Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Membangun Bangsa Dengan Cinta [Redefinisi Gerakan Ukhuwah Islamiyah]

Published 10/05/2014 7 Min Read
Share
7 Min Read
SHARE

UIOleh: Abu Yasar, STAI Madinatul Ilmi Depok

Dalam kesadaran normatif kita, ukhuwah Islamiyah mungkin sudah bersifat “given” – seolah – olah sudah jelas bentuknya, wujudnya, dan jelas pula sifat-sifatnya. Implikasi dari kesadaran ini mungkin jelas: pemahaman kita lalu mandek, menjadi sejenis benda padat, stagnan dan final.

Dilihat dari sudut sosiologi, terutama dalam konteks proses sosial yang masih terus berlangsung – dan jelas memperlihatkan bahwa segala sesuatu pada dasarnya masih sibuk “ membentuk” dirinya – pemahaman seperti itu mengakibatkan kebekuan, dan tidak menarik. Sebab dalam hidup, sesuatu yang sudah jadi – termasuk model pemikiran – sering tidak bersedia diajak “tawar-menawar”. Sekali “jadi” tetap “jadi”. Dan karenanya, persepektif lain tidak boleh hadir. Kreativitas dan pemikiran kritis ditolak.

Tentunya kita tidak ingin hidup di bawah tirani kesadaran normatif seperti itu. Maka betapapun sukar jalan keluar harus dibangun agar kebebasan dalam pemikiran maupun pemahaman atas perkara hidup, termasuk pemahaman agama – bisa kita nikmati. Kita tidak ingin agama yang ramah, yang turun ke bumi untuk mengatur dan menata kesejahteraaan ,manusia itu kita pahami secara kontrapoduktif, menjadi sesuatu yang malah menakutkan.

Apa yang mesti dilakukan? Mungkin kita perlu membebaskan diri kita dari dominasi pemikiran keagamaan yang dogmatik meskipun itu datang dari para ahli yang diagungkan namanya. Kita diminta menolak dogmatisme karena ia cenderung serba normatif dan hitam-putih jalan penalarannya. Tapi bukankah agama memang normatif, dan hitam-putih pula tawarannya?

Agama memang normatif sejak dari sumbernya. Dan “warnanya” pun serba hitam-putihtapi sikap kita, cara pendekatan kita, cara penerjemahan dan interpretasi kita – khusunya dari sudut ilmu sosial – harus penuh nuansa. Bahkan harus dibangun  paradigma yang membebaskan. Sebuah paradigma bisa dianggap menawarkan semangat pembebasan jika ia mampu mratakan jalan dan membuka kemungkinan bagi transformasi sosial dalam lingkup kehidupan disekitar kita. Paling tidak perubahan pada tingkat kesadaran kita, mesti lebih dulu diwujudkan.

Agama boleh saja menawarkan jalan kebenaran, tapi kita tak boleh merasa paling benar. Agama boleh menawarkan jalan kemenangan, tapi kita tidak boleh cenderung ingin menang sendiri. Allah, yang memiliki agama itu, boleh bersikap serba – mutlak, tapi bukankah kita sendiri cuma makhluk serba lemah, kekurangan, dan tidak mutlak?

Dengan tingkat kesadaran seperti ini bukan cuma sikap toleran yang kita bangun, melainkan juga keterbukaan untuk menerima corak kebenaran lain. Dan kita dengan begitu hidup dalam pencerahan terus-menerus. Kita tidak beku. Kita tidak gelap. Dari mana kemunduran cara pandangan dan kemapanan wawasan macam itu lahir? Boleh jadi dari kita sendiri, karena kita cenderung memahami sesuatu secara fanatik. Tetapi bisa juga hal itu lahir dari proses belajar dalam suatu sistem pendidikan yang lebih mengutamakan hafalan, dan mengabaikan proses penalaran bebas untuk menemukan aneka macam alternatif lain selain yang diberikan oleh pendidik.

Keterbatasan cara pandang atas persoalan hidup, dan pemahaman yang normatif itu pada dasarnya merupakan hasil suatu konstruksi sosial – ingat konsep Peter L. Berger – yang berlangsung dalam waktu panjang, termasuk – tentu saja – ukhuwah Islamiyah itu sendiri.

