Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Mbah Wahab dan Pesan Berserikat

Published 12/11/2014 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

kyai wahabOleh: Muhammad Al Fayyadl

Pemerintah Jokowi, melalui Kementerian Sosial pimpinan Khofifah Indar Parawansa, meresmikan nama KH Wahab Chasbullah sebagai seorang pahlawan nasional. Suatu hal yang ditunggu-tunggu sekian lama, mengingat jasa-jasa Mbah Wahab– demikian beliau akrab dipanggil– terhadap bangsa, dan sebagaimana menjadi harapan warga Nahdliyin khususnya pada Haul ke-41 Mbah Wahab di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, September 2014 silam.

Pendiri berbagai organisasi Islam (Sarekat Islam cabang Mekkah), organisasi Islam-nasionalis (Nahdlatul Wathan, Syubbanul Wathan), organisasi intelektual (Tashwirul Afkar), organisasi wirausahawan (Nahdlatut Tujjar), serta komite diplomasi keagamaan (Komite Hijaz, cikal bakal Nahdlatul Ulama), Mbah Wahab tak pelak merupakan salah satu di antara sedikit tokoh Islam yang kiprahnya melampaui batas-batas tradisional seorang kiai. Pergaulannya yang luas membuatnya menjadi seorang ulama yang unik, dengan gesekan-gesekan yang membuatnya bersinggungan langsung dengan dinamika ekonomi-politik dan sosial di tengah masyarakat.

Keberhasilan Mbah Wahab mendirikan berbagai organisasi tersebut bukanlah semata-mata hasil dari kematangan sikap intelektualnya yang terbuka, tapi terlebih merupakan manifestasi dari prinsip organisatoris yang dipegangnya: kesatuan antara ide dan aksi, antara organisasi dan militansi. Beliaulah yang terkenal dengan ucapannya, pada masa-masa pembentukan laskar rakyat-pemuda (Laskar Hizbullah) menghadapi pendudukan Jepang: “Kalau kita mau keras, harus mempunyai keris!”. Gagasan membutuhkan suatu sikap, sikap membutuhkan perangkat, dan perangkat tersebut, bagi Mbah Wahab, mesti merupakan suatu alat di mana gagasan tersebut menemukan cara perwujudannya. Dengan kata lain, bagi Mbah Wahab, ide mestilah “bertangan” dan “berkaki”.

Prinsip tersebut mengantar Mbah Wahab pada pemikiran tentang perlunya berserikat. Berserikat, artinya berkumpul dan menjalin persekutuan di antara berbagai pihak untuk mengambil sikap bersama mengenai suatu pokok tertentu, dan bergerak bersama dalam melangkah menuju tujuan bersama. Dalam pemikiran Mbah Wahab, “berorganisasi” nyaris identik dengan “berserikat”: suatu perkumpulan yang tidak sekadar merupakan wadah bagi suatu keanggotaan atau afiliasi tertentu, tetapi suatu perkumpulan yang memungkinkan orang-orang di dalamnya untuk terlibat aktif mengambil inisiatif, merumuskan visi bersama, bergerak bersama, dan mewujudkan tujuan bersama dengan cara-cara yang demokratis. Dalam pandangan itu, konsepsi perserikatan yang tampaknya dianut oleh Mbah Wahab melampaui konsepsi organisasi yang umum dipahami, karena menggabungkan dua hal yang luput dari organisasi-organisasi dalam pengertian status quo: heterogenitas dan militansi.

Heterogenitas, berarti bahwa berserikat hanya mungkin terbentuk dari pertemuan di antara unsur-unsur yang beragam, dari latar belakang yang beragam, dengan sikap dan bahkan ideologi yang beragam. Hal ini yang memungkinkan Mbah Wahab bergaul dengan luwesnya, tanpa kehilangan pendirian, dengan kalangan nasionalis, ketika kelompok Islam dan kelompok nasionalis sering dibedakan karena orientasi ideologis dan agenda masing-masing. Perkenalannya dengan H.O.S. Tjokroaminoto membawanya membentuk Serikat Islam cabang Mekkah, dan kontak ini terus berlanjut dengan bergabungnya Tjokro ke dalam jajaran penggerak organisasi yang dibangun oleh Mbah Wahab sendiri, Nahdlatul Wathan.

Dengan cara berserikat demikian, Mbah Wahab meretas suatu hubungan asosiatif yang dibangun di atas prinsip egaliter dan pengaburan latar belakang sosial maupun primordial. Suatu prinsip yang mungkin terilhami dari penafsiran Tjokro terhadap syura dalam Islam, yang menghapuskan, menurut Tjokro, “segala perbedaan antara kaoem ‘jang memerintah’ dan kaoem ‘jang diperintah’” (Islam dan Sosialisme), sehingga Wahab muda tanpa canggung duduk dengan senior-seniornya, tanpa memandang apakah mereka datang dari kalangan Islam maupun sekuler.

Tetapi keragaman itu bukan sekadar prinsip bagi pergaulan yang inklusif atau kosmopolit, tetapi merupakan prakondisi dari hal kedua, militansi. Agar perserikatan itu benar-benar menjadi sebuah tindakan berserikat, ia mesti merupakan suatu perkumpulan yang militan dalam memperjuangkan suatu gagasan sampai tuntas dan mewujud dalam kenyataan. Perserikatan mesti pertama-tama merupakan suatu pergerakan, dan bukan sekadar perhimpunan pasif dari para anggotanya. Ia merupakan pergerakan yang menjadikan para anggotanya secara kolektif terlibat sebagai penggerak dan pengkader yang membuka ruang bagi seluas mungkin pihak untuk mewujudkan kepentingan bersama. Dalam konteks kolonial, kepentingan itu adalah pembebasan selekas-lekasnya dari penjajahan. Dalam konteks kapitalisme Hindia-Belanda, kepentingan itu adalah kemandirian ekonomi anak bangsa dari penghisapan kaum penjajah.

Mbah Wahab memang mewujudkan sebagian dari pergerakan yang dirintisnya ke dalam bentuk-bentuk organisasi pengkaderan anti-kolonial yang merentang dari Nahdlatul Wathan sampai Laskar Hizbullah, dari pendidikan pengkaderan intelektual dan kepemudaan sampai pengkaderan paramiliter. Di sisi lain, untuk mengerek roda kemandirian ekonomi, beliau merintis Nahdlatut Tujjar, sebuah organisasi borjuis-kecil yang menjadi wadah berserikat para pedagang dan niagawan menengah-ke bawah dari kalangan santri dan umum, untuk menghilangkan ketergantungan ekonomi kepada penjajah. Tetapi, menjadi impian Mbah Wahab sebenarnya untuk memperluas gagasan perserikatan itu pada ranah di mana sebagian besar warga Nahdliyin sendiri hidup: pertanian dan perburuhan. Dengan kata lain, ranah di mana sebagian besar orang menghabiskan kerjanya secara kolektif. Karena itu, beliau menyeru: “Wahai pemuda tanah air yang cerdik-cendikia! Wahai para ustaz yang mulia! Mengapa engkau sekalian tak mendirikan saja perserikatan kerja? Satu daerah, satu perserikatan yang mandiri”.

(disalin dari situs islambergerak.com)

—

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini, silahkan dikirim ke [email protected]

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account