Ketika Raisi Membongkar Hipokritas AS

0
506

LiputanIslam.com –Presiden Republik Islam Iran Sayid Ebrahim Raisi akhirnya tampil di forum sidang Majelis Umum PBB, Selasa, 21 September kemarin. Pada akhirnya, Barat yang selama ini menyerang Raisi dengan beragam isu, mau tak mau harus menerima fakta bahwa Raisi adalah seorang presiden sah dari sebuah negara anggota PBB, yang memiliki hak untuk tampil mewakili negaranya dalam forum-forum internasional. Barat dan AS mau tak mau harus menerima fakta bahwa orang yang mereka isukan sebagai “penjagal” itu berpidato di depan podium resmi kenegaraan, dan menyampaikan berbagai pemikirannya sebagai presiden Iran ditujukan kepada masyarakat dunia.

Ada banyak isu yang disampaikan Raisi, yang semuanya, ujung-ujungnya dikaitkan dengan hipokritas AS. Soal nuklir, misalnya. Raisi menyoroti fakta bahwa negaranya dikenai sanksi ekonomi gara-gara aktivitas proyek nuklirnya. Padahal, tak pernah ada bukti bahwa proyek nuklir Iran mengarah kepada pembuatan senjata pembunuh massal. Sementara itu, Israel yang terbukti punya ratusan hulu ledak nuklir didiamkan saja. Bahkan, sebenarnya, justru AS yang terbukti telah menyalahgunakan teknologi nuklir untuk membunuh manusia, yaitu dalam kasus Perang Dunia Pertama dulu. Raisi juga menyoroti tindakan sanksi ekonomi terhadap Iran hingga menghalangi bangsa Iran untuk mendapat obat-obatan di tengah pandemi Covid-19.

Raisi juga mengkritisi persekutuan abadi AS dengan Israel, di mana semua petinggi Gedung Putih selalu menyatakan bahwa segala macam kepentingan Israel menjadi kepentingan AS juga. Dengan prinsip tersebut, AS pada dasarnya menyangkal berbagai slogan-slogan mereka sendiri, khususnya tentang kebebasan dan HAM. Israel selama ini terbukti sebagai rezim pelanggar HAM paling nyata dalam beberapa dekade terakhir ini. Adanya lebih dari 40 rancangan resolusi anti-Israel yang dibawa ke Dewan Keamanan PBB menunjukkan bahwa kejahatan Israel atas kemanusiaan memang sudah di luar batas-batas rasionalitas dan kemanusiaan. Faktanya, tak ada satupun rancangan resolusi itu yang kemudian menjadi resolusi resmi DK PBB, gara-gara diveto secara semena-mena oleh AS. Ketika AS menutup mata terhadap kejahatan-kejahatan Israel, sementara hampir semua negara dunia melihatnya sebagai kejahatan yang sangat nyata, pantaskah AS disebut sebagai pendekar HAM dunia?

Tentu saja, kalau dihubungkan dengan HAM, AS sendiri juga melakukan banyak kejahatan. Entah berapa ratus ribu nyawa warga sipil di Irak dan Afghanistan yang tewas menjadi korban operasi militer AS yang di dua negara yang diduduki secara militer oleh AS tersebut. Penjara Guantanamo dan Abu Ghreib juga menjadi saksi tentang aksi-aksi unlawfull killing atau extrajudicial killing yang dilakukan AS dan menciptakan korban penyiksaan dan tewas. Ribuan tersangka disiksa dan dibunuh tanpa pernah diajukan ke pengadilan.

Kritikan lain yang disampaikan oleh Raisi adalah soal hipokritas AS dalam apa yang dikatakan Washington sebagai program anti terorisme. Raisi menunjukkan bagaimana AS yang mengaku memerangi terorisme, justru adalah pihak yang mensponsori pembentukan organisasi-organisasi teroris semisal Al-Qaeda dan ISIS. ketika ISIS semakin tak terkontrol dan menciptakan bahaya besar bagi dunia, yang justru tampil di garda terdepan dalam memerangi ISIS adalah negara-negara yang menjadi korban dari aksi-aksi terorisme itu. Anehnya, Iran, Irak, dan Suriah yang begitu gigih melawan terorisme, malah dicap sebagai negara pendukung teroris. Alih-alih berterima kasih, AS malah membunuh dua jenderal dari Irak dan Iran yang selama ini menjadi orang yang paling berperan dalam memerangi ISIS. Padahal, menurut Raisi, seandainya Abu Mahdi Al-Muhandis dan Haji Qassem Soleimani tak ada, ISIS sekarang sudah menjadi tetangga Eropa dari sisi Laut Mediterania.

Keberanian dan kepiawaian Raisi dalam menyampaikan kritikan-kritikan tajamnya kepada AS membuka mata rakyat dunia terkait dengan alasan dilancarkannya berbagai character assasination AS selama ini kepada sosok Raisi (yang paling terkenal tentunya adalah sebutan ‘penjagal’ yang tetap disematkan kepada Raisi). Tampaknya, AS dan Barat harus menerima kenyataan bahwa ke depannya, mereka akan menghadapi berbagai kritikan yang disampaikan tanpa rasa takut oleh sosok bernama Ebrahim Raisi. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: