[Video:] Pidato Lengkap Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi pada Sidang Majelis Umum PBB

0
1114

Teheran, LiputanIslam.com –  Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi telah menyampaikan pidato kenegaraannya dalam konverensi video pada Sidang Majelis Umum PBB ke-76, Selasa 21 September 2021, dengan mengemukakan berbagai isu regional dan internasional serta isu Iran sendiri, terutama permusuhan antara negara ini dan AS.

Berikut ini adalah teks dan video lengkap pidato tersebut;

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta Allah. Shalawat atas Muhammad dan keluarganya yang suci serta para sahabatnya yang mulia.

Tuan Ketua, saya mengucapkan selamat atas keterpilihan Anda sebagai ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-76.

Bapak dan ibu sekalian, Iran adalah negeri kebudayaan dan peradaban, negeri pengetahuan dan spiritual, negeri resistensi dan kemerdekaan. Bangsa Iran adalah bangsa penyembah Tuhan, pecinta tanah air, teguh pada identitas dan berpandangan universal.

Bangsa kami sudah ratusan tahun mempertahankan haknya untuk menentukan nasib dan kemerdekaan, dan negara paling maju  dalam sistem politik berbasis pemilu di Asia Barat (Timteng). Revolusi Islam adalah gerakan besar untuk mewujudkan cita-cita nasional dan Islam bangsa Iran,  termasuk kebebasan, kemerdekaan dan demokrasi agamis.

Sebagai orang yang dipilih oleh bangsa Iran yang besar, saya berbangga mewakili mereka untuk menyampaikan pesan rasionalitas, keadilan dan kebebasan, yang merupakan tiga prinsip dasar bagi kehidupan manusia kontemporer.

Tiga prinsip ini, yang merupakan aspek persamaan semua agama Abrahamik, tak akan mencapai tujuannya tanpa spiritualitas. Kebebasan dan keadilan, dua jargon suci namun teraniaya ini, sangatlah luas dalam penjelasannya, dan amatlah sulit dan rinci dalam pengamalannya.

Kebebasan berarti hak berpikir, mengambil keputusan dan berbuat bagi semua manusia. Perdamaian dan keamanan yang solid terletak pada tegaknya keadilan. Bahkan, tujuan risalah para nabi ilahi ialah agar manusia bangkit menuntut hak dan keadilan.

Meraih keadilan dan kebebasan hanya akan terwujud melalui pemenuhan hak semua bangsa, sedangkan pelanggaran terhadap hak bangsa-bangsa  akan mencelakakan perdamaian dan keamanan dunia sebelum yang lain-lain.

Bapak dan ibu sekalian, pada tahun ini ada dua pemandangan yang mencetak sejarah; Pada 6 Januari Kongres AS mendapat serangan dari rakyat AS; dan pada Agustus orang-orang Afghan terlempar dari pesawat AS. Dari Capitol hingga Kabul, sebuah pesan tersampaikan kepada dunia, yaitu; tatanan hegemonik AS tak berlaku, baik di dalam maupun di luar negeri.

Apa yang terlihat sekarang di kawasan menunjukkan bahwa kekuatan hegemonik dan paham hegemonisme, dan bahkan proyek pemaksaan identas Barat  telah gagal. Hasil dari ambisi hegemonik adalah pertumpahan darah, instabilitas,  dan pada akhirnya kekalahan dan kabur. Sekarang AS bukan keluar dari Irak dan Afghanistan, melainkan dikeluarkan.  

Meski demikian, yang menanggung biaya dari irasionalitas ini adalah bangsa-bangsa teraniaya, dari Palestina dan Suriah hingga Yaman dan Afghanistan, dan di sisi lain juga para pembayar pajak di AS.

Sekarang bagi dunia tidaklah penting apakah “America First” ataukah “America is Back”. Jika rasionalitas ada dalam agenda para pengambil keputusan maka mereka hendaklah mengetahui bangsa resistensi bangsa-bangsa lebih tangguh daripada kekuatan para adidaya.

Kesalahan AS dalam beberapa dekade terakhir ialah alih-alih mengubah gaya hidupnya terhadap dunia, malah mengubah cara perangnya terhadap dunia. Jalan yang salah tak akan membuahkan hasil dengan cara yang berbeda.

Sanksi embargo adalah cara baru perang AS terhadap bangsa-bangsa lain. Sanksi terhadap bangsa Iran dimulai bukan sejak adanya proyek nuklir, dan bahkan mulai revolusi Islam, melainkan sejak tahun 1951, yaitu sejak dimulainya nasionalisasi minyak yang menyebabkan kudeta militer

AS dan Inggris terhadap pemerintahan yang dipilih oleh rakyat Iran. Sanksi, terutama di bidang obat-obatan di masa pandemi Covid-19, adalah kejahatan kemanusiaan.

Dalam Al-Quran Al-Karim disebutkan bahwa salah satu kerakteristik kaum zalim ialah menghancurkan alam dan merusak umat manusia.

