Pidato untuk PBB, Presiden Iran: Tanpa Jenderal Soleimani, ISIS Sudah Menjadi Tetangga Eropa

0
215

Teheran, LiputanIslam.com –  Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi menyebut Israel sebagai organisasi teroris terbesar, dan menyatakan bahwa tanpa perjuangan jenderal legendaris Iran Alm. Qasem Soleimani niscaya kelompok teriris ISIS sudah menjadi jiran Eropa.

Hal itu dinyata Sayid Raisi dalam pidato pada sidang Majelis Umum PBB, Selasa (21/9), di mana dia memaparkan pendirian negaranya terhadap berbagai isu regional dan internasional serta aktivitas nuklir bertujuan damai.

Dia memulai pidatonya dengan memaparkan beberapa karakteristik bangsa Iran, dan kemudian beralih menyebutkan aneka problema global dengan berbagai faktornya.  Dalam konteks ini, dia menilai ambisi otoriter Amerika Serikat (AS) sebagai pemicu banyak problema di berbagai negara dunia, namun ambisi itu sekarang terbukti gagal.

Dia menyebut Iran sebagai korban ambisi AS tersebut di mana blokade AS dengan dalih mencegah aktivitas nuklir Iran bahkan menghalangi hak bangsa negara republik Islam ini untuk mendapat obat-obatan di tengah pandemi Covid-19.

Karena itu, Sayid Raisi menegaskan, “Pertama, blokade obat-obatan dan bantuan kemanusiaan ini harus dianggap sebagai tindakan kriminal. Kedua, kami tidak menuntut lebih dari hak kami dalam perjanjian nuklir.”

Mengenai Israel dia menyebut rezim Zionis penjajah Palestina ini sebagai organisasi teroris terbesar di dunia.

“Entitas (Israel) yang menduduki Quds (Yerussalem) ini merupakan organisasi teroris negara terbesar, yang agendanya adalah membunuhi kaum perempuan dan anak kecil di Gaza dan Tepi Barat. Blokade komprehensif yang ada sekarang telah mengubah Gaza menjadi penjara terbesar di dunia. Penyelesaiannya adalah kembali ke suara semua orang Palestina dalam kerangka referendum secara menyeluruh. Itulah rencana yang telah diumumkan oleh Pemimpin Revolusi Islam sejak sekian tahun silam, dan sekarang rencana Republik Islam ini tercatat sebagai salah satu dokumen resmi PBB,” terang Sayid Raisi.

Mengenai Afghanistan dia mengatakan bahwa keamanan dan kedamaian di negara jiran Iran ini tidak akan pernah pulih selagi pemerintahan yang merepresentasikan semua elemen bangsanya tidak terbentuk.

Presiden Raisi juga memastikan bahwa Iran menjalankan kebijakan menjaga stabilitas dan kedaulatan nasional semua negara di Timur Tengah dan sekitarnya, dan dalam rangka inilah jenderal legendaris Iran yang dibunuh oleh AS pada Januari 2020, Qasem Soleimani, berjuang dengan segenap jiwa dan raga.

“Seandainya Iran tak beperan di sisi pemerintah dan rakyat Suriah dan Irak, dan seandainya Syahid Abu Mahdi Al-Muhandis (tokoh pejuang Irak) dan Jenderal Syahid Haji Qasem Soleimani tak berlaga maka ISIS sekarang sudah menjadi tetangga Eropa dari sisi Laut Mediterania.Tentu, ISIS bukanlah gelombang terakhir radikalisme,” ungkapnya.

Presiden Iran menyinggung faktor-faktor terorisme dengan mengatakan, “Sepak terjang baru untuk membentuk barisan perang dingin atau pengosilasian negara-negara merdeka tidak akan pernah membantu keamanan umat manusia. Perilaku eklektik bukanlah solusi bagi problema terorisme, sebab terorisme mengakar pada berbagai krisis, termasuk krisis identitas dan ekonomi.”

Dia menambahkan, “Kehampaan kehidupan modern dari makna dan spiritualitas, demikian pula merebaknya kemiskinan, diskriminasi dan penindasan, dengan sendirinya menyebabkan kelahiran para teroris. Tumbuh pesatnya terorisme lokal di Barat merupakan bukti kenyataan pahit ini. Dan yang lebih pahit dari itu ialah penggunaan terorisme sebagai alat di ranah politik luar negeri. Terorisme tak dapat dihadapi dengan standar ganda, misalnya dengan menciptakan ISIS di satu tempat, dan memeranginya di tempat lain.” (mm/alalam)

Baca juga:

Jenderal Iran: Terkepung Poros Resistensi, Israel Sadar Tak Mampu Bertahan dalam Perang

Komandan Pasukan Elit Iran Sebut AS Mulai Sekarat

DISKUSI: