Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Tabayun

10 Faktor Kemenangan Suriah Atas Terorisme di Tahun 2017

Published 29/12/2016 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

kemenangan-suriahLiputanIslam.com–Kemenangan besar yang dicapai oleh Pasukan Arab Suriah (SAA) berupa pembebasan bagian timur kota Aleppo dalam jangka waktu operasi militer yang relatif singkat mengundang pertanyaan dan spekulasi mengenai prospek perang anti terorisme di negara ini.

Tentang ini, surat kabar al-Akhbar menyatakan ada 10 faktor utama yang menjadi sinyalemen bahwa pada tahun 2017 Suriah akan menang dalam perangnya melawan terorisme.  Menurut surat kabar berbahasa Arab terbitan Lebanon ini, di lapangan terdapat data dan fakta yang menjadi serangkaian faktor penting yang bagi cepatnya proses operasi pembebasan berbagai kawasan yang masih dikuasai oleh kawanan teroris untuk selanjutnya pada tahun 2017 diumumkan kemenangan penuh Suriah dan sekutunya atas pasukan teroris dan negara-negara yang mensponsori terorisme.

Beberapa faktor itu ialah sebagai berikut;

  1. Jatuhnya mental teroris

Kekalahan kelompok-kelompok pemberontak dan teroris di Aleppo telah menyebabkan terjadinya erosi besar pada mentalitas mereka. Mereka bahkan juga terbelah dan bertikai satu sama lain saling menyalahkan dan lain sebagainya, sebagaimana terlihat dalam penggunaan cara kekerasan dan konflik antara Jabhat al-Nusra dan Ahrar al-Sham menyusul kesepakatan penarikan kawanan bersenjata dari beberapa kawasan Aleppo timur yang diimbali dengan evakuasi orang-orang yang terluka, sakit dan lansia dari kalangan pendukung pemerintah di dua distrik al-Fu’ah dan Kafriya yang dikepung oleh kawanan bersenjata.

  1. Melemahnya kemampuan kawanan bersenjata

Tekad kawanan bersenjata melemah seiring dengan melemahnya kemampuan mereka untuk melanjutkan perang, karena obsesi mereka untuk mencapai target-target di lapangan telah menguap sia-sia. Mereka sudah tidak memiliki kemampuan untuk bertahan di depan serangan SAA dan sekutunya sehingga kehilangan harapan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka upayakan sejak awal perang.

Parahnya, negara-negara pendukung merekapun juga sudah tak punya gereget lagi dalam melanjutkan dukungan. Apalagi, kegagalan negara-negara itu dalam menjadikan terorisme sebagai senjata untuk melicinkan ambisi mereka menimbulkan konsekuensi-konsekuensi buruk yang mulai muncul dalam bentuk aksi-aksi teror di beberapa kota di negara-negara barat dan Turki, dan terjadi pula kepanikan terkait kepulangan para teroris yang kabur dari medan perang di Suriah ke negara-negara tersebut.

  1. Menguatnya Mentalitas SAA Dan Sekutunya

Runtuhnya mentalitas kawanan pemberontak dan teroris praktis berbarengan dengan menguatnya mentalitas lawan mereka, SAA dan sekutunya. Hal ini tentu sangat berpengaruh pada efektivitas operasi militer SAA selanjutnya untuk membebaskan sisa-sisa kawasan yang masih dikuasai kawanan bersenjata.

  1. Kecilnya Kawasan Yang Masih Dikuasai Kawanan Bersenjata

Kawasan yang masih dikuasai kawanan bersenjata sudah jauh menyempit. Selain itu, kondisi medan tempur di kawasan itu juga tak sesulit kondisi di kawasan-kawasan lain yang sudah berhasil dibebaskan pada tahap operasi militer sebelumnya yang dilancarkan sejak tentara Rusia mulai eksis di Suriah pada Juli 2015.