Republik Islam Iran mengusulkan bahwa melalui presentasi dua wacana kesehatan dan lingkungan hidup sebagai persoalan kemanusiaan  hendaklah segala bentuk sanksi embargo atau pengacauan terhadap rangkaian pemenuhan keduanya dinyatakan terlarang.

Mewakili rakyat Iran dan jutaan pengungsi yang menjadi tamu negara kami, saya juga mengutuk berlanjutnya sanksi ilegal AS, terutama berkenaan dengan barang-barang kemanusiaan, dan menuntut supaya kejahatan anti kemanusiaan secara terorganisir ini  dicatat sebagai ikon dan realitas AS berkenaan dengan HAM.

Republik Islam Iran semula mengutamakan belanja dan impor vaksin dari pihak-pihak internasional yang kredibel, namun bangsa Iran berhadapan dengan sanksi obat-obatan, dan karena itu kami lantas berpikir untuk memenuhi vaksin melalui jalur produksi dalam negeri.

Di luar bidang sains satelit dan nuklir bertujuan damai, Iran juga merupakan pusat kedokteran di Asia. Para ahli dan ilmuwan kedokteran Iran semisal Ibnu Sina  bersinar cemerlang dalam sejarah umat manusia. Pengetahuan yang berguna bagi umat manusia tak dapat kenakan sanksi.

Kami sendiri telah mampu memroduksi bahan bakar untuk reaktor riset Teheran yang membuat radiofarmasi untuk lebih dari satu juta pasien kanker di Iran.  Kami juga telah membuat kemajuan yang menakjubkan di bidang bioteknologi dan sel induk meski dikenai sanksi.  Sekarang meski dikenai semua sanksi yang menyasar HAM, kami telah menjadi salah satu produsen vaksin COVID-19.

Kerjasama antar negara di bidang kesehatan, khususnya di bidang vaksin, sama saja dengan membantu semangat kemanusiaan  dan kebijakan berbasis ketuhanan-kemanusiaan dalam hubungan internasional.  Covid-19 adalah panggilan untuk menggugah seluruh dunia, mengingatkan kita sekali lagi bahwa keamanan semua manusia saling bergantung.  

Krisis dalam masyarakat manusia seperti kekerasan, kemiskinan, pengangguran, korupsi moral dan ekonomi, runtuhnya fondasi keluarga, perang regional,  terorisme terorganisir, dan krisis lingkungan, semuanya adalah akibat ketidak pedulian kepada prinsip-prinsip rasionalitas, keadilan, dan kebebasan.

Bapak dan Ibu sekalian, pemikiran strategis Republik Islam Iran berakar pada ide-ide pendiri Revolusi Islam, Alm. Imam Khomeini ra serta pada konsep Islam sejati, yaitu Islam rasional, Islam kontemplatif dan intelektual dan Islam murni,  dan telah menghasilkan perlawanan yang sejalan dengan kepentingan nasional negara-negara.

Berbicara tentang hak-hak bangsa-bangsa tanpa membicarakan kewajiban-kewajiban pemerintahnya tak dapat mewujudkan pemenuhan hak-hak mereka, karena kemerdekaan suatu bangsa adalah kebebasannya. Revolusi Islam mendukung kebebasan demikian dan, karenanya, mencegah ekstremisme.

Dan inilah esensi kekuatan sejati Republik Islam Iran, yang bermanfaat bagi semua orang. Revolusi Islam Iran memberi inspirasi, dan kekuatan yang dihasilkan olehnya menciptakan keamanan.

Model pembuatan keamanan Republik Islam Iran didasarkan pada pembentukan mekanisme intra-regional melalui diplomasi yang berporos dan bebas dari campur tangan pihak luar. Sudah menjadi kebijakan kami untuk berusaha menjaga stabilitas dan integritas teritorial semua negara di kawasan.

Jika bukan karena kekuatan dan peran Iran bersama pemerintah dan rakyat Suriah dan Irak serta semua upaya tanpa pamrih dari Syahid Abu Mahdi Al-Muhandis dan Jenderal Qasem Soleimani, niscaya sekarang ISIS sudah menjadi tetangga Mediterania Eropa. Dan, tentu saja, ISIS tidak akan menjadi gelombang ekstremisme terakhir.

Upaya baru untuk memunculkan blok-blok seperti Perang Dingin atau mengisolasi negara-negara merdeka tidak akan membantu tegaknya keamanan manusia.  Perilaku sewenang-wenang bukanlah cara untuk menyelesaikan terorisme karena terorisme berakar pada berbagai krisis seperti identitas dan ekonomi.

Adalah fakta bahwa kehidupan modern menjadi hampa makna dan spiritualitas, dan penyebaran kemiskinan, diskriminasi dan penindasan membantu munculnya terorisme.

Meningkatnya pertumbuhan terorisme pribumi di Barat menjadi saksi atas realitas pahit ini. Yang lebih pahit dari itu adalah penggunaan terorisme  sebagai instrumen kebijakan luar negeri.  Anda tidak dapat memerangi terorisme dengan standar ganda. Anda tak bisa di satu tempat menciptakan kelompok teroris, seperti ISIS, dan mengklaim memeranginya di tempat lain.

