Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Terorisme dan Sakitnya Masyarakat

Published 10/05/2018 7 Min Read
Share
7 Min Read
SHARE

Kasus aksi terorisme yang tejadi di Mako Brimob pada 9-10 Mei telah memunculkan sangat banyak respon, terutama di media sosial. Baik kalangan awam maupun petinggi ormas dan parpol telah mengungkapkan berbagai pendapat.

Sebagian orang berpendapat bahwa aksi teror yang menewaskan lima polisi dalam keadaan luka parah itu adalah drama. Sebagian lainnya mengolok-olok tanpa ada empati sambil menyusun teori-teori konspirasi tanpa data, karena kejadiannya sangat baru, belum dilakukan penyelidikan dan kabar pun masih simpang siur.

Mereka melupakan satu fakta: ada korban. Ada polisi yang sudah gugur, akibat digorok, dibacok, dan ditembak. Jasadnya bisa dilacak ke keluarga mereka, ke acara pemakaman mereka, televisi melaporkan secara live.  Ada polisi yang masih hidup dalam keadaan babak belur, ada polwan yang giginya dicabuti satu persatu.

Mereka yang intens mengamati konflik Suriah, tidak merasa “aneh” melihat perilaku biadab itu, memang begitulah perilaku para teroris (tapi mengaku “mujahidin”)  di sana.

Sebagian yang lain, justru menyatakan dukungan kepada aksi teror itu. Beberapa akun menyebut para teroris sebagai “ikhwan” dan polisi sebagai “setan”. Mereka bersuka ria atas tewasnya sejumlah polisi yang mereka siksa dan bantai. Padahal para polisi itu, sesama warga Indonesia (dan mayoritasnya pun Muslim).

Kedua pihak ini, baik yang sinis atau mengolok-olok, maupun yang menyatakan dukungan pada teroris, sebenarnya ada di kubu yang sama, yaitu kelompok intoleran (atau istilah lainnya: radikal, ekstrim). Mereka sama-sama tidak punya simpati pada nyawa, karena yang tewas bukan bagian dari mereka, orang lain, kubu lain. Orang lain itu persetan buat mereka.

Intoleransi adalah poin penting yang banyak diabaikan orang. Menangani terorisme harus dimulai dari hulunya: sikap intoleran. Namun, bahkan institusi pemerintah pun (termasuk kepolisian) abai. Mereka mengundang ustadz-ustadz yang jelas-jelas intoleran ke majelis-majelis taklim atau Jumatan. Bahkan saya mendapati ada polisi yang foto senyum-senyum dengan aktivis HTI yang sedang menebarkan bendera hitam.

Kesadaran utuh tentang apa yang sedang terjadi, sepertinya minim sekali dipahami orang. Betapa mudahnya sebagian pihak menyebut aksi politik yang dibungkus Islam sebagai “kekuatan cinta” (dan membuat film dengan pakai kata ‘love’). Alasannya?  Konon karena dalam aksi itu, orang-orang berkorban ini-itu (termasuk bagi-bagi makanan) demi Islam, ada pengantin nonmuslim dibantu supaya sampai ke gereja, bla..bla..

 

Mereka melupakan bahwa dalam aksi itu kata-kata penggal, bunuh, bakar diucapkan terang-terangan (ada videonya, bukan hoax). Mereka menutup telinga dan mata rapat-rapat saat diberi tahu konstelasi politiknya. asal muasal aksi, dan siapa penggerak utamanya.

Mereka ini melupakan PETA BESAR-nya. Bayangkan ada kertas putih, ada gambar lingkaran besar; dan di dalamnya, ada lingkaran kecil. Nah, mereka ini berada di lingkaran kecil, merasa sedang bela Islam, tanpa sadar, mereka ada di dalam lingkaran yang lebih besar lagi: perseteruan politik nasional, politik global Wahabisme-AS-Israel, perseteruan ekonomi-politik global AS-China, dan lain-lain.