  1. Mengecilnya Jumlah Militan

Militan atau kawanan bersenjata yang masih tersisa jumlahnya sudah mengecil. Selain itu, keahlian dan kemampuan tempur mereka juga sudah berkurang untuk melawan SAA dan sekutunya. Semua ini karena mereka banyak menderita kerugian jiwa dan materi dalam peperangan sebelumnya, terutama di Aleppo dan sekitarnya. Banyak tokoh dan petempur tangguh mereka sudah menemui ajal sehingga militan yang tersisa kehilangan banyak ototnya untuk dapat berlaga lagi.

  1. Ketidak Mampuan Militan Menebus Kerugian

Kawanan bersenjata tidak mampu memulihkan kekuatannya dan menebus banyak kerugian yang telah dideritanya, baik dari segi persenjataan dan amunisi maupun dari segi personil akibat terkuncinya garis perbatasan Suriah dengan Yordania dan Lebanon serta sebagian besar perbatasan Suriah dengan Turki.

Bukan rahasia lagi bahwa kemampuan militer mereka sebelumnya untuk melanjutkan pertempuran, melancarkan serangan bertubi, dan merebut kembali kawasan-kawasan yang lepas dari mereka sangat erat kaitannya dengan cepatnya mereka dalam memulihkan kerugian jiwa dan materi berkat terbukanya perbatasan-perbatasan tersebut.

  1. Perubahan Perimbangan Kekuatan

Perimbangan kekuatan sudah bergeser jauh ke posisi yang menguntungkan pihak SAA dan sekutunya, sementara negara-negara pendukung kawanan bersenjata juga tak sanggup membendung perubahan ini akibat eksistensi militer Rusia yang mengimbangi kekuatan Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

  1. Kekalahan Militan di Aleppo

Kekalahan kawanan bersenjata oposisi yang berbaur dengan kelompok-kelompok teroris di Aleppo, tidak adanya cakrawala cerah bagi mereka untuk merealisasikan ambisinya, terjungkir baliknya perimbangan kekuatan hingga ke posisi yang menguntungkan SAA dan sekutunya praktis akan terefleksi pada penguatan prakarsa damai. Dan ini pula yang tercermin dalam  keterdorongan kawanan bersenjata di banyak kawasan Provinsi Damaskus untuk memilih opsi damai, kembali ke pengakuan negara, atau menyingkir ke Idlib yang masih dikuasai kawanan bersenjata.

  1. Tidak Adanya Lingkungan Yang Kondusif Bagi Militan

Kawanan bersenjata tidak memiliki basis kerakyatan yang cukup atau lingkungan yang nyaman bagi mereka, baik karena perilaku mereka yang tak mencerminkan norma-norma keagamaan yang mereka dengungkan, maupun karena perubahan sikap publik yang akhirnya menekan mereka supaya berhenti berperang serta memilih berkompromi dengan pemerintah karena pemberontakan tak jelas prospeknya.

  1. Barat Kehilangan Alasan Untuk Terus Mendukung Militan

Negara-negara Barat tidak memiliki alasan lagi untuk melanjutkan dukungannya kepada kelompok-kelompok militan yang tersisa dan yang akan dikejar oleh SAA dan sekutunya. Sebab, kelompok-kelompok militan itu sebagian besar adalah ISIS, Jabhat al-Nusra yang berganti kulit menjadi Fath al-Sham, dan Ahrar al-Sham yang notabene saudara kembar Jabhat al-Nusra yang semuanya dipandang oleh Dewan Keamanan PBB sebagai organisasi teroris. (mm)

Sumber: al-Akhbar

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Tabayun

PBB: Terjadi Eksekusi-Eksekusi Cepat Bermotif Sektarian di Suriah

By Muhammad
Tabayun

Gencatan Senjata Diusulkan untuk  Gaza, Begini Beberapa Rinciannya

By Muhammad
Galeri

Falasi Zionis (6): Ada Teroris Membela Palestina

By Farid
Galeri

Falasi Zionis (5): Melawan Israel Itu Irasional

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account