan Anak Nasional Iran menyediakan 23.000 buku anak untuk dibaca online secara gratis untuk anggota perpustakaan, selagi perpustakaan ini ditutup.
  • Perpanjangan validitas lisensi pemerintah untuk urusan seperti pengoperasian sumur.
  • Toko roti Gorgan membagikan permen kepada dokter dan perawat di rumah sakit terdekat—sebuah cara untuk mengatakan, “Terima kasih, para pahlawan.”
  • Pesan online berisi dorongan kepada orang-orang untuk memberi makan hewan-hewan yang berkeliaran di taman kota.
  • Dan begitu banyak orang merawat tetangga dan rekan kerja mereka, berburu disinfektan atau obat untuk dibagikan gratis.

Pada akhirnya, kita menghadapi situasi ini bersama. Saya harap kita semua dapat belajar dari warga Iran yang sangat menderita dan kekurangan sumber daya medis. Namun mereka masih berbagi apa yang mereka miliki dan merawat orang-orang di sekitar mereka.

Virus corona tidak membedakan antara kaya atau miskin, ras, keyakinan, atau geografi. Kita semua saling mengandalkan satu sama lain dalam sistem modern yang kita bangun ini. Dengan saling menjaga satu sama lain, kita mungkin bisa mengatasi badai ini dengan lebih baik. Dan seperti yang saya lihat, bekerjasama adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk bertahan hidup.

*Green adalah perempuan AS yang tinggal Iran sejak 2018. Ia sering berbagi cerita via project “From the Midwest to the Middle East” (FB/IG). Sumber artikel : medium.com

DISKUSI: