Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Mari Kembalikan Peran Agama

Published 31/05/2014 7 Min Read
Share
7 Min Read
SHARE
Rabi yahudi muslim nasrani
Paus memeluk seorang Muslim dan Yahudi

Oleh: Ismail Amin, Mahasiswa Al-Mustafa Internasional University

Agama diturunkan Tuhan hakekatnya untuk menghentikan perseteruan yang terjadi antar manusia. Kata agama sendiri berasal dari bahasa Sansakerta yang dibangun dari dua suku kata. “A” yang artinya tidak, dan “Gama” yang artinya kacau. Jadi agama adalah tidak kacau. Agamawan hakikatnya, adalah mereka yang tidak kacau pikiran dan perbuatannya.

Keteraturan dan kecemerlangan pikirannya menghasilkan perbuatan yang menakjubkan dan membuat decak kagum. Yang ada dipikirannya, hanyalah ide-ide perbaikan, dan yang hanya diperbuatnya adalah upaya-upaya mengatasi kekisruhan sosial. Jadi mereka yang kacau dalam berpikir maupun bertindak, pada hakikatnya sedang jauh dari agama.

Diantara peran agama dalam upayanya menghentikan kekacauan adalah mengatur tindakan manusia agar tidak ada satu pihakpun yang memaksakan pemahaman dan kehendak pada pihak lain, yang dapat memicu perpecahan dan silang sengketa. Karenanya seruan agama adalah persatuan dan ukhuwah. Tuhan mengingatkan, manusia adalah umat yang satu, yang berasal dari orangtua yang sama, pembentukannya dari bahan yang sama. Karenanya tidak ada alasan bagi manusia untuk saling berpecah belah satu sama lain, apapun agamanya, apapun bahasa, suku bangsa, warna kulit dan rasnya.

Tuhan juga menyatakan, bahwa Dia bisa saja menjadikan umat manusia menjadi umat yang satu dengan ke-Maha Kuasaan yang Dia punyai, namun ikhtiar untuk bersatu itu Dia serahkan sepenuhnya kepada manusia, untuk Dia ukur, siapa yang lebih cenderung mengikuti panggilan kemanusiaannya, dan siapa yang lebih condong pada ajakan syaitaniyah.

Kalau agama datang untuk menyerukan agar tidak ada yang saling memaksakan pendapat, herannya justru orang-orang yang mengaku paling agamawanlah yang paling sering memaksakan pendapat. Dengan atas nama agama mereka membunuh yang berbeda pendapat. Dengan alasan menjaga kemurnian agama, darah dikucurkan, kepala ditebas, dan harta benda dirampas. Perayaan agama menjadi perayaan atas ternodanya nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian.

Lihat saja bagaimana penganut-penganut agama itu saling bantai. Kristiani membantai muslim. Muslim membom perkampungan Kristiani. Biksu-biksu tidak hanya kuat dalam menghafal kitab-kitab dan merafalkan mantra-mantra namun juga gesit mengejar mereka yang keyakinannya beda.

Mereka yang melek agama, berulang kali menyerukan untuk kembali pada hakekat agama. Untuk menghentikan perseteruan dan lebih mengedepankan penghormatan dan pemuliaan kepada sesama, apapun agamanya.

Tidak ada yang diuntungkan dengan pertumpahan darah, panggilan zaman hari ini adalah menjalin kebersamaan dan persabahatan untuk saling menguntungkan. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan pertumpahan darah, semua mengajak pada kebaikan. Meskipun tidak boleh disama-samakan, agama apapun seyogyanya tetaplah menjadi sumber mata air kebajikan dan kearifan. Karenanya sangat disayangkan, kalau belakangan ini, agama justru dimonopoli oleh mereka yang aktif menebar kebencian dan permusuhan satu sama lain.

Penulis sendiri meyakini, Islam adalah agama yang benar, yang kebenaran itu dibuktikan dengan penghargaan Islam yang besar pada perbedaan keyakinan. Penghormatan setinggi-tingginya pada kebebasan berpendapat, selama pendapat itu tidak menimbulkan kerusakan. Nabi Islam diminta oleh Tuhannya untuk tidak berlaku keras dalam memperkenalkan ajaran-ajarannya. Dalam konsideran agama ini, terpampang jelas prinsip: agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu, tidak ada paksaan dalam agama, mudahkan dan jangan persulit, maafkan semoga mereka mau kembali.

Kalau untuk kaitan dengan agama yang berbeda saja, Islam sedemikian toleran, tentu dengan sesama muslim pun demikian.

Tanda-tanda mereka yang tinggi pemahaman agamanya, adalah tegas kepada orang-orang kafir dan sedemikian lembut dan peyayang kepada sesama muslim. Sayangnya, seruan sejumlah ulama yang lebih mengedepankan ukhuwah dan persatuan ummat diatas masalah-masalah ikhtilaf, diserang sedemikian rupa dengan sebutan-sebutan yang jelek dan melecehkan. Padahal merekalah yang membawa panji Islam yang sebenarnya, panji perdamaian, bukan membebesarkan perbedaan untuk dijadikan alasan agar bisa saling berselisih, membenci dan membunuh satu sama lain.

Tengoklah sejarah. Gelar pendusta justru lebih sering disematkan kepada mereka yang menyerukan kebenaran. Para Anbiyah, ulama-ulama terdahulu, ilmuan-ilmuan yang gigih menyerukan kebenaran sebagai upayanya dalam menyelematkan umat dari kekisruhan sosial justru diserang balik sebagai pendusta, dan tuduhan-tuduhan negatif yang sama sekali tidak berdasar. Sejarah selalu berulang, dan lihat apa yang terjadi hari ini. Luar biasa pelecehan dan penghinaan yang didapat dari mereka yang setia pada kegigihannya menyampaikan yang benar.

Panggilan-panggilan buruk yang dulu getol dilontarkan kaum musyrikin kepada Nabi Saw, justru kali ini dicontoh oleh mereka yang mengaku paling beragama dalam menyikapi kelompok yang mereka tuding sesat hanya karena memilih cara yang berbeda dalam memahami agama. Kalau mau jujur, jika memang sekiranya merekalah yang berada di jalan Nabi, tentulah mereka yang mendapat hinaan dan pelecehan sebagaimana yang dulu didapat Nabi ketika mendakwahkan ajarannya di tengah-tengah masyarakat yang rusak secara sosial. Tentulah mereka pihak yang paling tinggi kesabarannya, yang adi luhung akhlaknya dan besar cintanya pada upaya perbaikan dengan cara-cara yang sehat.

Tapi fakta mewartakan lain. Mereka justru pihak yang paling arogan dalam menentukan siapa yang paling dicintai Tuhan. Mereka pihak yang paling tidak ada kesabarannya dalam menunjuki orang pada hidayah. Mereka tidak segan-segan mengata-ngatai, melukai hati, menyerang fisik bahkan sampai menghilangkan nyawa. Tidak hanya menebar fitnah, merekapun menebar teror dan bom, dan menyebutnya sebagai jihad dalam menegakkan agama.

Mereka justru pihak yang paling getol menebar kebencian dan permusuhan, dengan cara-cara yang tidak sehat. Memfitnah, menjatuhkan kehormatan seorang muslim, menebar berita dusta tentang siapa saja yang memilih berada diluar gerbong mereka. Al-Qur’an mengingatkan kita tentang mereka, bahwa mereka merasa melakukan perbaikan, padahal sesungguhnya mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi. Jangan kagum pada tampilan dan gerak tubuh mereka yang khusyuk, padahal merekalah musuh yang sebenarnya.

Agama yang benar, manhaj yang lurus, dan ibadah yang diterima, adalah yang membuat kita semakin rendah hati, semakin peduli dan menambah kecintaan dan pemuliaan pada sesama. Sementara ibadah yang justru membuat kita semakin arogan dan merasa diri sendiri paling benar, adalah ibadahnya iblis dan para pengikutnya.  Kita tidak hanya diminta mencari agama yang benar, lebih dari itu, kita dituntut untuk mengamalkan agama dengan benar. Semoga kita termasuk berada dalam barisan orang-orang yang melakukan perbaikan, dengan cara yang paling baik.

 

——–

Redaksi menerima sumbangan tulisan untuk rubrik Opini. Silahkan kirimkan ke [email protected]

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account