Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Solo dan Jepang, Sama !

Published 31/07/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE
Contoh antrian di Jepang
Contoh antrian di Jepang

Oleh: Putu Heri

Jatuhnya korban jiwa di kediaman wakil presiden terpilih, Jusuf Kalla, saat digelar acara Open House, tak ubahnya menggarami luka. Sudah seringkali, berkali-kali,  di negeri yang katanya gemah ripah lohjinawi ini, nyawa melayang demi beberapa rupiah, atau demi sekerat daging.

Sakit sekali rasanya, saat saya menyaksikan para polisi, menggunakan pentungnya untuk menghalau warga. Besi hitam itu mendarat di atas kepala-kepala penduduk yang berdesakan berharap mendapat sedekah. Kasihan sekali.

Hal serupa pernah terjadi setahun silam. Seorang warga tewas manakala menanti pembagian daging kurban di Masjid Istiqlal. Beberapa orang lainnya, menurut laporan Kompas, 16 Oktober 2014, mengalami luka-luka.

Kericuhan ini terjadi karena antrean yang tidak teratur. Warga yang sudah menunggu lama di luar, baru diperbolehkan masuk ke masjid sekitar pukul lima pagi. Tak sabar, mereka lantas menyerbu dari satu pintu, saling berdesakan , dan saling menginjak-dan terinjak. Sadis.

Tentunya, masih banyak lagi kasus-kasus serupa yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Acara yang harusnya berlangsung penuh kekeluargaan, malah menelan korban jiwa.

Sekarang kita beralih ke Open House yang diselenggarakan oleh presiden terpilih, Joko Widodo. Kebetulan, saat acara itu berlangsung, ditayangkan di berbagai televisi swasta dan saya sempat mengikutinya.  Dalam hati, saya merasa, kok Open House ini seperti acara pernikahan ya?

Jokowi, dan istrinya, juga ibu dan anaknya berada di atas panggung. Dan masyarakat satu persatu, tua –muda, besar kecil, laki- perempuan, naik ke atas panggung dengan tertib untuk bersalaman dengan Jokowi dan keluarganya. Mereka semua terlihat senang, dan di penghujung panggung, telah disediakan buku tulis dan amplop – sebagai cinderamata.

Warga yang hadir, juga dibagi berdasarkan waktu kedatangannya. Yang hadir terlebih dahulu, dipersilahkan masuk ke gedung. Namun, mereka terlebih dahulu “dilucuti” petugas yang berjaga-jaga di depan. Tidak boleh membawa tas, dan benda lainnya, kecuali handphone. Ketika bersalaman dengan Jokowi, warga ini  dilarang berfoto, karena, sesi foto ini akan menyita waktu,  sementara warga yang antre jumlahnya juga membludak.

Dan  warga yang hadir belakangan, tidak diperkenankan masuk, dan harus menunggu di luar. Mereka pun disediakan tempat duduk, dan menunggu dengan tenang. Sehingga, kendati ada sekitar 8.000 orang yang berdatangan ke acara Open House Jokowi, tidak ada kericuhan, berdesak-desakan, dan tentunya, tidak ada jiwa yang melayang sia-sia.

Mari Koreksi Diri

Siapa yang harus disalahkan? Warga miskin yang berharap kebagian rejeki? Penyelenggara acara ? Atau pihak keamanan? Tidak ada yang perlu disalahan, namun pastinya, kita semua harus berbenah.

Pihak penyelenggara Open House, bagi-bagi kurban atau sedekah, ataupun acara serupa lainnya, sebaiknya memperhitungkan dengan detail berbagai kemungkinan yang timbul jika menggelar acara tersebut. Misalnya, luas tempat. Berkaca dari pengalaman tahun ke tahun, acara seperti ini selalu dibanjiri oleh ribuan orang. Dan tentunya, memerlukan tempat yang cukup besar.

Namun sesungguhnya, ada cara yang jauh lebih efisien. Coba datangi tiap-tiap kelurahan dan minta data warga yang kurang mampu. Lalu, penyelenggara mendatangi mereka langsung ke rumahnya. Sepertinya ini bukanlah hal yang sulit. Jaman dulu, Sayyidina Umar juga pernah menggunakan punggungnya untuk memikul gandum ke pintu rumah rakyatnya.

Sedangkan untuk warga yang mengharap sedekah pada khususnya, dan untuk kita pada umumnya, sepertinya kita harus mulai belajar menjadi pengantri yang baik. Di Jepang, bahkan untuk membeli roti atau air minum, mereka bisa mengantri dengan tertib yang panjangnya puluhan meter. Tidak ada kericuhan sama sekali. Mengantri, mengajarkan kita untuk bersabar.

Jika di Jepang dan Solo, ribuan warga bisa mengantri dengan tertib, mengapa kita tidak bisa?  Ini bukan tentang tentang dimana  tempatnya, atau tentang siapa pemimpinnya, tapi tentang bagaimana kita menempa diri dalam kehidupan bermasyarakat.

———–
Redaksi menerima sumbangan untuk rubrik Opini, silahkan kirimkan ke [email protected]

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account