Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

PKI

Published 01/10/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE
eksekusi terhadap orang yang dituduh PKI (sumber foto:http://toelank.wordpress.com)
eksekusi terhadap orang yang dituduh PKI (sumber foto:http://toelank.wordpress.com)

Oleh: Hendi Jo

“Kekejaman bukan hanya milik komunis semata, tapi juga milik kita semua…”

 Akhir dari sebuah pemberontakan adalah pembantaian.Kira-kira seperti itulah maksud kalimat yang dikatakan oleh Banu (sebut saja namanya begitu), seorang lelaki paruh baya yang pernah saya temui di Kemantren Plangkat, Jawa Timur sekitar 18 tahun yang lalu. Di kampung yang terletak dalam kawasan lereng Gunung Wilis tersebut, ia bukan hanya sekadar jagoan tapi juga dikenal sebagai algojo legendaris yang hanya dengan sebilah parang panjang mengeksekusi puluhan orang yang dituduh komunis pada 1965. “Saya merasa itu sudah menjadi tugas negara dan agama,”katanya saat saya tanya apakah dia merasa berdosa dengan semua yangpernah ia lakukan tersebut.

Banu tidak sendiri. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Bali, NTT dan sebagian kecil  Sulawesi, ratusan ribu orang seperti Banu (dengan sukarela atau terpaksa) tiba-tiba harus menjadi para  malaikat maut yang tanpa ampun mencerabut 500.000 nyawa (versi moderat) dari badan manusia-manusia lainnya. Apakah ini sebuah bencana? Bagi para pembantai mungkin tidak. Dalamfilm The Art of Killing, Anwar Congo (salah seorang dari malaikat maut itu) malah menyebut aksi-aksi berdarah itu sebagai sejenis kegiatan rekreasi: ia bisa menjerat leher orang-orang komunis itu sambil menari cha-cha.

Sebagian orang berpikir, orang-orang PKI memang layak dibantai. Selain dianggap menafikan eksistensi ketuhanan, mereka seperti binatang  buas yang selalu siap mengancam jika ada kesempatan. Itulah (kata mereka) sebabnya orang-orang Islam menjadi pembunuh. Mereka saat itu hanya melakukan antisipasi “Jika tidak dibantai,mereka yang akan membantai kita duluan,”ujar seorang teman yang aktiv di sebuah organisasi massa Islam.

Benar. Saya tidak menafikan “dosa-dosa” PKI sebelum 1965. Saat mereka berjaya sebagai partai komunis ketiga terbesar di dunia (setelah Uni Sopyet dan Tiongkok) mereka bukannya tidak pernah melakukan hal-hal yang buruk dan menyebalkan. Di Bandar Betsi mereka menghabisi tentara, di beberapa wilayah di Jawa Timur  mereka pun terlibat dalam pembunuhan serta penculikan ulama dan santri NU. Begitu pula di beberapa wilayah kasus-kasus penyerobotan tanah, penistaan para ulama dan pembakaran Al Qur’an kerap mereka jalankan.Tapi untuk menghukum prilaku barbar itu, haruskah orang-orang non PKI menjadi seperti PKI juga saat berkuasa? Lalu di mana perbedaan antara Non PKI dengan PKI?

Kita memang terkesan ingin melestarikan kebencian dan dendam sampai mati. Bukan hanya kepada diri kita, tapi juga kepada anak-anak dan cucu kita. Ketika beberapa ulama NU menolak minta maaf kepada keluarga korban atas peristiwa sadis nan memalukan tersebut, itu seperti menegaskan bahwa kekerasan disahkan dalam agama. Padahal sepatah kata maaf, tidak akan membuat kita menjadi pihak yang kalah. Bahkan alih-alih demikian, justru sejarah akan mencatat bahwa kita adalah umat yang berjiwa besar.

Rekonsiliasi harus dimulai dengan niat bagus. Pengakuan dan permohonan maaf menjadi titik tolak ke arah perbaikan situasi untuk menghapus karat-karat dendam. Tentu saja itu tidak harus dilakukan hanya oleh pihak pelaku semata, tapi juga oleh para keluarga korban. Pihak terakhir pun harusmengerti bahwa tragedi kelam 49 tahun tersebut tidaklah berdiri sendiri.Karena pembantaian tidak akan terjadi jika tidak ada pemicu awal. Ya, “dosa” itu adalah milik semua bukan hanya milik para pelaku pembantaian.

PKI sendiri saat ini hanya simbol yang sudah memfosil. Komunisme sendiri sudah lama meninggal dan mungkin hanya menarik  bagi sebagian kecil manusia saja. Hari ini, kekejaman yang sama, arogansi kekuasaan dan ketidaktoleransian bukan hanya milik orang-orang yang (katanya) anti agama. Orang-orang beragama pun, sebagian menyukai kekerasan. Bedanya: jika orang-orang komunis mengatasnamakan rakyat tertindas, maka orang-orang beragama melakukannya atas nama Tuhan. Ya bisa jadi “PKI” itu adalah diri kita.

*peneliti sejarah, mengelola website arsipindonesia.com

 

—–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan kirim ke [email protected]

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account