Masifnya propaganda intoleran telah menuai ‘hasil antara’ (bukan hasil akhir)-nya: survei UIN Jakarta (2017) menemukan bahwa 51,1% persen pelajar Muslim Islam memiliki opini intoleran. Inilah api dalam sekam. Bila mereka terus dipupuk dengan info-info hoax lewat medsos, mereka akan semakin teradikalisasi dan mencari pembenaran untuk membunuh.

Inilah yang terjadi di Suriah, pemuda-pemuda dari berbagai negara beramai-ramai ke Suriah, mengira sedang berjihad, karena diprovokasi oleh info hoax. Mereka ingin mendirikan khilafah di Suriah. Caranya? Gulingkan rezim “thoghut” dan bantai semua orang yang tidak mau berbaiat pada mereka.

Di Indonesia, kelompok-kelompok yang sama (yang angkat senjata di Suriah), melakukan strategi yang sama: menebar kebencian kepada pemerintah (mereka sebut “thaghut” ) dengan kabar hoax berbasis kebencian, diiringi dengan ilusi membentuk khilafah. Inilah potret (sebagian) masyarakat yang sakit, yang harus segera diobati dan dicegah penularannya.

Menurut saya, yang harus kita lakukan dalam melawan terorisme, minimalnya ada 5:

  1. Semua pihak yang mencintai NKRI perlu terus melawan terus sikap-sikap intoleran, karena inilah akar dari terorisme. Mulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.
  2. Pemerintah harus tegas terhadap penyebaran informasi tentang Timteng. Deradikalisasi tidak bisa terbatas pada pelurusan doktrin agama saja, tapi perlu PELURUSAN INFORMASI. Media-media dan ustadz-ustadz yang menebar hoax tentang perang Suriah sangat berperan dalam meradikalisasi warga Indonesia.
  3. Pihak aparat kepolisian perlu introspeksi diri. Bagaimana upaya melawan radikalisme bisa berhasil bila sikap aparat masih ambigu? Penceramah-penceramah intoleran dibiarkan menguasai ruang publik, pengaduan tidak ditindak lanjuti. Demo-demo yang mengibarkan bendera dan mencaci pemerintah dijaga polisi; tapi acara-acara yang membuka kesadaran publik dibiarkan diintimidasi tanpa ada perlindungan polisi (saya pernah mengalami hal ini). Dan banyak ambiguitas lainnya.
  4. RUU Terorisme harus segera disahkan agar penanganan terorisme bisa lebih efektif. Dengan UU saat ini, polisi tidak bisa bertindak sebelum para teroris melakukan aksi; alasannya HAM. Ini sungguh logika HAM yang aneh. Apakah masyarakat sipil yang menolak khilafah tidak punya HAM yang harus dilindungi negara? Jadi, harus ada yang mati dulu baru polisi boleh bertindak? Apakah yang mati itu tidak punya HAM?

Masyarakat sipil bisa melawan partai-partai yang menghalangi proses pembahasan RUU Terorisme ini,                caranya: jangan pilih mereka dalam pemilu.

  1. Ormas-ormas intoleran harus dibubarkan. Anehnya, muncul pembelaan dari kelompok-kelompok prodemokrasi dan HAM. Kata mereka, pembubaran ormas adalah fasisme negara!

Pertanyaannya: apakah demokrasi bisa tegak bila dibiarkan dibunuh oleh ormas-ormas yang antidemokrasi? Demokrasi justru harus dijaga dengan membatasi gerak kelompok/golongan yang jelas antidemokrasi.

Inilah logika dasar manusia waras: kebebasan harus dijaga dengan cara melawan orang-orang yang antikebebasan. Kebebasan tanpa ada aturan justru melahirkan fasisme atas nama kebebasan.

Terakhir, perdebatan di medsos seputar terorisme ini sebenarnya menjadi filter, siapa saja para pendukung radikalisme (baik yang terang-terangan, maupun yang sembunyi di balik kalimat sinis atau sok kritis). Bila yang bicara adalah politisi/ustadz, jangan pilih lagi dalam pemilu; jangan undang lagi ceramah di masjid-masjid kita. Inilah cara kita melawan dengan cara demokratis.

 

Sumber: Fanpage Dina Sulaeman https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/photos/a.234143183678611.1073741828.233756860383910/433562780403316/

 

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account