Dengan terlebih dahulu bertawajjuh kepada Allah SWT, solusi untuk pertempuran dan konflik di wilayah kami hanya terletak pada satu hal; Menegakkan kehendak bangsa-bangsa atas nasib mereka sendiri dengan mengacu pada hasil pemungutan suara publik.

Tapi agar hal ini terwujud, perlu dipenuhi dua prasyarat dasar: Pertama, menghentikan agresi pihak luar dan pendudukan;  Kedua, kerjasama yang tulus dari pemerintah untuk melawan terorisme.

Kehadiran militer AS di Suriah dan Irak adalah penghalang terbesar bagi tegaknya demokrasi dan kehendak bangsa-bangsa.  Kebebasan tidak termuat dalam ransel tentara asing.

Jika pemerintah inklusif yang memiliki partisipasi efektif segmen etnis tidak tercapai untuk menjalankan Afghanistan, keamanan tidak akan pulih di negara ini.  Dan seperti pekerjaan, paternalisme juga ditakdirkan untuk gagal.

Krisis kemanusiaan di Yaman sangat mengkhawatirkan dan dunia perlu memecah kebisuannya terhadap kejahatan terhadap kemanusiaan.

Solusinya? Penghentian cepat dan tanpa syarat terhadap agresi Yaman, pembukaan saluran untuk memberikan bantuan kemanusiaan,  dan fasilitasi pembicaraan konstruktif antarkelompok Yaman.

Rezim Zionis penjajah Quds adalah penyelenggara terorisme negara terbesar yang agendanya adalah membantai kaum perempuan dan anak kecil di Gaza dan Tepi Barat. Hari ini, blokade total telah mengubah Gaza menjadi penjara terbesar di dunia. Apa yang disebut “Kesepakatan Abad Ini” telah gagal sebagaimana kesepakatan lain yang dipaksakan.

Hanya ada satu solusi: mengadakan referendum dengan partisipasi semua warga Palestina dari semua agama dan etnis termasuk Muslim, Kristen dan Yahudi.  Solusi ini telah dikemukakan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran sekian tahun silam, dan kini terdaftar sebagai salah satu dokumen resmi PBB.

Tuan Ketua, hari ini seluruh dunia termasuk AS sendiri mengakui bahwa proyek anti bangsa Iran, yang diwujudkan dalam bentuk melanggar JCPOA  dan diikuti oleh “tekanan maksimum” serta penarikan sewenang-wenang dari perjanjian yang diakui secara internasional, telah benar-benar gagal.

Namun, kebijakan “penindasan maksimum” tetap berjalan. Kami tidak menginginkan apapun selain apa yang menjadi hak kami.  Kami menuntut penerapan aturan internasional. Semua pihak harus tetap konsisten pada kesepakatan nuklir dan Resolusi PBB dalam praktiknya.

15 laporan yang dirilis oleh IAEA telah membuktikan kepatuhan Iran terhadap komitmennya. Namun, AS belum melaksanakan kewajibannya,  yaitu mencabut sanksi. Itu melanggar perjanjian, menarik diri darinya, dan mengenakan lebih banyak sanksi terhadap bangsa saya.

AS secara keliru mengira itu akan membuat kami putus asa dan hancur, tapi  ketekunan kami telah membuahkan hasil dan akan selalu berhasil, karena perlawanan yang cerdas dan dinamis Republik Islam Iran berpangkal pada rasionalitas strategis kami. Kami tidak percaya kepada janji pemerintah AS.

Kebijakan strategis Republik Islam Iran, sesuai fatwa Pemimpin Besar Revolusi Islam, mengharamkan produksi, pembuatan dan penimbunan senjata nuklir.  Senjata nuklir tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan dan kebijakan pencegahan kami.

Republik Islam Iran menganggap pembicaraan bermanfaat apabila hasil akhirnya adalah pencabutan semua sanksi yang menindas. Sementara secara tegas membela semua hak dan kepentingan rakyatnya, Iran sangat berkeinginan memiliki kerjasama, konvergensi politik  dan ekonomi skala besar dengan seluruh dunia.

Saya mencari interaksi yang efektif dengan semua negara di dunia terutama dengan tetangga kami dan berjabat tangan dengan hangat.

Sebuah era baru telah dimulai.

Republik Islam Iran siap memainkan perannya untuk dunia yang lebih baik, dunia yang penuh dengan rasionalitas, keadilan, kebebasan, moralitas, dan spiritualitas.

Terima kasih sedalam-dalamnya atas perhatian Anda semua. Wassalamualaikum wr. wb.

 

(mm/sahara)

Berita Terkait:

Ketika Raisi Membongkar Hipokritas AS

Pidato untuk PBB, Presiden Iran: Tanpa Jenderal Soleimani, ISIS Sudah Menjadi Tetangga Eropa

 

DISKUSI: