Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Opini

Gelar Haji dan Kekuasaan

Published 26/11/2017 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Bandung Mawardi*

Sejak ratusan tahun silam, orang-orang Indonesia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Mereka pulang menyandang gelar haji. Orang-orang mulai membuat perubahan sapaan dan penulisan nama demi kepatutan sosial dan imaji kesalehan. Gelar haji tentu memuliakan martabat orang.

Pencantuman gelar haji di depan nama sudah menjadi kelaziman di Indonesia. Di jagat politik, tokoh-tokoh bergelar haji biasa memiliki “kehormatan” tambahan saat bertarung memperebutkan suara dalam pemilihan umum atau bersaing mendapat jabatan bupati, wali kota, gubernur, atau presiden. Gelar itu mempengaruhi kekuasaan, meski tak selalu membuktikan religiositas dalam berpolitik.

Kita patut mengingat kemonceran kaum politikus bergelar haji dalam menggerakkan pembangunan, memberi imaji keislaman bagi rezim Orde Baru. Birokrat dan para politikus berkepentingan memetik faedah dari sebutan atau pencantuman gelar itu. Puncak kebermaknaan gelar haji dan kekuasaan berlangsung di Indonesia setelah kepulangan Soeharto dari Tanah Suci pada 1991. Politik di Indonesia mengalami perubahan simbolis dan aktual. Soeharto pulang tak cuma membawa gelar haji. Anggapan bahwa kebijakan-kebijakan politik Soeharto meminggirkan kepentingan umat Islam di Indonesia selama puluhan tahun mulai dijawab secara simbolis. Soeharto mulai tampil sebagai penguasa dengan gelar dan nama tambahan: Haji Muhammad Soeharto.

Apakah Soeharto mendapat hikmah saat beribadah haji? Kita bisa mencari keterangan di buku Perjalanan Ibadah Haji Pak Harto (1993) terbitan Departemen Agama Republik Indonesia. Buku ini berisi dokumentasi dan biografi Soeharto. Peristiwa penting terjadi pada 22 Juni 1991 saat Raja Fahd bin Abdul Aziz al Saud selaku Penjaga Dua Kota Suci (Khadim al-Haramain asy-Syarifain) memberi surat ke Soeharto berisi pemberian tambahan nama. Raja Fahd mengajukan dua pilihan: Ahmad dan Muhammad. Soeharto memilih Muhammad. Dengan penambahan nama itu, Soeharto mengukuhkan diri sebagai penguasa berwibawa dan saleh.

Soeharto dan ibadah haji berkaitan erat dengan kekuasaan. “Cita-cita dan keinginan pergi haji sebenarnya sudah sejak Pelita I. Saya menunggu kesempatan pada Pelita II, III, IV belum kesampaian juga sehubungan kehadiran saya di Tanah Air sangat diperlukan untuk memimpin pembangunan. Setelah menunggu kesempatan lebih kurang 25 tahun, alhamdulillah pada Pelita V ini, saya dan ibu beserta keluarga dapat menunaikan rukun Islam kelima,” kata Soeharto.

Tapi kekuasaan Soeharto justru berakhir tragis pada 1998. Gelar dan nama tambahan tak bisa melindunginya dari deru reformasi.

Urusan gelar haji mengingatkan kita akan episode pergerakan politik kebangsaan dan kekuasaan kolonial sejak awal abad XX. Gelar haji membuat cemas pemerintah kolonial Belanda. Kita tentu ingat tokoh fenomenal H.O.S. Tjokroaminoto, penggerak Sarekat Islam. Penggunaan gelar haji memang memberi pengaruh besar: mengajak umat Islam melakukan gerakan politik dan agama melawan kolonialisme. Gelar haji mengandung pengakuan kesalehan, otoritas politik, dan derajat sosial-budaya. Kita mengerti ada makna dan efek besar dari pencantuman gelar haji saat gerakan politik dan Islam membesar untuk berhadapan dengan pemerintah kolonial.

Ingatan kita juga bergerak ke Solo pada masa 1910-an ketika Misbach memantik perdebatan politik dan agama. Orang-orang mengenali Haji Misbach sebagai penggerak propaganda Islam dan komunis. Dia adalah tokoh penting, pembuat “onar” dan “ketakutan” bagi penguasa kolonial. Gelar haji menjadi representasi pergumulan ideologi: Islam dan komunis. Publik pun menjuluki pemimpin redaksi terbitan Medan Moeslimin itu sebagai “Haji Merah”.

Haji Misbach adalah fenomena ganjil akibat pertentangan di ranah politik dan agama. Di Solo, ide dan ulahnya sering merepotkan kekuasaan feodal dan kolonial. Di “zaman bergerak”, dia juga bergerak membuat perubahan-perubahan melalui aksi politik dan literasi (Takashi Shiraishi, 1997). Gelar haji mirip oposisi bagi gelar politis raja, bangsawan, dan pejabat kolonial.

Gelar haji pada masa kolonial dan masa Orde Baru tentu berbeda makna dan pengaruhnya bagi kekuasaan. H.O.S. Tjokroaminoto dan Haji Misbach “menggunakan” gelar haji untuk melawan dan meruntuhkan kekuasaan kolonial. Mereka bertaruh ideologi dan kehormatan, berisiko mendapat hukuman penjara atau pembuangan. Bergelar haji justru menguatkan agenda perlawanan atas kekuasaan.

Orde Baru pada episode akhir memunculkan gelar haji sebagai nama tambahan bagi Soeharto saat ia merasa berhasil melaksanakan pembangunan. Tapi Soeharto akhirnya lengser secara tragis. Kita sulit melupakan peristiwa bersejarah 1998, meski kita jarang mengingat makna Haji Muhammad Soeharto. Kita mulai kembali ke sebutan awal: Soeharto. Sekarang, apakah pencantuman gelar haji masih bakal memberi pengaruh besar bagi kekuasaan? (LiputanIslam.com)

 

* Kuncen Bilik Literasi, disalin dari Tempo, 31 Agustus 2017.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Opini

Perang Opini di Dunia, Israel Kalah Telak Melawan Palestina

By Muhammad
Indonesiana

Seruan Jihad Lewat Adzan, Melawan Siapa?

By Fadel
Indonesiana

Kasus Telkomsel dan Hassan Haikal yang Kian Meradang

By Fadel
Analisis

Dari Palestina Hingga Amerika, Kita Harus Membela Hak Semua Orang untuk Bernapas

By Rachel
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account