Ukhuwah Islamiyah adalah sebuah kata sifat, dan kita temukan terjemahan bakunya menjadi “persaudaraan dalam Islam”. Mungkin akan lebih produktif jika kata sifat itu dimodifikasi menjadi kata kerja. Dengan begitu ia bukan “persaudaraan dalam Islam” melainkan “semangat persaudaraan dalam Islam”. Namun dalam kenyataan sehari-hari ukhuwah Islamiyah bisa berubah-ubah tergantung di tangan siapa ia dioperasikan.

Di mata seorang tukang khotbah yang mungkin bisa disebut “true believer” ukhuwah Islamiyah bisa bermakna persaudaraan sebagaimana mestinya. Tapi bisa juga menjadi sesuatu yang menakut – nakutipihak lain yang dianggap tidak sejalan dengan cara pandangnya. Dalam tindakan, ukhuwah Islamiyah bisa mereka wujudkan sebagai wahana permusuhan dan menyulut perpecahan. Semangat membela kelompok secara berlebihan bisa saja lantas diberi label “Demi ukhuwah Islamiyah kita hancurkan musuh kita”, atau “Bubarkan kelompok A, mereka sesat, kafir” dll.

Di mata seorang politisi yang “polutif” sikap politiknya, ukhuwah Islamiyah bisa juga dimainkan sesuai kondisi angin. Kalau angin lagi teduh, ia diberi makna sebagaimana seharusnya. Tapi bila cuaca – terutama dalam dirinya sendiri – sedang memanas karena dorongan kepentingan tertentu, ia bisa dengan mudah dikorup menjadi alat membunuh sesama manusia. Gejala seperti ini hidup disekitar kita sekarang.

Sebaliknya di mata seorang pemikir keagamaan yang pluralis, perkaranya bisa lain lagi. Seluruh elemen ajaran keagamaan yang normatif sifatnya, oleh seorang pluralis dipahami dengan pendekatan kreatif. Bagi kaum modernis , pemahaman dasar bahwa Islam itu universal tidak pernah dilupakan. Maka semangat membangun persaudaraan, keterbukaan dalam pergaulan hidup, dan melakukan aneka macam corak kerjasama, dibangun seluas-luasnya buat kalangan Islam maupun non Islam. Universalitas Islam merka wujudkan dalam hidup dengan cara-cara seperti itu.

Sekarang mungkin tiba saatnya menegaskan kembali bahwa ukhuwah Islamiyah perlu mulai kita bahas dalam kaitan dengan pluralitas umat. keduanya pada dasarnya utuh, kalau boleh dibilang, saling menunjang. Sebab, bila yang satu dipisahkan dari yang lain, maka kajian ini tidak akan cukup menarik. Konsep Ukhuwah Islamiyah boleh menjadi prinsip universal, tapi barang yang universal itu kita perlu pahami dalam konteks propinsial keindonesiaan kita.

Ada cara pemahaman lain yang mungkin kita dapat gunakan dalam menganalisa gerakan ini. Yaitu, dengan imajinasi sosiologis – dalam kaitan sosiologi Indonesia – amat diperlukan. Dan karena itu kita boleh mengembangkan aneka metafora – agar lebih kaya, lebih banyak jendela pemahaman – meskipun bukan tidak mungkin usaha itu gagal. Pemahaman keagamaan dari sudut ilmu sosial boleh jadi diharap memberikan nuansa lebih membebaskan. Dan keharusan membuka ruang interpretasi lebih lebar mungkin akan bisa membentuk suatu paradigma tertentu.

Berkat imajinasi sosiologis kita bisa memahami ukhuwah Islamiyah dan pluralitas umat melalui ladang perpolitikan nasional. Ini bukan cuma menegaskan Islam tidak memisahkan agama dan negara, melainkan juga menunjukkan bahwa wilayah agama luas, jauh lebih luas dari wilayah negara. Karena itu menjadi sah juga bila disebutkan bahwa perkara ukhuwah Islamiyah harus dipanggul oleh individu, masyarakat (kelompok-kelompok), dan juga negara. Wallahu A’lam.

———————–

 

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke [email protected]

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account