Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Orang-Orang Dewasa Bodoh yang Berbahaya

Published 11/07/2017 8 Min Read
Share
8 Min Read
SHARE

Oleh: Kalis Mardiasih*

Ketika Trevor, seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun memulai kelas 7-nya di Las Vegas, Nevada, Eugene Simonet sang guru ilmu sosial menugaskan para siswa di kelas untuk memikirkan gagasan dan membuat rencana aksi yang akan dapat mengubah dunia ke arah yang lebih baik. Terkesan muluk, tapi pandangan si guru amat yakin.

“Think of an idea to change the world for the better, then put it into action.” Ia menulis kalimat itu di papan kelas sambil berujar mantap dan menatapi mata para siswa satu per satu. “Apa yang kalian pikirkan?” ia bertanya.

Kebanyakan siswa menjawab bahwa instruksi itu aneh, sulit, berat.

“Possibility. Mengapa kalian tidak menanamkan dalam pikiran kalian kalau semua serba mungkin?” Begitulah Simonet meyakinkan murid-muridnya lagi. Ia berjanji akan memberi nilai lebih bagi tiap siswa yang mampu menawarkan sebuah cara untuk mengubah dunia ke arah lebih baik.

Dan, Trevor adalah satu-satunya anak yang begitu yakin akan dorongan itu. Trevor merencanakan sebuah program pengembangan jejaring perbuatan baik. Begini cara mainnya: seseorang membantu tiga orang dalam kebaikan. Lalu, masing-masing orang yang telah ditolong harus melakukan kebaikan kepada tiga orang berbeda lain sesudahnya.

“When someone does you a big favor, don’t pay it back, pay it forward” adalah pesan moral novel Pay It Foward karya Catherine Ryan Hyde yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama pada tahun 2000. Banyak kisah menarik tentang guru yang bisa kita kenang. Totto Chan, Botchan, Dead Poets Society hingga Freedom Writers, bahkan Laskar Pelangi.

Para pengajar dalam cerita itu adalah orang-orang dewasa yang tanpa sadar membagi beban mimpi masa depan untuk mempercayakan mimpi tersebut dipangguli anak-anak. Alangkah indah membayangkan orang-orang dewasa, baik mereka yang bergelar orangtua di rumah, guru di sekolah, pemimpin di kantor, pemuka agama di rumah ibadah maupun pejabat publik, berusaha sebaik mungkin memberi bekal kepada generasinya.

Akan tetapi, hari-hari ini kita justru mendapati pemandangan menyedihkan perilaku orang dewasa dalam berbagai thread yang viral di Facebook, Twitter hingga Instagram yang beramai-ramai merundung orang lain yang berbuat kesalahan dengan berlebihan. Kadang-kadang, mereka saling bertengkar, saling menjatuhkan, kemudian dipungkasi dengan ejek-mengejek.

Satu kasus terakhir menimpa seorang remaja asal Banyuwangi. Orang-orang dewasa bahagia menemukan seorang anak berbuat kesalahan, lalu merundung sepuas yang mereka bisa. Bolehkah kita sebut orang-orang dewasa kita memiliki masalah serius?

Impian akan tatanan hidup yang lebih baik perlu mimpi berusia panjang. Sukarno menulis berjilid-jilid Di Bawah Bendera Revolusi, Hatta menulis Tafsir Ekonomi dan Ki Hajar Dewantara menulis Menuju Manusia Merdeka. Saya tak mampu menanggung kagum pada konsep demokrasi, kebangsaan, kerakyatan, politik, pendidikan dan ekonomi keadilan sosial yang disusun oleh mereka semua.

Lembar-lembar yang mereka goresi mimpi itu adalah lembar hidup para Nabi. Nabi, adalah sebagaimana mereka yang membenci penindasan dan memiliki hasrat semangat pembebasan.

Suatu siang, setelah menyisir Jalan Braga lalu tibalah di Gedung Merdeka sendirian, saya terpukau betul ketika diputarkan video penggambaran jalannya Konferensi Asia Afrika (KAA). Video dokumenter itu diawali dengan sambutan Bapak Roeslan Abdulghani. Bapak Roeslan menyebut KAA sebagai simbol kebangkitan bangsa-bangsa Asia-Afrika ketika dunia terpasung perang, kolonialisme dan politik apartheid.

Seorang laki-laki bertubuh kecil sekali, di depan aula utama Gedung Merdeka menirukan pidato-pidato Sukarno. Sesaat sebelumnya, ia menceritakan tentang Sukarno dan isi konstitusi kita dengan begitu bangga.

“Sukarno berdiri di mimbar gedung ini pada tahun 55 dengan pidatonya yang berapi-api. Hadirin yang kursinya kalian duduki sekarang memberikan tepuk tangan yang riuh sepanjang tujuh menit. Bayangkan! Tujuh menit tepuk tangan tanpa jeda!” Pemandu museum berkemeja biru berujar makin lantang:

“Kita tengok pembukaan UUD 1945 kita itu. Maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan! Negara mana ketika itu yang seberani dan seluhur Indonesia menentang penjajahan di atas dunia dan berhasrat menghapuskannya? Hanya Indonesia!”

Sukarno dan para Nabi lain dalam sejarah kemerdekaan Indonesia adalah manusia yang meletakkan hikmat possibility seperti yang diyakinkan Simonet pada para siswanya. Meski hidup di awal abad ke-19, cita-cita kebaikan mereka pasti telah tertarget hingga abad tak terhingga.

Indonesia kini adalah negara tercerewet versi Twitter, kata Hilmar Farid pada pidato kebudayaan di Universitas Gadjah Mada bertajuk Strategi Kebudayaan Menuju Indonesia Hebat. Cerewet memang sebuah aktivitas banyak bicara yang tanpa konsep. Pertanyaan selanjutnya, mungkinkah kita berharap semua orang bicara dengan konsep?

Idealnya, seseorang sampai kapan pun tak boleh berhenti belajar. Perintah menuntut ilmu bukan hanya diikuti keterangan soal jarak dan ruang, tetapi juga konteks minal mahdi ilal lahdi. Manusia wajib mengilhami ilmu sejak ayunan hingga sampai ke liang lahat.

Permasalahannya, siapakah orang-orang dewasa cerewet yang memiliki efek bahaya hingga tujuh turunan ini? Di mana orang harus belajar selepas usia sekolah dan kuliah? Bagaimana para pekerja, utamanya yang memiliki iklim kerja yang tidak memberikan nutrisi apapun untuk pemikiran mendapat ruang belajar? Lalu, bagaimana para pekerja frustrasi yang tak sudi membaca buku pula ini ketika mendapat tanggung jawab mengadakan pengasuhan di rumah?

Masa sebelum ini, kita masih akrab dengan istilah kerja bakti dan gotong royong. Di kampung-kampung, sistem budaya seperti sambatan (membantu tetangga yang memiliki hajatan tanpa dibayar) dan jimpitan (iuran beras sekepalan tangan yang biasanya diletakkan pada teras rumah dan dikumpulkan untuk kegiatan warga) pernah berkembang. Sistem budaya yang memunculkan keterlibatan interaksi itu, di masa lalu, sekaligus menjadi media pertukaran informasi dan sistem komunikasi yang efektif.

Selain itu, acara kumpul-kumpul warga tanpa disadari adalah bentuk ruang belajar bersama. Hasilnya, misinformasi sangat jarang terjadi, bersama dengan etika budaya yang juga begitu dijaga.

Manusia semakin modern dan teknologi semakin bergerak ke arah yang tidak pernah kita duga-duga. Tetapi, manusia kewalahan mengiringi kecepatan teknologi itu dengan sistem budaya baru untuk mengikutinya.

Celaka sungguh, karena teknologi di genggaman memungkinkan orang mengetik dan mengunggah apa saja. Orang-orang dewasa cerewet itu, selain kesepian dan frustrasi, jelasnya mereka pasti termasuk golongan yang berhenti belajar. Mereka sudah tidak sekolah, tidak sudi membaca buku, dan tidak memiliki ruang ilmu yang sehat.

Ruang ilmu yang sehat itu memiliki sistem sirkulasi argumen yang seimbang. Tiap-tiap orang yang hadir di dalamnya boleh berpendapat dan boleh saling mengisi. Ruang ilmu yang sehat itu, berbeda dengan ruang pengajian yang dikendalikan oleh seorang ustaz gila yang bilang bahwa Presiden kita adalah seorang komunis, atau pesan broadcast tanpa nama soal Borobudur bikinan Nabi Sulaiman. (liputanislam.com)

* Menulis opini dan menerjemah; Aktif sebagai periset dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama, disalin dari Detik. 16 Juni 2017

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account